The Zone of Interest (2023)
105 min|Drama, History, War|20 Feb 2024
7.3Rating: 7.3 / 10 from 159,770 usersMetascore: 92
The commandant of Auschwitz and his wife strive to build a dream life for their family in a house next to the camp.

The Zone of Interest adalah film drama sejarah produksi patungan Inggris dan Polandia yang digarap oleh Jonathan Glazer. Glazer kita kenal melalui film-filmnya yang bertema provokatif, seperti Sexy Beast, Birth, hingga Under the Skin. Film berdurasi 105 menit ini telah meraih puluhan penghargaan internasional, termasuk Cannes Film Festival 2023, BAFTA 2024, serta meraih 5 nominasi Oscar, termasuk Best Picture dalam ajang Academy Awards tahun ini. Film ini diadaptasi dari novel bertitel sama (2014) karya Martin Amis dan dibintangi oleh Christian Friedel dan Sandra Hüller. Apakah film berlatar PD II ini memiliki kualitas sepadan dengan prestasinya?

Film berlatar tahun 1943 ini mengisahkan kehidupan Rudolf Höss (Friedel) bersama istrinya Hedwig (Hüller) beserta putra putri mereka yang bertempat tinggal persis di sebelah kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia. Höss adalah kepala kamp konsentrasi tersebut. Sementara rumah mewah yang ditinggalinya adalah impian lamanya bersama sang istri. Kebahagian mereka mulai terusik ketika Rudolf dipindahtugaskan kembali ke Jerman. Sang istri pun meminta agar dirinya dan anak-anaknya tetap bisa tinggal di sana. Di balik tembok rumah keluarga Höss yang nyaman dan mewah, aksi holocoust terhadap ribuan kaum Yahudi menjadi rutinitas kesehariannya.

Premis The Zone of Interest benar-benar mengusik rasa humanis kita. Sepanjang film kita diperlihatkan kehidupan keluarga Höss yang teramat kontras dengan suara-suara menyayat yang terdengar dari kamp sebelah. Di taman rumah mereka yang nan hijau dan penuh warna-warni bunga, keluarga Höss berpesta pora serta bisa terlelap dengan nyaman. Sementara di balik tembok, suara jeritan, tembakan senjata api, hingga perapian (proses kremasi) tak ada henti-hentinya. Tak ada satu pun adegan yang menyajikan secara visual aksi holocaust dari sebelah, selain hanya gambar “blank” berwarna putih dan merah. Sang sineas memang banyak menggunakan elemen sinematik yang eksploratif dan penuh makna sepanjang filmnya.

Baca Juga  Hunter Hunter

Dengan sinematografi yang berkomposisi terukur sepanjang filmnya, shot-shot-nya banyak bermain dengan menggunakan background di kejauhan, melalui atap bangunan Auschwitz hingga asap yang keluar dari cerobong (kremasi). Satu shot close up wajah Rudolf Höss disajikan begitu menyesakkan dengan selipan suara senjata api, jeritan perempuan dan bayi yang amat menyayat, yang akhirnya ditutup dengan transisi white fade dan ditahan selama beberapa saat. Dalam satu momen, sang sineas juga menggunakan teknik “gambar negatif”untuk menunjukkan aksi seorang gadis lokal yang mencari buah untuk membantu para pekerja paksa di Auschwitz. Ini belum terhitung score yang amat mencekam dalam beberapa momennya layaknya kita menonton film horor. Beberapa kali, teknik editing juga digunakan secara brilian untuk memberi komparasi shot yang penuh makna. Puluhan eksplorasi audio-visual digunakan dengan ragam tafsir yang bisa menjadi diskusi panjang yang tak akan ada habisnya.

The Zone of Interest bukan tontonan mudah untuk awam, di luar kisahnya yang provokatif, film ini menggunakan dominasi sisi sinematik yang mengesankan untuk mengirimkan pesannya. Sang sineas melakukan hal yang sama dalam karya film sebelumnya, seperti terlihat dominan melalui film sci-fi Under the Skin. Bagi penonton yang memahami betul bahasa visual, film ini adalah karya masterpiece yang teramat membekas. Kompetitornya di ajang Academy Awards, Past Lives, juga menggunakan formula visual senada, namun Zone of Interest berada di level yang jauh berbeda, serta isu yang lebih sensitif. Kita lihat, nasib film ini di ajang Academy Awards besok.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaKuyang
Artikel BerikutnyaFestival Film Wartawan Indonesia 2024 Siap Dihelat, Pesta Karya dan Kreativitas Sinema Tanah Air
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses