Tropic Thunder (2008)

107 min|Action, Comedy, War|13 Aug 2008
7.1Rating: 7.1 / 10 from 482,829 usersMetascore: 71
Through a series of freak occurrences, a group of actors shooting a big-budget war movie are forced to become the soldiers they are portraying.

Tropic Thunder (2008) merupakan film komedi perang arahan, Ben Stiller. Stiller sendiri tidak hanya ikut bermain dalam filmnya namun juga menulis naskahnya. Selain Stiller, sederetan bintang besar juga terlibat antara lain, Robert Downey Jr., Jack Black, Steve Coogan, Nick Nolte, Matthew McConaughey, Brandon T. Jackson, hingga Tom Cruise. Tropic Thunder di Amerika sendiri tercatat sukses luar biasa dan banyak mendapat pujian dari pengamat film.

Film ini berkisah tentang produksi film perang berbujet besar berjudul, Tropic Thunder di wilayah Vietnam. Alkisah sang sineas, Damien Cockburn (Coogan) mengalami kesulitan untuk mengontrol para aktornya yang merupakan bintang-bintang besar masa kini, yakni aktor laga Tugg Speedman (Stiller), aktor komedi Jeff Portnoy (Black), aktor watak pemenang lima Oscar, Kirk Lazarus (Downey Jr.), dan bintang iklan, Alpa Chino (Jackson). Di lain pihak, Damien mendapat tekanan pula dari produsernya Les Grossman (Cruise) untuk segera merampungkan filmnya. Four Leaf (Nolte), penulis buku Tropic Thunder, menyarankan Damien untuk melakukan syuting di tengah rimba sesungguhnya sekaligus untuk melatih mental mereka. Damien lalu membawa para aktornya ke tengah rimba, tanpa disadari para militan lokal mengintai mereka hingga mereka terjebak dalam aksi perang sesungguhnya.

Tropic Thunder merupakan komedi satir yang menggambarkan segala kekonyolan dibalik produksi film Hollywood. Speedman merupakan bintang laga besar namun tidak memiliki bakat akting natural yang karirnya tengah di ujung tanduk. Portnoy merupakan komedian vulgar yang terjerumus obat-obatan. Lazarus adalah aktor watak yang brilyan namun kebablasan, hanya untuk berperan sebagai sersan kulit hitam, ia merubah warna kulitnya melalui operasi. Les Grossman merupakan tipikal produser Hollywood yang memanfaatkan segala situasi untuk meraih profit. Sementara Damien merupakan sineas muda yang tak becus menangani bawahan serta para aktornya, diperlihatkan di awal film ia membuang jutaan dollar secara sia-sia untuk sebuah adegan pemboman besar-besaran. Segala sesuatu tentang Hollywood juga banyak disinggung seperti pemilihan ajang Academy Awards, skandal para bintang, agen, serta lainnya.

Baca Juga  Lift

Bicara unsur komedi pada awal filmnya telah mampu mengocok habis perut penonton melalui serangkaian iklan dan trailer beberapa film. Cukup unik memang, segmen ini diletakkan sebelum cerita filmnya dimulai sehingga seolah-olah seperti trailer film sesungguhnya. Trailer-nya pun seluruhnya dibuat sangat konyol, yakni trailer film fiksi ilmiah, Scorcher VI: Global Meltdown yang dibintangi Tugg Speedman, lalu trailer film komedi super konyol, The Fattiest: Fart II yang seluruh tokohnya dibintangi Jeff Portnoy, serta trailer film drama religi kontroversial, Satan’s Alley yang dibintangi Kirk Lazarus, lengkap dengan embel-embel pemenang piala Crying Monkey Awards pada ajang Beijing Film Festival. Sungguh lucu dan konyol! Segmen ini cukup efektif pula menggambarkan status bintang para pemain yang terlibat dalam cerita filmnya.

Setelah “dihajar habis” di awal film, sungguh diluar dugaan ternyata cuma itu saja. Sepertiga awal film boleh dibilang masih lumayan namun setelahnya tenggelam begitu saja. Nyaris tak ada karakter yang menarik dan unsur komedinya pun kebanyakan hanya aksi slapstick biasa yang kadang mengambil adegan dari film perang populer lainnya. Tak ada yang istimewa! Satu-satunya karakter yang mencuri perhatian hanyalah Kirk Lazarus, aktor australia yang berperan sebagai sersan berkulit hitam, Jack Osiris dengan aksen bicara yang aneh. Robert Downey Jr. sangat baik membawakan perannya ini. Filmnya seolah hidup ketika Kirk berbicara, dan ia pula yang banyak membuat banyolan tentang Hollywood, seperti obrolannya dengan Tugg mengenai “never gone full retarded”. Sementara figur lainnya terlihat konyol hanya karena nama besar mereka dan bukan karena sosok yang mereka perankan. Ketika sang produser Hollywood, Les Grosman (Tom Cruise) berjoget, saya tertawa bukan karena Les Grosman berjoget, namun karena Tom Cruise yang berjoget. That’s it! It’s only a star show!

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaJourney to the Center of the Earth
Artikel BerikutnyaRatatouille
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Mungkin untuk sebagian besar rekan yang saya jumpai setelah menonton film ini bilang cukup lucu tetapi menurut hemat saya tidak ada yang baru di film ini kecuali movie thriller di adegan awal saja yang cukup membuat saya tertawa.tetapi apa boleh buat sebagian penonton bilang lucu semua tergantung dari kita mau melihat dari sudut pandang mana dan bagimana menilai sebuah film,saya pikir penonton yang hanya melihat sebagai hiburan belaka atau pencinta dan pemerhati film akan beda dalam menilainya.salam buat editor

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses