twisters

Twisters adalah sekuel mandiri dari Twister (1996), sebuah film yang menggemakan genre bencana pada masanya. Twisters digarap oleh Lee Isaac Chung yang menggarap film drama imigran berkelas, Minari (2020). Ini jelas menjadi pertanyaan besar, bagaimana ia bisa dibidik menjadi sineas film blockbuster sekelas ini? Film ini dibintangi oleh Daisy Edgar-Jones, Glen Powell, Anthony Ramos, dan David Corenswet. Setelah lebih dari dua dekade dan modal bujet USD 200 juta, mampukah film ini menyaingi kesuksesan film sebelumnya?

Kate (Jones) adalah seorang pakar cuaca yang mengalami trauma berat akibat percobaan ilmiahnya pada satu tornado besar yang menewaskan rekan-rekanya. Lima tahun berlalu, Kate diajak kembali ke lapangan untuk mengejar tornado oleh rekan lamanya, Javi (Ramos) dengan dalih kepentingan ilmiah. Mereka bersaing dengan tim pengejar tornado lain yang dipimpin Tyler (Powell) untuk mengejar sensasi bagi para fans media sosialnya. Dua kelompok ini selalu bersinggungan di lapangan, dan hubungan Kate dan Tyler pun semakin dekat. Kate makin bersimpati dengan Tyler yang ternyata sosoknya, tidak seperti yang ia pikir. Tyler pun berniat membantu Kate untuk menjalankan percobaan lamanya yang secara teori bisa meredakan bencana tornado.

Saya masih ingat ketika menonton Twister di bioskop, tak ada yang peduli dengan kisahnya selain aksi-aksi tornado yang gila-gilaan. Itu adalah kali pertama, kita melihat film bencana tornado yang disajikan begitu nyata. Sebuah pengalaman menonton yang luar biasa sekalipun plotnya tidak memberi sesuatu yang membekas. Motif para pengejar tornado ini sungguh tak bisa dinalar. Apa resikonya setimpal dengan apa yang mereka lakukan? Namun faktanya, orang-orang ini rupanya eksis di kehidupan nyata, walau dalam plotnya bisa jadi banyak dilebihkan.

Lantas bagaimana dengan Twisters? Setelah lebih dari 25 tahun, pencapaian CGI tentu bertambah canggih, dan ini terlihat dalam aksi-aksinya sepanjang film. Dengan gemuruh efek suara, aksi-aksi tornado disajikan lebih heboh dari sebelumnya. Tentu ini yang diharapkan penonton. Twisters rupanya tidak hanya sekadar menawarkan aksi, namun kali ini memiliki tujuan mulia, yakni menghentikan bencana tornado. Ini jelas konyol dan menggelikan, namun anehnya, naskahnya mampu menangani ini dengan wajar tanpa terlihat memaksa. Ini juga tertolong berkat penampilan dua tokoh utamanya yang memikat dan perhatian kita lebih tertuju ke sini ketimbang tornado.

Baca Juga  The Legend of Tarzan

Dengan tanpa banyak eksposisi, sosok Kate dan Tyler memiliki chemistry unik yang membuat mereka bisa tampil “intim” ketika mereka berdua berdekatan. Relasi kedekatan mereka tak bisa diprediksi layaknya tornado. Naskahnya begitu baik dalam mengolah dua sosok ini, dan tentunya tertolong dari penampilan dua pemainnya. Jika ada sosok pemain bintang masa kini yang memiliki karisma kuat, ini semua ada dalam diri Glen Powell. Berbeda dengan Twister, dua peran yang dibintangi Helen Hunt dan Bill Paxton tidak memiliki chemistry kuat layaknya Kate dan Tyler, dan seluruh perhatian tertuju pada Tornado semata. Satu hal yang jelas, Twisters makin menegaskan masa depan yang cerah untuk karir Powell.

Twisters adalah film blockbuster yang dilakukan dengan tepat, melalui aksi-aksi heboh memukau serta dua tokoh utamanya yang tampil menggemaskan. Menonton Twisters, sensasinya sama seperti dulu ketika pertama kali melihat Terminator 2 hingga Jurrasic Park di bioskop. Kala itu, saya tidak peduli dengan plot atau logika yang dibaikan, namun sisi hiburannya sungguh memuaskan batin. Walau berjalannya waktu, dua film ini dianggap merupakan capaian istimewa. Setelah sekian lama, Twisters mengingatkan saya, mengapa sejak awal saya begitu mencintai medium film. Twisters adalah sebuah hiburan sempurna yang menjadi alasan utama mengapa orang menonton film. Selamat menonton!

Note: Menonton ini saya baru paham betul mengapa David Corenswet dipilih menjadi aktor pemeran Superman. Jawabnya adalah karena sang aktor sangat mirip Henry Cavill.

4/5

Twisters adalah film blockbuster yang dilakukan dengan tepat, melalui aksi-aksi heboh memukau serta dua tokoh utamanya yang tampil menggemaskan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaIpar Adalah Maut
Artikel BerikutnyaLonglegs
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.