TRON: Legacy (2010)
125 min|Action, Adventure, Sci-Fi|17 Dec 2010
6.8Rating: 6.8 / 10 from 354,654 usersMetascore: 49
The son of a virtual world designer goes looking for his father and ends up inside the digital world that his father designed. He meets his father's corrupted creation and a unique ally who was born inside the digital world.

Kevin Flynn (Bridges) adalah seorang ahli komputer ENCOM yang menemukan sebuah teknologi digital mutakhir yang konon mampu merubah kehidupan manusia. Suatu ketika Kevin menghilang tanpa bekas meninggalkan keluarga dan perusahaannya. Dua puluh tahun kemudian, Sam Flynn (Hedlund), putra dari Kevin mendapat petunjuk tentang ayahnya di sebuah tempat permainan lama milik ayahnya. Kevin lalu menemukan ruang rahasia ayahnya dan secara tak sengaja berpindah ke dunia maya, The Grid, yang diciptakan ayahnya. Belum lepas dari kebingungannya, Kevin terlibat dalam sebuah permainan berbahaya yang mengharuskannya berjuang untuk hidup.

Tron: Legacy merupakan sekuel dari film pertamanya, Tron (1982) dan karakter Kevin Flynn pun masih diperankan sama pula oleh Jeff Bridges. Tidak mengherankan jika penonton yang langsung melihat film ini agak bingung dengan kisahnya. Tampak jelas latar belakang cerita ada pada film pertamanya. Lho Tron-nya mana sih? Ini komentar-komentar yang muncul sewaktu menonton. Karakter Tron yang menjadi judul filmnya, hampir tidak pernah muncul dalam filmnya. Inti kisah filmnya sebenarnya sederhana hanya sepertinya istilah-istilah teknis yang sering digunakan dalam film ini membuat kebanyakan penonton bingung. Mengapa bingung, cerita memang bukan keunggulan filmnya namun adalah pencapaian visualnya.

Baca Juga  The Old Guard

Pencapaian tata artistik dan efek visual film ini sungguh-sungguh memesona mata penonton. Setting futuristik plus kostum unik yang demikian gemerlap membuat film ini layak meraih nominasi Oscar untuk tata artistik serta kostum terbaik. Pencapaian efek visualnya (CGI) malah jauh lebih baik dan nyaris belum pernah melihat pencapaian sebaik ini. Coba simak, sekuen duel motor yang begitu seru disajikan sangat-sangat mengagumkan dijamin keindahannya bakal mampu menyilaukan mata kita. Wajah Jeff Brigdes muda (CLU) melalui rekayasa digital juga mampu ditampilkan dengan sangat-sangat meyakinkan. Sangat pantas jika film ini meraih Oscar untuk efek visual terbaik.

Tron: Legacy menawarkan keindahan visual luar biasa hingga mampu menenggelamkan kelemahan kisahnya. Bridges termasuk para pemain mudanya seperti Hedlund (Sam) dan Wilde (Quorra) bermain cukup baik. Satu lagi kekuatan filmnya juga ada pada iringan musik “techno” enerjik yang begitu pas dengan mood filmnya yang dibawakan duo Daft Pank. Diluar dugaan film ini banyak memberi kejutan. Nikmati saja keindahan visualnya tanpa perlu banyak berpikir.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaBuried
Artikel BerikutnyaThe Tourist
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.