Biografi dan Film-Filmnya

Timothy William Burton lahir pada tanggal 25 Agustus 1958 di Burbank, California, Amerika Serikat. Burton bukanlah seorang bocah yang pintar. Semasa kecil ia banyak menghabiskan waktunya untuk melukis, menggambar, dan menonton film-film klasik. Film horor adalah favoritnya dan aktor spesialis horor, Vincent Price adalah idola beratnya. Setelah lulus sekolah menengah atas di tahun 1976, Burton masuk ke California Institute of the Arts. Institut itu sendiri dibentuk oleh Studio Walt Disney yang memproduksi animator-animator film. Dalam tahun kedua, Burton telah masuk dalam program animasi Disney. Setelah lulus ia telah masuk dalam jajaran animator Disney.

Tercatat proyek pertamanya adalah film animasi panjang The Fox and the Hound. Burton mendapati dirinya sama sekali tidak menikmati profesinya. Ia sama sekali tidak dapat berkreasi. Disney lalu menempatkannya sebagai artis konseptual dimana ia mampu berkreasi dan menciptakan karakter (tokoh) film. Gaya animasi Burton yang unik mendapat perhatian khusus dari dua petinggi Disney. Kesempatan akhirnya datang, Burton diberi bujet untuk memproduksi film animasi pendek berjudul Vincent (1982). Film animasi stop-motion hitam-putih bergaya ekspresionis ini merupakan penghormatannya terhadap idolanya, Vincent Price. Film ini mendapat pujian dari kritikus dan bahkan mendapat penghargaan festival film animasi di beberapa negara.

Sukses Vincent membawa Disney memberinya kesempatan lagi memproduksi kali ini film non animasi pendek hitam putih berjudul Frankenweenie (1984). Film berbujet $1 juta ini merupakan adaptasi lepas dari film horor klasik, Frankenstein. Filmnya berkisah tentang seorang bocah yang menghidupkan anjing kesayangannya yang mati tertabrak. Burton kali ini mulai menggali tema “after life” serta kembali mengadopsi gaya ekspresionis dalam beberapa adegannya. Diluar dugaan setelah rilis film ini, Burton dipecat studio Disney karena dianggap membuang-buang dana serta alasan lainnya karena film ini tidak pantas ditonton anak-anak.

Baca Juga  My Name is Khan, Film Romantis Bernuansa Politis

Nasib buruk Burton rupanya tidak berlangsung lama. Frankenweenie rupanya menarik perhatian salah satu eksekutif Warner Bros. (WB) Film ini kemudian sampai ke tangan Paul Reubens yang sukses dengan acara televisi, The Pee Wee Herman Show. Reubens saat itu berniat membuat film panjang tentang Pee Wee dan merasa Burton adalah orang yang pas untuk menggarapnya. WB akhirnya membiayai seluruh filmnya dan terbukti ternyata mereka tidak salah dan ini merupakan awal kerjasama panjang antara WB dengan Burton.

Pee Wee’s Big Adventure (1985) tercatat merupakan debut film panjang pertama Burton. Filmnya berkisah tentang petualangan seorang pria kekanakan bernama Pee Wee Herman (Paul Reubens) yang mencari sepeda kesayangannya yang hilang. Dengan bujet minim terbukti ia mampu menggarap film ini dengan sentuhan serta imajinasinya yang unik. Untuk pertama kalinya, Burton juga merekrut komposer Danny Elfman yang merupakan awal dari kolaborasi panjang keduanya. Di luar dugaan film ini mendapat pujian dari para kritikus serta sukses besar secara komersil. Sukses ini kelak membawa Burton kembali dipercaya WB untuk menggarap proyek film selanjutnya.

Setelah sukses Pee Wee, Burton mendapat tawaran dari banyak pihak namun ia menolaknya karena naskahnya dianggap tidak sesuai untuk visi uniknya. Selama beberapa tahun ini Burton justru menggarap beberapa episode serial televisi yakni, seri Alfred Hitchcock Presents dan Faerie Tales Theatre. Akhirnya Burton tertarik dengan sebuah naskah unik yang dirasa cocok untuknya yang berjudul Beetlejuice. WB kembali mendukung penuh proyek ini dengan bujet sebesar $13 juta.

1
2
3
4
5
6
Artikel SebelumnyaEd Wood
Artikel BerikutnyaDari Redaksi mOntase
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.