21 Bridges (2019)
99 min|Action, Adventure, Crime|22 Nov 2019
6.6Rating: 6.6 / 10 from 74,905 usersMetascore: 51
An embattled NYPD detective is thrust into a citywide manhunt for a pair of cop killers after uncovering a massive and unexpected conspiracy.

21 Bridges adalah film aksi-thriller yang diproduseri sineas kawakan, Russo Bersaudara yang belum lama sukses dengan dua film Avengers terakhir. Dengan bujet USD 33 juta film ini diarahkan oleh sutradara televisi seri Brian Kirk dengan bintang yang tengah naik daun, Chadwick Boseman. Film ini juga didukung beberapa aktor ternama, seperti Sienna Miller, J.K. Simmons, dan Taylor Kitsch. Dengan berbekal nama besar duo produser dan aktor bintang utamanya, mampukah film ini berbicara banyak?

Dua kriminal yang juga mantan militer suatu ketika merampok stok heroin dari sebuah gudang sindikat obat terlarang. Tanpa diduga, mereka terkepung oleh satuan polisi dan membunuh semua polisi yang menghalangi mereka. Jadilah mereka buruan polisi satu kota. Detektif Andre (Boseman) memimpin jalannya perburuan dua buron tersebut. Dalam perkembangan, Andre akhirnya mengetahui keterlibatan komplotan polisi dalam kasus ini yang buktinya ada pada dua buron tersebut. Andre harus menangkap keduanya hidup-hidup sebelum para polisi menghabisi mereka.

Kisah perampok bersenjata, sindikat obat terlarang, polisi korup, polisi jagoan dengan aksi kejar-mengejar plus baku tembak memang bukan hal baru dalam genrenya. Namun, bagaimana film ini dikemas adalah yang menjadi pembeda. Plot filmnya, sejak babak kedua hingga klimaks nyaris tanpa jeda. Kisahnya bergulir cepat mengikuti dua buron dan Andre yang memburu mereka. Ketegangan demi ketegangan dengan sisipan kejutan, tersaji nonstop. Sungguh luar biasa, sang sineas mampu menjaga ketegangan sejak awal hingga akhir. Plotnya memang boleh jadi tak lagi segar, namun proses jalannya alur cerita mampu membuat penonton masuk ikut terlibat langsung dalam perburuan ini. Tak terasa, film ini sudah berakhir.

Baca Juga  Spider-Man: Across the Spider-Verse

Film ini memang banyak mengingatkan pada Die Hard 3 yang nyaris sama kualitasnya. Seperti halnya film tersebut, aksi-aksinya juga tanpa henti dengan berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cepat dengan banyak berlari (on foot). Twist plot-nya di tengah kisahnya juga menjadi titik balik yang membuat kisahnya menarik. Lalu, satu lagi yang mengejutkan adalah ilustrasi musik. Saya merasakan score-nya rada mirip seri Die Hard sehingga membuat nuansa seri ini terasa kental sepanjang filmnya. Seolah saya menonton seri Die Hard ketika menonton film ini dari semua aspeknya, minus John McClane tentunya. Setelah sekian lama, fans Die Hard dijamin bakal sangat puas menikmati film ini.

Layaknya seri Die Hard, 21 Bridges adalah film aksi thriller kriminal dengan plot tanpa henti yang menegangkan sepanjang film, plus penampilan bagus dari para pemainnya. Saya heran, di kota saya, film sebagus ini hanya diputar reguler di satu teater saja. Saya menyesal melewatkan pemutaran midnite film ini minggu lalu. Untuk para fans film aksi, jangan sampai melewatkan film ini sebelum turun tayang di bioskop. Satu hal yang saya pertanyakan adalah judul filmnya. Tak ada unsur jembatan dalam plotnya. Bayangan saya sebelum menonton film ini adalah segmen aksi dari jembatan ke jembatan. Untungnya, saya salah.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaKnives Out
Artikel BerikutnyaJumanji: The Next Level
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.