Ugetsu (1953)
96 min|Drama, Fantasy, War|07 Sep 1954
8.2Rating: 8.2 / 10 from 25,713 usersMetascore: N/A
A tale of ambition, family, love, and war set in the midst of the Japanese Civil Wars of the sixteenth century.

Kalau Anda termasuk orang yang cukup rajin mengikuti daftar film terbaik sepanjang masa baik yang disusun oleh sebuah institusi, majalah atau kritikus film bisa dipastikan Anda akan menemukan film ini. Sebuah majalah film berpengaruh di Inggris, Sight & Sound yang rutin menyusun daftar film terbaiknya setiap 10 tahun sekali telah menempatkan Ugetsu dua kali dalam daftarnya. Ugetsu bisa disebut sebagai film favoritnya kritikus film. Sebut saja beberapa nama seperti Pauline Kael, Roger Ebert, Tony Rayns, Jonathan Rosenbaum dan tidak ketinggalan Godard yang menyebut Kenji Mizoguchi, sebagai The Greatest of Japanese Filmmaker.

Ugetsu berlatar Jepang di abad 16, di masa Jepang sedang mengalami perang saudara. Seperti kebanyakan perang yang terjadi di muka bumi ini, kesusahan dan keuntungan selalu datang beriringan. Kesusahan itu adalah makin langkanya bahan pangan dan keuntungan karena adanya hukum tawar menawar barang. Tema film Jepang paska perang adalah seperti kebanyakan tema film yang muncul dari negera yang kalah perang. Seperti neorealisme di Itali, film Jepang memunculkan tema-tema tentang orang kecil dan kemiskinan. Jenis film seperti ini disebut dengan shomingeki.

Sebelum barat mengenal Mizoguchi, mereka telah lebih dulu menikmati film-film Akira Kurosawa yang form filmnya tidak terlalu berbeda dengan barat, sehingga dengan mudah diterima baik oleh scholar, kritikus maupun penonton awam. Lain hal dengan film-film Mizoguchi yang muncul belakangan yang secara estetika dan gaya sangat berbeda. Tradisionalisme dalam karya Mizoguchi sangat kental. Apa yang dipandang sebagai eksotisme dan sesuatu yang lain menjadi kajian yang menarik bagi kritikus barat. Pengetahuan tentang estetika dan gaya Mizoguchi terus di daur ulang dalam tulisan-tulisan kritikus yang akhirnya menjadikan Mizoguchi sebagai mitos besar yang menyelubungi karya film itu sendiri.

Baca Juga  Himala, Sebuah Keajaiban dari Negeri Seberang

Scroll shot, prinsip one scene equal one cut, master of long shot, adalah menyebut sedikit gaya Mizoguchi yang terlalu sering dibesar-besarkan. Hemat saya semua gaya itu memiliki konteks yang jelas dengan naratifnya. Mengubungkan scroll shot dengan gaya sapuan lukisan Jepang hanyalah usaha pembacaan barat yang bersandar pada eksotisme. Bagi saya opening shot dengan scroll itu adalah bagian dari naratif yang dalam shot berikutnya akan menjadi petunjuk penting bagi penonton.

Perang telah menghadirkan panggung besar kesengsaraan bagi orang-orang biasa. Orang-orang biasa itu adalah keluarga petani macam Genjuro dan Tobei. Untuk menghadirkan panggung besar itu Mizoguchi menggunakan long shot dan untuk tidak membiarkan tokoh-tokohnya off frame, kamera bergerak dinamis untuk menangkap gerak tokohnya dengan tetap menempatkan mereka pada lingkungannya. Lewat pengambilan long take memberikan kedalaman kepada penonton untuk mengamati realitas orang-orang biasa di masa perang. Dengan gaya yang minim manipulasi itu Mizoguchi berhasil menghadirkan apa dan seperti apa tokoh-tokoh itu dan bukannya harapan seharusnya seperti apa mereka. Realitas akibat perang inilah yang ingin dicapai oleh Mizoguchi, yang sayangnya terkuburkan oleh mitos besar itu.

Homer Harianja

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaThe Perverts Guide to Cinema
Artikel BerikutnyaHome, Mengajak Kita untuk Peduli Bumi
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.