Apa jadinya ketika seorang penanggung jawab asuransi keselamatan banyak orang saat bencana, terbentur kewajiban lain sebagai ibu untuk dua anaknya. Problematika drama dan bencana semacam ini dikisahkan dalam Tokyo Shaking lewat arahan Olivier Peyon. Dengan genre thriller, ia menulis naskah film ini bersama Cyril Brody. Lagipula Olivier lebih kerap menyutradarai sendiri film-film yang ia tulis selama ini. Mereka sebelumnya juga sudah terlibat sebagai pasangan sutradara dan penulis dalam dokumenter Latifa: A Fighting Heart (2017), serta dua film pendek Claquage après étirements (2002) dan À tes amours (2001). Melalui produksi Les Films du Lendemain serta banyak pihak lainnya, Tokyo Shaking diperani antara lain oleh Karin Viard, Stéphane Bak, Yumi Narita, Philippe Uchan, Charlie Dupont, serta salah satu nama baru, Nola Blossom.

Sebuah perusahaan dengan pegawai berkewarganegaraan Prancis serta karyawan-karyawan Jepang tengah menghadapi suatu penurunan. Salah satu yang paling bertanggung jawab mencari solusinya adalah Alexandra (Viard), dibantu Amani (Stéphane) dan Kimiko (Narita). Ketika situasi kantor sedang sibuk, tiba-tiba terjadi gempa bumi hebat yang bahkan mampu “menggoyangkan” gedung-gedung pencakar langit. Seluruh penghuni gedung lantas semakin tersentak saat mengetahui penyebab gempa dari siaran berita televisi di kantor. Namun di tengah situasi kalut ini, Alex yang amat mengkhawatirkan anak-anaknya dituntut untuk tetap bekerja oleh si bos, Dominique (Philippe). Apa yang mesti diperbuat olehnya?

Tokyo Shaking menjadi drama thriller bencana yang bahkan tak secara langsung memperlihatkan tempat kejadian perkara. Kita hanya mendapat tayangannya saja dalam siaran berita melalui mata Alexandra, tokoh utama Tokyo Shaking. Cara penceritaan Tokyo Shaking diistilahkan sebagai restricted narration. Artinya, sudut pandang penonton hanya dibatasi mengikuti tokoh utama terus-menerus dari awal hingga film usai. Penonton tidak “diizinkan” berpindah fokus ke tokoh lain –meski ia penting—di tempat yang berbeda tanpa tokoh utama di sana. Teknis yang dilakukan pula oleh film-film dengan setting terbatas seperti The Guilty, Desperate Hour, maupun The Outfit. Film-film yang memang punya kecenderungan mengandung ketegangan dan misteri khas thriller.

Walau pada beberapa menit awal, Tokyo Shaking berjalan dengan begitu membosankan. Obrolan dan perdebatan berkaitan dengan pekerjaan Alexandra (Viard), yang memakan durasi awal film cukup panjang. Untungnya, baik Olivier maupun Brody tidak lebih lama lagi mengendap di segmen tersebut dan sesegera mungkin beralih ke “situasi gawat”. Baru selanjutnya kita bisa dengan nyaman menikmati sajian thriller melalui ketegangan dan misterinya. Meski di antara sajian ini pun masih ada bagian-bagian yang banyak mereduksi elemen thriller-nya. Suasana serba kaos (chaos) yang mestinya terasa hebat karena ledakan reaktor nuklir malah tak terlihat di sekitar Alex.

Baca Juga  The Creator

Alexandra memang dibenturkan dengan banyak masalah dari segala sisi, tetapi tidak lebih baik atau (minimal) sama dengan perasaan Alexey (Danila Kozlovskiy) dalam Chernobyl: Abyss (2021), maupun upaya Stian (Henrik Bjelland) dalam The Burning Sea (2021). Padahal ketiganya sama-sama berstatus pegawai yang masih harus bekerja saat keadaan tengah genting dan mewajibkan evakuasi. Mereka pun memiliki status sosial serupa, sebagai orang tua yang ditunggu kepulangannya oleh anak masing-masing. Sayang sekali, ketika tema bencana alam dan setting terbatas tidak terelaborasi dengan matang, solid, dan kompak.

Tokyo Shaking mencoba menyampaikan ironi sosial dalam masyarakat majemuk dengan beragam kewarganegaraan yang dihadapkan pada situasi bencana. Siapa yang akan peduli pada orang lain, dan siapa yang hanya melihat keselamatannya sendiri. Bersama pendekatan berupa penceritaan terbatas yang (seakan) ditujukan untuk mempertebal elemen-elemen thriller (ketegangan dan misteri). Namun, nyatanya eksekusi sineas atas visi tersebut kurang berhasil. Lagipula kita bisa bandingkan dengan film-film sejenis. Kendati demikian, unsur humanisme dalam Tokyo Shaking amat baik dibawakan lewat tindakan-tindakan yang diambil oleh sang tokoh utama. Ketika banyak orang menyandarkan harapan keselamatan mereka kepadamu yang masih harus memikirkan putra dan putrimu, apa yang akan kamu lakukan?

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaWerewolf by Night
Artikel BerikutnyaThe Night Doctor (Festival Sinema Prancis)
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.