Toy Story 3 (2010)
103 min|Animation, Adventure, Comedy|18 Jun 2010
8.3Rating: 8.3 / 10 from 892,138 usersMetascore: 92
The toys are mistakenly delivered to a day-care center instead of the attic right before Andy leaves for college, and it's up to Woody to convince the other toys that they weren't abandoned and to return home.

18 Juni 2010,

Toy Story 3 merupakan sekuel dari dua film animasi 3D yang diproduksi jauh pada dekade lalu yakni, Toy Story (1995) dan Toy Story 2 (1999). Sekuel keduanya kali ini masih melibatkan beberapa bintang besar yang bermain sebelumnya yakni Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, serta nama-nama baru seperti Michael Keaton dan Ned Beatty. Mengikuti tren kini, seri ketiganya ini diproduksi untuk format bioskop 3D.

Belasan tahun berlalu setelah peristiwa Toy Story 2, Andy semakin tumbuh dewasa dan kini ia akan masuk perguruan tinggi. Sudah sejak entah kapan Andy terakhir bermain-main dengan boneka-boneka kesayangannya, Woody (Hanks), Buzz, Jessie (Cussack), serta lainnya. Walau berat hati, Woody dan rekan-rekannya mampu menerima kenyataan bahwa hal ini akan terjadi. Andy harus memilih apakah mainan miliknya akan disumbangkan ke tempat penitipan anak atau ia simpan di loteng? Tanpa sengaja Woody dan rekan-rekannya terbawa ke tempat penitipan anak dan diluar dugaan mereka disambut dengan ramah oleh para boneka dan mainan disana. Woody memilih untuk kembali ke rumah Andy sementara rekan-rekannya memilih untuk tinggal. Sepeninggal Woody, Buzz dan lainnya baru menyadari jika mereka ternyata dipermainkan oleh Lotso, boneka beruang jahat yang mengatur seluruh mainan disana. Woody yang mengetahui rekan-rekannya dalam bahaya berniat mengeluarkan mereka dari sana.

Setelah dua film yang sangat istimewa sebelumnya (Toy Story 1 & 2) kini apa lagi yang bisa ditawarkan seri ketiganya. Apakah melibatkan boneka atau karakter lebih banyak? Atau unsur komedi serta aksi yang lebih banyak? Ataukah kisah yang lebih dramatik? Jawabnya untuk semua adalah ya. Film ketiganya kali ini jauh lebih bervariasi dengan karakter-karakter baru yang unik, lokasi yang lebih banyak, dan tentu kombinasi ini memungkinkan lebih banyak aksi serta komedi yang lebih gila dari sebelumnya. Plot “great escape” kali ini memang bukan hal yang baru tapi bukan masalah. Tema cerita pun kurang lebih masih sama, tentang persahabatan namun yang membedakan dari dua film sebelumnya adalah cerita kali ini cenderung lebih “gelap”. Unsur cerita inilah yang membuat film ini begitu istimewa. Setelah begitu banyak pengalaman baik suka dan duka bersama, apalagi yang tidak bisa mereka hadapi? Hanya satu hal yang belum pernah mereka hadapi bersama… The greatest fear of all…kematian.

Baca Juga  The Boy and the Heron

Berbeda dengan dua film sebelumnya, beberapa karakter lama kini sedikit lebih dominan, seperti Mrs. Potato Head, Barbie, dan tiga alien kecil dari Pizza Planet. Woody dan Buzz masih menjadi bintang utama sementara karakter lainnya relatif berimbang. Sementara tokoh-tokoh eksentrik baru seperti Lotzo dan Ken semakin menambah semarak filmnya. Karakter manusia seperti Andy, ibunya, dan Bonnie juga lebih ditonjolkan dari dua film sebelumnya. Bukan hal mudah bisa mengkombinasikan semua karakter ini dengan begitu pas tanpa ada satu pun karakter yang tenggelam. Kelemahannya, mungkin agak sulit bagi penonton yang belum pernah menonton dua film sebelumnya untuk bisa memahami karakter tiap tokohnya secara mendalam.

Bicara tentang format 3D efeknya hanya lebih terasa pada sekuen aksinya terutama pada sekuen pembuka dan klimaks. Sejak awal pembuka film, sekuen aksinya tercatat jauh lebih seru, heboh, dan bervariasi dari dua film sebelumnya terutama karena lebih banyak tokoh cerita yang terlibat. Tercatat sekuen aksi klimaksnya yang menjadi pamungkas jauh lebih mencekam dan “gelap” dari dua film sebelumnya. Bit scary for a kid, I guess… Namun sehebat-hebatnya semua sekuen aksinya tidak ada yang mampu melawan sekuen penutup filmnya yang begitu manis. Fans sejati dua film sebelumnya pasti akan trenyuh dan menitikkan air mata melihat adegan ini. So so swee

Toy Story 3 bisa jadi merupakan sekuel kedua (seri ketiga) terbaik yang pernah ada. Seri ketiga ini menutup dengan sangat manis seri petualangan panjang Woody dan kawan-kawannya. Mereka bukanlah sekedar boneka atau mainan namun mereka juga adalah refleksi kehidupan kita. Ketiga film ini telah memberi kita sebuah pelajaran panjang tentang persahabatan, setia kawan, loyalitas, toleran, saling membantu dan mengasihi, serta tentu cinta. Masalah apapun pasti bisa kita atasi bersama jika kita memiliki teman-teman sejati. Pada penutup filmnya, setelah menghadapi “kematian”, Woody, Buzz, dan lainnya seolah terlahir kembali menyongsong hidup baru serta petualangan tiada akhir di depan mereka.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaThe Karate Kid
Artikel BerikutnyaKnight & Day, Menjual Aksi dan Pesona Cruise
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.