Triple 9 (2016)

115 min|Action, Crime, Drama|26 Feb 2016
6.3Rating: 6.3 / 10 from 76,771 usersMetascore: 52
A gang of criminals and corrupt cops plan the murder of a police officer in order to pull off their biggest heist yet across town.

Genre kriminal sejenis, tentang perampokan bank dan polisi korup sudah terlampau banyak dan Triple 9 mencoba untuk mengkombinasikan hal tersebut melalui multi karakter serta plotnya. Alkisah, sekelompok kriminal pimpinan Michael bersama dua rekan kriminalnya dan dua polisi korup merampok bank bukan untuk merampok uang, namun mengambil kotak brankas yang berisi informasi yang bisa menyudutkan seorang bos mafia Rusia ke penjara. Tugas mereka berhasil, namun diluar dugaan Michael terjebak dalam situasi serba sulit dengan gangster Rusia yang menahan putranya, rekan-rekannya yang sulit terkontrol, serta penyelidikan pihak polisi setempat yang intensif. Michael dan rekan-rekannya dipaksa untuk melakukan lagi satu aksi kriminal dengan mengambil resiko yang lebih jauh dari sebelumnya.

Film ini awalnya memang menjanjikan suatu kisah yang menarik melalui adegan aksi perampokan bank, hingga kejutan ternyata terdapat anggota polisi juga terlibat di dalamnya. Kisahnya menyajikan sebuah multi plot dari berbagai sudut pandang, Mike, lalu dua rekannya kakak beradik Russel dan Gabe, dua polisi korup Marcus dan Franco, istri gembong Rusia, Irina, serta dua detektif, Chris dan Jeffrey. Kisahnya disajikan melompat dari satu karakter ke karakter lain, walau beberapa tokoh tampil dominan. Babak pertama yang demikian atraktif dan cepat berlanjut dengan proses babak kedua yang berjalan lambat dan membosankan. Kisah kembali sedikit hidup ketika memasuki babak ketiga melalui sedikit kejutan (twist) dan ketegangan pada akhir cerita. Film kriminal yang umumnya berakhir konvensional “crime does pay” juga disajikan sama disini. Multi plot dalam film ini sebenarnya bisa menawarkan satu formula kisah yang menarik, namun sayangnya kurang dieksplor untuk bisa memberikan unsur ketegangan yang diharapkan.

Baca Juga  The Batman

Satu hal lagi yang menarik adalah sederetan nama pemain bintangnya, sekalipun tidak bermain dalam level mereka, dengan menampilkan nama-nama, seperti Chiwetel Ejiofor, Casey Affleck, Woody Harrelson, Anthony Mackie, Kate Winslet, hingga Gal Gadot yang hanya tampil sekilas. Ejiofor, Affleck, dan Mackie tercatat adalah yang paling impresif dbandingkan lainnya. Agak aneh, melihat Kate Winslet yang asal Inggris berdialek Rusia sebagai istri gangster Rusia, sekalipun dandanan dan rias diubah sedemikian rupa, namun pesona kriminalnya masih tampak canggung. Sayang sekali, talenta-talenta berkelas macam mereka dikecewakan kisahnya yang dangkal tanpa banyak menguras akting.

Triple 9 mendapat dukungan kuat dari para kastingnya serta sedikit twist di klimaks cerita, namun untuk genre kriminal sejenis tidak menawarkan banyak hal baru. Sejak beberapa dekade silam, genre ini praktis tidak banyak mengalami perkembangan berarti selain hanya beberapa variasi kecil dengan kemasan realistik, sama seperti halnya dengan film ini. Masih kita tunggu, film drama kriminal berkelas tinggi, macam LA Confidential dan Heat. John Hillcoat sebagai sineas juga tidak mengalami perkembangan berarti sejak film gangster-nya, Lawless, yang juga tidak mendapat respon baik dari pasar sekalipun banyak dipuji pengamat.

Watch Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSpider-Man Akhirnya Muncul!
Artikel BerikutnyaComic 8: Casino King Part 2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.