Transformers: Revenge of the Fallen (2009)

149 min|Action, Adventure, Sci-Fi|24 Jun 2009
6.0Rating: 6.0 / 10 from 428,298 usersMetascore: 35
Sam Witwicky leaves the Autobots behind for a normal life. But when his mind is filled with cryptic symbols, the Decepticons target him and he is dragged back into the Transformers' war.

Satu lagi film sekuel yang dinanti banyak fansnya, Transformers: Revenge of the Fallen akhirnya dirilis. Seperti halnya Transformers (2007), film ini masih digarap sineas kondang, Michael Bay yang kembali berkolaborasi dengan pemain-pemain utamanya seperti, Shia Lebouf dan Megan Fox.

Dua tahun setelah peristiwa di film pertama, Optimus Prime dkk (autobots) terus memburu sisa-sisa robot Decepticon di seluruh penjuru bumi. Di planet lain, pimpinan Decepticon bernama Fallen merencanakan untuk menguasai bumi dengan menggunakan senjata rahasia yang tersimpan pada sebuah lokasi di bumi. Para robot utusan Fallen mengincar sisa-sisa pecahan allspark (film pertama) untuk menghidupkan kembali Megatron. Awalnya, Sam (Lebouf) dan Mikaela (Fox) menjadi incaran karena memiliki salah satu dari pecahan allspark tersebut. Belakangan setelah Sam tanpa sengaja menyentuh pecahan tersebut, tubuhnya ternyata menyimpan rahasia dimana lokasi mesin rahasia tersebut berada. Pihak autobots dengan segala upaya melindungi Sam guna mencegah niat jahat Fallen dan Megatron.

Berbeda dengan seri pertamanya, sekuelnya kali ini didominasi oleh serangkaian sekuen aksi nyaris tanpa henti sejak awal hingga akhir. Plot filmnya singkatnya begini: Sam dkk dikejar-kejar decepticon, pertarungan decepticon versus autobots, Sam dkk dikejar-kejar decepticon, pertarungan decepticon versus autobots, demikian seterusnya sampai filmnya habis. It’s all about action, action, and action… dengan tempo yang cepat! Tidak ada yang salah dengan ini namun kisahnya kali ini terlampau sederhana, terlalu mudah diprediksi, dan terlalu dipaksakan. Sedikit pun tidak ada unsur kejutan cerita. Berbeda dengan seri pertamanya, film ini juga kehilangan sentuhan “humanis”-nya. Terlalu banyak aksi sehingga tidak memberi kita kesempatan untuk larut ke dalam cerita dan karakter-karakternya. Terlalu banyak aksi sehingga kita tidak terlalu peduli dengan siapa yang akan menang dan kalah. Bumbu-bumbu komedi yang sebenarnya mampu menyeimbangkan adegan aksi juga tampak sekali dipaksakan dan lebih tampak seperti tempelan. To be honest, semua unsur plotnya dipaksakan. Singkatnya, film ini adalah sebuah pertunjukan visual maha hebat tanpa memiliki ruh pada kisahnya.

Baca Juga  Memory

Lalu bagaimana sekuen aksinya? Ibarat jika Anda makan makanan enak, awalnya pasti nikmat, namun jika terus menerus sampai seluruh isi perut penuh pun masih dimakan, apa yang terjadi? Anda pasti mual. Sama halnya seperti film ini. Sejak sekuen aksi pembuka (di Shanghai) yang disajikan begitu menawan dan gila-gilaan selanjutnya penonton disuguhi hal yang sama terus-menerus tanpa henti. Robot-robot beraksi dan bertarung dimana-mana, di jalanan, udara, padang-pasir, di laut, angkasa luar, dan lain-lainnya. Jumlah robot pun kali ini sampai puluhan (mungkin ratusan) dari ukuran sebesar kelereng hingga sebesar bangunan berlantai lima. Pokoknya semua serba ada! Adegan-adegan aksi semuanya disajikan begitu realistik dan memesona yang sangat memanjakan mata Anda. Ibaratnya rugi jika Anda sampai berkedip sekali saja. Kembali ke masalah semula, jika semua keindahan ini berlangsung tanpa henti (sekitar 2,5 jam), apa yang terjadi? Setidaknya saya sudah merasa bosan dan capek ketika filmnya baru berjalan separuhnya.

Seperti formula sekuel umumnya, Transformers: Revenge of the Fallen telah menyajikan seperti apa yang diharapkan kebanyakan penontonnya. Robot-robot yang lebih banyak, musuh yang lebih kuat, dan tentu adegan-adegan aksi yang lebih seru. Memang tidak banyak pilihan. Alur cerita film pertamanya memang juga tidak bisa dikatakan lebih baik dari sekuelnya namun Transformers mampu menjaga ritme cerita dengan efektif. Unsur aksi, drama, roman, hingga, komedi semua berjalan natural tanpa terlihat dipaksakan. Ikatan batin antara para robot dengan Sam dan Mikaela terjalin dengan manis sehingga ketika Bumble Bee tertangkap pun kita merasa iba. Dalam film pertama, Megatron digambarkan sebagai sosok yang sangat tangguh dan ditakuti namun dalam sekuelnya ia tampak seperti pecundang. Belum lagi karakter robot “cewek” (mirip T-1000 di T2) yang membuat film ini tampak konyol. Aneh, prototipe ini jelas lebih ampuh dan efektif untuk menyusup. Mengapa tidak dikirim lebih banyak lagi? Kenapa harus susah-susah mencari senjata rahasia? Ah just forget it…

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaDrag Me To Hell
Artikel BerikutnyaIce Age 3
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.