Toy Story 4 (2019)
100 min|Animation, Adventure, Comedy|21 Jun 2019
7.7Rating: 7.7 / 10 from 280,163 usersMetascore: 84
When a new toy called "Forky" joins Woody and the gang, a road trip alongside old and new friends reveals how big the world can be for a toy.

Toy Story 4 merupakan sekuel dari Toy Story 3 (2010) yang mengawali serinya sejak lebih dari dua dekade lalu melalui Toy Story (1995) dan Toy Story 2 (1999). Semua orang pasti berpikir seri ketiga adalah film penutup, dan siapa sangka sekuelnya diproduksi kembali setelah sekian lama. Apakah ini karena alasan idealisme atau komersialme? Satu hal yang jelas, ketiga seri sebelumnya meraih pendapatan total nyaris US$ 2 miliar! Seri ini adalah mesin pembuat uang yang sangat efektif dengan total bujet produksi hanya US$ 320 juta untuk 3 filmnya. Sekuel ketiga ini, digarap oleh debutan Josh Cooley yang juga ikut menulis naskah Inside Out. Film ini diisi suara oleh para bintang regulernya, yakni Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, Annie Potts, dengan pendatang baru, seperti Tony Hale, Christina Hendricks, hingga Keanu Reeves.

Setelah Andy memberikan semua bonekanya untuk Bonnie, Woody dan kawan-kawannya menjalani kehidupan baru mereka dengan penuh keceriaan. Bonnie yang kini mulai duduk di bangku TK, awalnya merasa malu dengan rekan-rekan barunya. Woody yang masuk dalam tas punggung Bonnie, membantunya dengan memberikan bahan-bahan untuk membuat boneka dalam kelas ketrampilan. Bonnie pun merasa lebih percaya diri ketika ia mampu membuat sebuah boneka dari garpu plastik bernama Forky. Woody pun terkejut ketika Forky ternyata bisa hidup seperti mainan lainnya. Woody mengenalkan Forky pada rekan-rekannya, namun mainan baru ini justru merasa dirinya adalah sampah yang pantas berada di keranjang sampah.

Tak bisa dipercaya, setelah apa yang terjadi dalam tiga seri sebelumnya, para pembuat filmnya ternyata masih mampu membuat kedalaman kisahnya dengan cara yang sangat luar biasa. Mereka, kini semua sudah dewasa, kompak, dan sudah seperti keluarga yang saling membantu sehidup semati lebih dari hubungan persahabatan. Apa lagi yang dibutuhkan Woody, Buzz, dan kawan-kawannya kini? Almost nothing. Kini kisahnya memasuki  teritori langka yang secara cerdas mampu disajikan secara brilian dengan kedalaman tema yang amat dalam.

Sosok Forky yang bermasalah dengan eksistensi dirinya, membuat Woody lebih jauh menyadari bahwa “roh” mainan tercipta dari cinta si pembuatnya. Mainan bukan soal kemasan, materi, atau bentuk, namun bisa terbuat dari apa saja. Hanya Woody yang bisa memahami benar bagaimana hubungan batin antara Forky dan Bonnie. Ini mengapa Woody berusaha mati-matian menjaga Forky, sementara sang mainan justru menganggap eksistensinya dirinya adalah sebuah materi yang tak berguna. Pada akhir film, rekan baru Forky semakin memperdalam perdebatan dengan kata-katanya, “Mengapa saya bisa hidup?”. Oh my.

Pada level dibawahnya, kisahnya tidak lagi bicara soal hubungan persahabatan dan kebahagiaan lahiriah tapi lebih dari itu adalah kebahagiaan batin. Tidak ada keraguan, setelah peristiwa tiga seri sebelumnya, Woody, Buzz, serta lainnya akan mengorbankan apapun untuk rekan-rekan mereka (bahkan sesama mainan lainnya #Gabby Gabby). Mereka akan melakukan apapun untuk menjaga agar mereka tetap bisa bersama. Pada film ini, karakter Bo Peep yang tak muncul di Toy Story 3, kini memainkan peranan penting. Bo mengenalkan Woody pada bentuk kebebasan yang berbeda karena pengalaman hidupnya setelah berpisah dengan Woody sebagai mainan tak bertuan (lost toy), membuatnya memahami dunia luar lebih jauh. Woody yang memang menyukai Bo sejak lama kini harus melakukan pilihan antara kebahagiaan bersama rekan-rekannya atau batinnya? Filmnya mampu memberikan jawaban yang sangat manis dan bijak pada akhir kisahnya.

Baca Juga  Wendy

Di luar pesan terselubungnya, filmnya sendiri memiliki alur kisah yang sangat menarik dengan tempo plot cepat yang berjalan tanpa henti. Plot “aksi penyelamatan” yang menjadi trademark tiga seri sebelumnya, kini dikemas lebih enerjik dan penuh humor dengan tambahan beberapa karakter mainan yang tentu banyak mencuri perhatian penonton, seperti Duke Kaboom, Ducky & Bunny, serta tentu saja Gabby Gabby bersama para bawahannya yang seram. Subplot Gabby (koneksi mainan dengan pemiliknya) walau tak lagi terhitung baru untuk serinya, namun mampu menyajikan satu momen yang amat menyentuh pada penghujung filmnya.

Bicara soal pencapaian visual? Huff.. tak ada komentar. Rasanya film ini adalah pencapaian terbaik film-film produksi Studio Pixar dengan detil gambar yang sangat realistik. Secara visual, adegan-adegan aksinya juga tercatat adalah yang terbaik dibandingkan tiga seri sebelumnya. Beberapa teknik montage yang mengesankan juga digunakan beberapa kali dalam filmnya, seperti pada bagian awal yang menyajikan kilas-balik sejak Woody dan kawan-kawannya bersama Andy hingga Bonnie. Satu teknik montage inovatif dengan teknik “loop” juga digunakan untuk menggambarkan secara visual beberapa ide Ducky & Bunny untuk mencuri kunci lemari. Montage ini adalah satu humor terbaik sepanjang filmnya. Satu lagi yang menjadi catatan adalah sisi musiknya melalui lantunan beberapa nomor Randy Newman yang menjadi ciri khas seri ini.

Toy Story 4 merupakan kelanjutan dari saga, tiga seri sebelumnya yang lagi-lagi memiliki pencapaian visual mengagumkan, penuh aksi, humor, dan drama menyentuh dengan kedalaman cerita serta pesan yang kuat. Kita tidak bicara hanya film ini, namun serinya secara keseluruhan. Seri film ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Menonton seri ini adalah satu petualangan sinematik paling berkesan yang pernah saya rasakan sepanjang hidup. Seri ini adalah untuk pertama kalinya ketika saya masih kuliah menonton film animasi 3D (1995), lalu menonton film 3D (kacamata 3D) pertama (2010) hingga kini, dan uniknya, semuanya saya tonton di bioskop yang sama (Empire Jogja). Seri ini tidak hanya sebagai bukti sejarah perkembangan sinema yang berkembang pesat dari masa ke masa, namun lebih dari itu, mainan-mainan ini telah memberikan pelajaran hidup berharga pada kita untuk memberikan warna pada hidup kita bersama sesama serta bagaimana menjadi manusia yang lebih mulia.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaMendadak Kaya
Artikel BerikutnyaAnna
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.