Tim Burton adalah dikenal sebagai salah satu sineas yang memiliki gaya estetik unik diantara sineas-sineas papan atas Hollywood lainnya. Pengaruh gaya ekspresionis Jerman serta film-film horor klasik terasa sangat kental dalam film-filmnya. Pencahayaan cenderung suram dan gelap, serta kontras antara gelap-terang (bayangan). Setting film-film Burton seringkali berwujud tidak lazim, seperti contohnya bangunan dan pepohonan. Nuansa ekspresionis tampak sangat kental dalam film-filmnya seperti Vincent, Batman, Edward Scissorshand, The Nigthmare Before Christmas, Charlie and the Chocolate Factory, hingga Alice in Wonderland.

Pengaruh ekspresionis juga tampak pada tokoh utama atau antagonisnya yang berwujud unik. Mereka seringkali berwajah pucat (putih), berpakaian aneh, dan lazimnya menggunakan warna hitam. Karakter Edward dalam Edward Scissorshand jelas-jelas terpengaruh dari sosok monster dalam film ekspresionis, The Cabinet of Dr Caligari (1919). Satu penghuni kota Halloween dalam The Nightmare Before Christmas adalah sosok-sosok “hantu” yang wujudnya aneh-aneh. Dalam Sleepy Hollow, tokoh antagonis adalah seorang penunggang kuda tanpa kepala. Dalam Charlie and the Chocolate Factory, tokoh utama Willy Wonka yang eksentrik selalu berpakaian aneh, berwajah pucat ditemani para pekerja cebolnya, Oompa-Loompas.

Oleh karena film-film Burton memiliki nilai lebih dalam unsur setting, hal ini amat berpengaruh pada unsur sinematik lainnya terutama editing dan sinematografi. Aspek editing dalam film-film Burton cenderung lambat dan ia seringkali menahan shot-nya agak lama untuk membiarkan penonton menikmati setting-nya yang unik. Dari sisi sinematografi Burton juga seringkali menggunakan long-shot yang memperlihatkan keseluruhan setting baik sebuah kota, desa, atau sebuah ruangan. Hal unik tampak dalam nyaris semua pembuka film-film Burton (opening credit) yang biasanya kamera bergerak melintasi sesuatu atau mengikuti sesuatu, seperti dalam Edwood, Batman, Batman Returns, Sleepy Hollow, dan Charlie and the Chocolate Factory. Dalam Batman, kamera bergerak melintasi sebuah lorong gelap yang ternyata adalah simbol (logo) Batman.

Baca Juga  Ed Wood

Burton juga kerap bekerjasama dengan produser, pemain, serta kru yang sama dalam produksi film-filmnya. Produser Denise Di Novi tercatat memproduseri enam film Burton pada dekade 90-an. Richard D. Zanuck tercatat memproduseri lima film Burton termasuk filmnya yang terakhir, Alice in Wonderland. Dari sisi pemain Jonnhy Depp tercatat tujuh kali bermain dalam film-film Burton diikuti oleh Helena Bonham Carter sebanyak enam kali. Adapun kolaborasi yang paling kuat adalah antara Burton dengan komposer Danny Elfman. Elfman menggarap ilustrasi musik nyaris semua film panjang Burton, kecuali Ed Wood dan Sweeney Todd. Gaya musik Elfman yang khas entah mengapa amat pas dengan cerita dan gaya estetik Burton yang suram.

Burton boleh dibilang adalah sineas yang karirnya penuh dengan keberuntungan. Karirnya berjalan dengan mulus hanya selang beberapa tahun setelah film pertamanya ia telah menjadi anak emas Warner Bros. yang mampu memproduksi film-film unik yang sukses komersil sekaligus kritik. Burton sendiri adalah seorang seniman yang eksentrik. “I’ve always been misrepresented. You know, I could dress in a clown costume and laugh with the happy people but they’d still say I’m a dark personality”. Sekalipun begitu kini ia dikenal sebagai seorang sineas papan atas yang konsisten dengan visi artistiknya yang unik. Sampai kapan pun sepertinya Burton akan terus memproduksi film-film bernuansa “gelap”. Kita tunggu saja film-filmnya.

 

1
2
3
4
5
6
Artikel SebelumnyaEd Wood
Artikel BerikutnyaDari Redaksi mOntase
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.