Dark Waters (2019)
126 min|Biography, Drama, History|06 Dec 2019
7.6Rating: 7.6 / 10 from 118,173 usersMetascore: 73
A corporate defense attorney takes on an environmental lawsuit against a chemical company that exposes a lengthy history of pollution.

Tak banyak film bertema lingkungan yang rilis di pasaran beberapa tahun terakhir ini. Dark Waters adalah film drama lingkungan yang didasarkan kisah nyata dan naskahnya bersumber dari artikel “The Lawyer Who Become DuPont’s Worst Nightmare” (2016) yang diterbitkan majalah New York Times. Film yang dibintangi dan diproduseri aktor kenamaan Mark Ruffalo ini, digarap oleh sineas independen, Todd Haynes. Film ini juga dibintangi Anne Hathaway, Tim Robbins, Victor Garber, dan Bill Pulman.

Robert adalah seorang pengacara yang baru saja diangkat sebagai rekanan di firma hukum terbesar di kotanya. Suatu ketika, seorang peternak datang ke kantornya untuk meminta bantuan atas ratusan ternaknya yang mati karena tercemar limbah dari perusahaan kimia terbesar di AS, Dupont. Awalnya, Robert mengacuhkan kasus ini, namun setelah mengecek ke lapangan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri situasi yang terjadi di sana. Dalam penyelidikannya, Robert secara tak terduga menghadapi potensi kasus pencemaran udara dan air terbesar dalam sepanjang sejarah AS yang telah ditutupi oleh perusahaan selama 4 dekade.

Tema lingkungan dan kebohongan publik sejenis di film memang bukan barang baru. The Insider dan Erin Brokovich adalah dua contoh film yang terbaik. Juga, film dokumenter Fahrenheit 11/9 garapan Michael Moore yang mengungkap krisis air di Flint, AS. Dark Waters lebih jauh mencoba mengungkap satu kasus berskala masif yang berpotensi mengancam kesehatan jutaan manusia bahkan hingga kini.

Plotnya dituturkan secara sabar dan perlahan, berawal dari satu kasus kecil yang semakin meluas pengembangan kasusnya. Penyelidikan Robert adalah satu hal yang membuat kisah film ini menarik. Memang sedikit mirip dengan plot Erin Brokovich, walau Erin bergerak lebih dinamis ketimbang film ini. Begitu kasus ini terekspos ke publik, tone plotnya berubah drastis. Kisah berpindah dari penyelidikan ke meja persidangan demi persidangan. Segmen penantian panjang dalam kisahnya juga sekaligus menguji kesabaran penonton dengan durasi total film lebih dari 2 jam. Sekalipun bukan film thriller macam Insider, namun momen demi momen masih bisa kita rasakan tensi dramatiknya.

Baca Juga  Death Race

Tak ada satu pun momen situasi cerah (terik matahari) dalam filmnya. Semuanya serba suram, kelam, dan bersalju. Hal ini berpadu sempurna dengan kisahnya yang memang suram. Dari sisi pemain, sangat menyenangkan melihat Ruffalo kembali bermain kuat dalam film bergenre drama setelah sekian lama bermain menjadi sosok superhero. Jika kita tilik lebih jauh, peran Ruffalo kini pun tak jauh dari peran pahlawan, walau kini ia berada di meja persidangan. Aktris sebesar Anne Hathaway ternyata tak begitu dominan perannya dalam film ini, selain sebagai ibu rumah tangga. Aktor-aktor gaek, Tim Robbins dan Bill Pullman juga tak dominan. Ruffalo memang menjadi magnet terbesar filmnya. Entah, apa penampilannya cukup kuat untuk bersaing dalam Academi Awards tahun depan. Jika ditilik tema filmnya, jawabnya ya.

Dark Waters adalah (sekali lagi) satu bentuk kuat pernyataan medium film terhadap mega korperasi di AS yang semata hanya mencari keuntungan melalui kekebalan hukum dan politiknya, di atas segala problema lingkungan yang mereka hasilkan. Secara seimbang, Dark Waters juga mampu menggambarkan perspektif para korban, dan bahkan beberapa di antaranya bermain dalam film ini. Walau jelas diragukan pencapaian box office-nya, namun Dark Waters tidak diragukan adalah salah satu film penting yang diproduksi pada dekade ini. Medium film adalah satu cara yang efektif untuk menyampaikan semua yang terjadi di sana. “Let the whole world know” ujar Wilbur Tennant, si peternak sapi, korban, dan juga orang yang menjadi penyebab hingga Robert menyelidiki kasus ini.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Good Liar
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Ngelimbang
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses