Charlie's Angels (2019)
118 min|Action, Adventure, Comedy|15 Nov 2019
5.0Rating: 5.0 / 10 from 84,057 usersMetascore: 52
When a young systems engineer blows the whistle on a dangerous technology, Charlie's Angels are called into action, putting their lives on the line to protect us all.

Charlie’s Angel seperti kita tahu adalah seri televisi populer pada era 1970-1980-an. Versi layar lebarnya juga pernah dibuat, melalui Charlie’s Angel (2000) dan sekuelnya Charlie’s Angel: Full Throttle (2003). Uniknya, film terbarunya Charlie’s Angels (2019) merupakan kelanjutan dari seri televisi serta pula seri filmnya. Film “sekuel-reboot” bisa jadi adalah istilah yang tepat. Filmnya kali ini, diarahkan sekaligus dimainkan oleh Elizabeth Banks yang seperti kita tahu sukses dengan seri komedi musikal Pitch Perfect. Gadis-gadis Angel diperankan oleh Kristen Stewart, Naomi Scott, serta aktor Inggris Ella Balinska. Aktor-aktor senior yang bermain dalam film ini adalah Patrick Stewart dan Djimon Hounsou.

Sabina dan Jane adalah agen top (angel) yang bekerja dalam agensi swasta milik Charlie Townsend yang kini telah go-international. Para Bosley (semacam pangkat) bekerja sebagai pengawas sekaligus pelindung para angel. Sabina, Jane, dan Bosley kini terlibat dalam satu kasus pelik yang melibatkan seorang ilmuwan muda, Elena, yang menciptakan satu teknologi modern yang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai senjata mematikan.

Sejak trailer-nya, gelagat buruk memang sudah tampak. Dan benar saja, film ini memang adalah salah satu yang terburuk sepanjang tahun ini. Adegan pembukanya, bisa jadi telah kita lihat puluhan kali dalam banyak film dan tak ada yang istimewa di sini. Tak kurang dari 10 menit, alur plot seluruh filmnya, sudah terpampang jelas. Tak sulit untuk melihatnya. Seperti seri sebelumnya, plotnya bergerak sangat cepat dan seringkali melompat dari adegan ke adegan, tanpa banyak penjelasan. Faktanya, saya pun tak begitu peduli dengan plotnya atau bahkan para angels. Konfliknya terasa datar. Tidak ada ancaman serius dan bahaya dari pihak musuh. Tak ada ketegangan. Bahkan menghibur pun tidak.

Baca Juga  The Visit

Bahkan adegan aksinya pun seringkali berlebihan. Baru kali ini saya melihat dalam adegan aksi kejar-mengejar mobil, satu mobil diberondong menggunakan senapan mesin dan di depannya satu angel dengan tenang masih menembakkan senjatanya. Apakah penonton sudah setolol ini? Iya, kita tahu angel tak akan mati, namun setidaknya ancaman dengan taruhan nyawa jangan dibuat layaknya film komedi. Akibat ini, filmnya terlalu flat dan amat melelahkan karena intensitas ketegangannya nol. Film komedi aksi, Spy (2015) yang dibintangi Melissa McCarthy, aksi-aksinya masih terasa lebih menggigit dari ini sekalipun dominan sisi komedinya.

Charlie’s Angels adalah sebuah “sekuel-reboot” yang buruk dari banyak aspeknya dan membuang semua talenta para pemainnya. Sosok perempuan tangguh yang kini tengah populer di industri film AS, mungkin menjadi alasan mengapa film ini diproduksi. Seingat saya, seri televisinya memiliki tone yang lebih serius dari ini (dan seri filmnya sebelumnya), mengapa tidak menggunakan formula yang sama dan tambahkan sisi humanis dari masing-masing sosoknya. Ini rasanya bisa membuat alasan untuk tidak membuat film ini begitu mudah dilupakan. Saya tak tahu, mungkin saja, saya bukan target penonton yang tepat untuk film ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: The Letter
Artikel BerikutnyaDaftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2019: Hilangnya Kategori Pemeran Anak Terbaik, hingga Tahunnya Gina S. Noer
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses