The X Files: I Want to Believe (2008)
104 min|Crime, Drama, Horror, Mystery, Sci-Fi, Thriller|25 Jul 2008
5.9Rating: 5.9 / 10 from 87,573 usersMetascore: 47
Mulder and Scully are called back to duty by the FBI when a former priest claims to be receiving psychic visions pertaining to a kidnapped agent.
Setelah versi layar lebarnya satu dekade silam, The X-Files (1998), Fox Mulder dan Dana Scully kembali beraksi dalam The X File: I Want to Believe. Kali ini sang creator sendiri, yakni Chris Carter yang mengarahkan filmnya. Film seri televisinya sendiri yang sangat populer juga sudah berakhir beberapa tahun silam. Mulder dan Scully masih dibintangi oleh David Duchovny dan Gillian Anderson. Film juga dibintangi oleh bintang-bintang muda seperti, Amanda Peet, Xzibit, serta Billy Connoly.

Dikisahkan Mulder dan Scully kini telah lama pensiun dari FBI. Mereka berdua tinggal serumah dan hidup tenang di sebuah kota kecil. Suatu ketika mereka berdua dimintai tolong oleh FBI untuk mengungkap kasus seorang agen FBI yang hilang secara misterius. Kasus ini juga melibatkan “teman” lama Mulder, Pendeta Joseph, yang memiliki kemampuan supernatural untuk membantu memecahkan kasus tersebut. Sementara Mulder bernostalgia dalam kenangan masa silamnya, Scully yang kini menjadi dokter bedah memiliki masalahnya sendiri dengan salah satu pasiennya yang tengah sekarat. Ketika pihak FBI mulai menyerah, Mulder tetap bersikeras mengungkap kasusnya. Penyelidikan Mulder membawanya ke sebuah sindikat asing yang melakukan uji coba mengerikan pada organ tubuh manusia.

Siapapun yang suka menonton seri televisinya atau film terdahulu pasti berpikir film ini akan lagi melibatkan makhluk asing (alien). Ternyata dugaan kita salah! Satu-satunya benang merah kasus X-File masa lalu hanyalah pada kemampuan supernatural Pendeta Joseph yang mampu berempati dengan para korban. Tidak seperti film pertamanya, ceritanya pun tidak berlebihan dan bahkan bisa dibilang terlalu sederhana seperti film-film seri televisinya. Namun kesederhanaan justru menjadi nilai lebih filmnya. Pencarian serta penyelidikan yang berimbang antara fakta ilmiah dan metafisik menjadi formula cukup efektif untuk melepas rindu para penggemar The X-File. Penulis naskah sepertinya tidak ingin terlalu terjebak dalam masalah lama Mulder (adiknya diculik Alien) namun secara sederhana hanya ingin mengajak para fans The X-File untuk bernostalgia seperti film-film seri televisinya.

Baca Juga  Wall Street: Money Never Sleep, Greed is Good or Family is Good?

Konflik fisiknya juga berimbang dengan konflik batin terutama Scully. Scully yang setelah sekian lama rupanya masih apatis terhadap hal-hal metafisik. Sikap Scully mulai goyah semenjak terlibat dalam kasus ini dan berdampak pada keputusan mediknya terhadap seorang pasiennya. Hal yang juga tentu menarik para penggemar setia film serinya tentulah hubungan asmara antara Mulder dan Scully. Walaupun dalam filmnya dikisahkan hubungan asmara mereka telah lama terjalin namun pada paruh awal film, sineas sepertinya ingin memberi kejutan pada para fansnya dengan tidak memberikan gambaran secara jelas. Terkait ini di akhir filmnya sineas memberi sebuah kejutan kecil yang tentunya dinanti para penggemarnya. Kejutan lainnya adalah munculnya bos Mulder dan Scully sewaktu mereka masih menjadi agen FBI dulu, yakni Skinner, walaupun hanya muncul beberapa saat.

Tidak seperti film pertamanya film ini sama sekali tidak menggunakan efek visual yang spektakuler. Hal ini pasti banyak mengecewakan penonton masa kini. Titik berat memang lebih pada cerita ketimbang adegan aksinya namun hal ini tidak mengurangi unsur ketegangan dalam filmnya. Satu lagi yang cukup unik adalah musik tema khas The X-Filepada end credit yang disajikan lebih nge-“pop” dengan tempo cepat. Secara umum film ini tidak akan menarik bagi penonton masa kini terlebih yang bukan penggemar setia film serinya. Jujur saja, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam film ini. Film ini juga mustahil untuk bisa mengulangi sukses komersil film pertamanya, mungkin akan lain hasilnya jika diproduksi beberapa tahun silam. Namun penggunaan formula cerita lawas, kematangan akting Duchovny dan Anderson (sebagai Mulder dan Scully), serta musik tema yang khas cukup untuk melepas rindu bagi para fans lama The X-File. Satu-satunya yang menganggu mungkin cuma pilihan judul filmnya, “The X-File: I Want to Believe”, setelah sekian lama kapan percayanya?

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Dark Knight
Artikel BerikutnyaThe Mummy: Tomb of the Dragon Emperor
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.