Mencoba sesekali beranjak dari lingkarannya sendiri, Garin Nugroho kali ini menulis skenario film bergenre drama komedi dengan nuansa satir dan religius, berjudul 99 Nama Cinta. Film ini merupakan debut kerja sama dengan sang sutradara, Danial Rifki, yang jika ditinjau lebih jauh mengenai catatan masing-masing, sama sekali tidak bersinggungan secara genre tersebut. Film produksi MNC Pictures ini dibintangi oleh Acha Septriasa, Deva Mahenra, Ira Wibowo, Donny Damara, Chiki Fawzi, Adinda Thomas, serta standup Komedian, Dzawin Nur Ikram.

Kesuksesan “gosip” sebagai salah satu pendongkrak rating dalam industri pertelevisian memang tidak dapat dipungkiri turut melejitkan nama seorang produser, Talia (Acha Septriasa). Pencapaian karirnya tinggal satu langkah menuju impian terbesarnya, hingga ia dipertemukan dengan seorang ustadz dari sebuah pesantren di Kediri. Kiblat (Deva Mahenra), yang tanpa Talia pahami duduk perkaranya tiba-tiba datang ke kantor dan berniat mengajari Talia mengaji. Pertemuan mereka melahirkan serangkaian rasa penasaran dan pencarian, sampai pada suatu titik muncul seorang pengajar baru dalam bidang kesenian di pesantren, Husna (Chiki Fawzi) di antara Talia dan Kiblat. Sementara Talia dihadapkan pada hal ini, ia pun harus merasakan jatuh-bangun dalam karirnya, mengelola program lain, memenuhi tuntutan pekerjaan, hingga mencari ide-ide kreatif lain untuk mengangkat kembali karirnya tanpa melukai perasaan orang lain.

99 Nama Cinta memanfaatkan kearifan lokal pesantren yang digunakan untuk lokasi syuting, yakni di Kediri. Meski satu-dua hal tetap saja terasa “dipaksakan” untuk memenuhi tuntutan kisah film. Kendati tujuannya baik sebagai upaya untuk mengangkat sisi-sisi yang kurang banyak orang tahu mengenai pesantren, tetap saja ini bukan tindakan bijak. Ada hal-hal yang lebih baik rela ditiadakan, terutama bila tidak ada kaitannya dalam satu segmen, lokasi, motivasi adegan, serta pemain. Satu contohnya, motivasi penggantian acara tampak sekali dipaksakan dan masih bisa secara halus diperkuat oleh dialog-dialog yang lebih efektif.

Konten dalam 99 Nama Cinta memang (tidak diragukan lagi) sarat pesan dan nilai moral keagamaan. Terlebih, penggunaan pesantren dan satu acara dakwah dalam program televisi sebagai dua bagian penting dalam kisahnya. Untuk menunjang semua itu, 99 Nama Cinta pun sengaja memilih latar tempat pesantren asli di kota Kediri yang sudah akrab dikenal dengan pondok pesantrennya. Tentu dengan menghadirkan seluk-beluk dan lokalitas khas pesantren dalam menerapkan praktik-praktik bidang olahraga, ekonomi, bisnis, kesenian, komedi, tempat pembelajaran, dan kedisiplinan.

Baca Juga  Surat Cinta Untuk Kartini

Tidak seperti satu-dua film drama-komedi berbalut sisi religiusitas yang tendensius, film ini menjadi lebih nyaman (dan tidak menyiksa) ditonton, karena kualitas akting dari para pemainnya. Alih-alih memusatkan nilai lebih hanya dari serangkaian pesan moral beragama semata, para pemain dalam 99 Nama Cinta mampu membawakan perannya bersama pesan religius yang hendak disampaikan. Akting Acha Septriasa, Deva Mahendra, didukung oleh dua pemeran lain, Mlenuk (Adinda Thomas) dan Ustadz Bambu (Dzawin Nur). Keempatnya saling mendukung koridor masing-masing. Tidak terkecuali para pemeran lain, Husna, Ibu Talia, Ayah Kiblat, serta salah seorang pegawai hasil didikan Talia, Chandra.

Dalam aspek editing, 99 Nama Cinta memantik ketertarikan dengan pemotongan cepat gambar-gambar close-up yang dinamis, serta beberapa kali memangkas durasi film dengan menunjukkan dua (atau lebih) peristiwa dalam satu waktu secara bergantian. Tentu saja ini cukup efektif untuk menaikkan tensi cerita.

Menonton 99 Nama Cinta mengingatkan pada Wedding Agreement. Film dengan konten serupa (sarat nilai agama) yang rilis pada tahun ini, namun dikemas ringan dan renyah oleh keberadaan sisi komedi. Bedanya, 99 Nama Cinta memiliki porsi komedi lebih banyak ketimbang Wedding Agreement. Film ini pun secara terang-terangan menyindir industri pertelevisian dengan mengomparasikan dua program yang saling bertolak belakang dari beragam sisi. Berkali-kali pula mengulang aspek-aspek share dan rating sebagai tolok ukur kesuksesan sebuah program televisi dengan dalih hiburannya, alih-alih mempertimbangkan pula aspek edukatifnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaDaftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2019: Hilangnya Kategori Pemeran Anak Terbaik, hingga Tahunnya Gina S. Noer
Artikel BerikutnyaFord vs Ferarri
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.