Dramatischsten Momente bei 'Hinter Gittern' (2005)
60 min|Documentary|09 Sep 2005
Rating: Metascore: N/A
Dramatic moments at 'behind bars'.

Black Christmas merupakan film slasher yang merupakan remake lepas dari film berjudul sama yang diproduksi tahun 1974. Tercatat film ini adalah film remake keduanya di mana pertama diproduksi tahun 2006. Film yang diproduseri produser horor kawakan, Jason Blum ini disutradarai oleh sineas independen, Sophia Takal. Sementara film berbujet USD 5 juta ini dibintangi oleh dibintangi oleh Imogen Poots, Cary Elwes, Lily Donoghue, dan Aleyse Shannon.

Alkisah menjelang liburan natal, sesosok misterius membunuh para gadis muda di lingkungan kampus tanpa sebab yang jelas. Di saat bersamaan, Riley dan rekan-rekan satu rumahnya memiliki rencana tersendiri untuk menghabiskan malam natal. Dalam perkembangannya, Riley dan rekan-rekannya diteror sosok bertopeng yang ternyata mengincar nyawa mereka. Tidak hanya berjuang untuk menyelamatkan nyawa mereka, Riley pun juga berusaha untuk mencari penyebab, mengapa mereka berusaha membunuh semua gadis di kampusnya.

Sejak awal, filmnya sudah terasa aneh dan unik. Gaya film horor slasher 1970-an (mirip-mirip seri Hallowen dan Friday the 13th) begitu dominan dalam pengadeganannya. Tak ada jump scare ala “Conjuring”. Semua serba old school dengan dominan tampilan close up dalam nyaris semua pengadeganannya. Semua tampak serba kaku dan klasik, jauh dari gaya film horor masa kini. Bisa jadi ini semua memang tribute untuk film orisinalnya. Tak ada yang salah, hanya pasti terasa aneh bagi penonton milineal.

Bicara estetika adalah murni selera sang sineas, namun sesungguhnya yang menjadi poin terbesar adalah pesannya. Film ini jelas-jelas mengusung tema “woman vs man”  yang disajikan tanpa tedeng aling-aling. Tak ada metafora atau subteks. Semuanya, baik dialog, pengadeganan, aksi, bahkan lirik musik, disajikan gamblang. Ini pun sebenarnya sudah tampak dari teks di awal filmnya. Bagi saya sendiri, semua terasa sedikit berlebihan. Lalu untuk apa, membunuh dan menguasai semua perempuan di bumi agar lantas pria menjadi penguasa dunia? Pada masa 1970-an, isu keseteraan perempuan memang begitu dominan dan penting tapi rasanya tidak lagi untuk sekarang.

Baca Juga  The Curious Case of Benjamin Button

Absurd dan unik, Black Christmas adalah film horor slasher dengan agenda, namun pertanyaannya apakah isu film ini masih relevan dengan situasi sekarang? Jawabnya bisa ya dan tidak, tentu sangat tergantung perspektif. Bicara estetika, film ini memang unik dan berbeda dari film sejenisnya. Dengan naratifnya yang absurd dan pesannya yang telah “usang”, film ini tidak bisa bekerja seperti yang diharapkan genrenya. Jika dikemas menggunakan komedi satir, mungkin saja bisa berbeda.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaRembulan Tenggelam di Wajahmu
Artikel BerikutnyaJeritan Malam
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.