Troll adalah film bencana-monster produksi Norwegia-AS arahan sineas kawakan, Roar Uthaug. Sang sineas seperti kita tahu telah memproduksi film bencana berkualitas, The Wave (2015), serta film populer, Tomb Rider (2018). Film ini dibintangi beberapa pemain lokal, yakni  Ine Marie Wilmann, Kim Falck, Mads Sjøgård Pettersen, Gard B. Eidsvold, Pål Richard Lunderby, dan Eric Vorenholt. Film ini baru saja dirilis platform Netflix pada tanggal 1 Desember 2022. Bermodal sentuhan sang sineas dan film-filmnya, mampukah Troll menawarkan sesuatu yang berbeda?

Sebuah anomali aneh terjadi pada proyek pembangunan terowongan di satu pegunungan di Norwegia, di mana jejak tapak kaki raksasa terlihat di sana. Ahli paleontologi, Nora Tidemann (Wilmann) secara mendadak diundang ke rapat rahasia bersama otoritas tertinggi di Denmark, termasuk perdana menteri dan petinggi militer lainnya. Dalam investigasinya bersama tim militer dan ayahnya, Nora menemukan satu fakta mengejutkan bahwa makhluk raksasa yang hanya ada dalam dongeng ternyata eksis.

Uthaug yang sudah berpengalaman dengan dua film besar sebelum ini, membuat Troll tampak matang secara teknis. Pencapaian efek visual meyakinkan ditambah sisi sinematografi yang kuat membuatnya Troll sama baiknya dengan film-film box-office besar tipikalnya. Aksi-aksinya pun tersaji begitu mengesankan walau kita sudah melihatnya dalam banyak film sejenis, sebut saja Godzilla (beragam versinya), Jurassic Park: The Lost World, hingga King Kong. Sekalipun mencoba mengambil cerita mitos lokal, namun eksekusi adegan aksi-aksinya memang tak lagi baru. Setidaknya, banyak momen aksi menghibur yang ditawarkan.

Kisahnya sendiri sebenarnya memiliki premis menarik, plus isu lingkungan yang menyertainya. Sisi misteri melingkupi plotnya yang bernuansa mistik lokal. Tidak hingga sang raksasa muncul, dan kisahnya pun berjalan ke arah tipikal plot genrenya yang klise. Plot Troll tak ubahnya Godzilla dan film monster lainnya yang isunya berubah menjadi penyelamatan warga kota, dan tentu saja pihak militer yang begitu bersemangat ingin menjajal persenjataan berat mereka. Isu lingkungan lambat laun menghilang sejalan dengan plotnya yang bekerja dengan segala amunisi blockbuster-nya.

Baca Juga  The Purge

Troll memang bukan lagi teritori baru bagi genrenya, namun sentuhan sang sineas kawakan mampu membuahkan sesuatu yang menghibur dalam beberapa momennya. Hanya amat disayangkan, isu dan mitos lokal yang sedemikian kuat tak mampu diolah lebih dalam dan bijak. Medium film telah membuktikan kemampuan menyampaikan pesannya secara efektif untuk berdamai dengan alam. Relasi antara lingkungan, dongeng lokal, versus kapitalisme adalah satu modal besar untuk memberikan solusi yang bijak, sekalipun hanya dibalut melalui film hiburan. Selamat menikmati.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaViolent Night
Artikel BerikutnyaShe Said
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses