Doctor Sleep (2019)
151 min|Drama, Fantasy, Horror, Thriller|08 Nov 2019
7.5Rating: 7.5 / 10 from 6,104 usersMetascore: 60
Years following the events of "The Shining," a now-adult Dan Torrance meets a young girl with similar powers as he tries to protect her from a cult known as The True Knot who prey on children with powers to remain immortal.

Setelah nyaris 4 dekade lalu, film horor fenomenal The Shining (1980) karya sineas legendaris Stanley Kubrik dirilis, dan kini penantian panjang telah selesai. Doctor Sleep adalah sekuel dari The Shining yang juga diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen King, ditulis tahun 2013. Doctor Sleep diarahkan oleh Mike Flanagan yang kita tahu gemar memproduksi film-film horor serta fantasi, seperti Oculus, Ouija: Origin of Evils, serta Before I Wake. Film ini dibintangi oleh Ewan MCGregor, Rebecca Ferguson, Kyliegh Curran, serta Cliff Curtis. Mampukan Doctor Sleep melewati bayang-bayang film fenomenal aslinya? Jujur, awalnya saya tak berekspektasi banyak, namun ternyata saya salah besar.

Setelah kejadian empat dekade silam yang begitu traumatik, Danny Torrance yang memang memiliki kemampuan supernatural (diistilahkan the shining), kini mencoba berkompromi dengan situasinya untuk hidup normal. Sementara itu, satu kelompok sesat (iblis) yang dipimpin Rose, berkelana mencari anak yang memiliki the shining untuk diserap energinya agar mereka bisa hidup abadi. Satu aksi jahat mereka diketahui oleh Abra, seorang gadis kecil yang memiliki kemampuan supernatural (shining) besar. Abra ingin menghentikan aksi jahat mereka, namun ia tidak bisa sendirian, dan meminta tolong Danny. Danny pun harus kembali berhadapan dengan masa lalunya untuk membantu Abra.

Wuih! Saya nyaris kehilangan kata-kata setelah selesai menonton film ini. Sebagai fans berat Kubrick, film ini mampu membawa kita bernostalgia ke sebuah petualangan sinematik yang amat luar biasa. Baik kisah maupun elemen sinematiknya adalah sebuah penantian panjang yang terpuaskan. Seolah kita menonton film klasik sang maestro yang dihidupkan kembali.

King menulis kisah sekuelnya ini di era keemasan superhero, dan ia pun memasukkan elemen ini ke dalam novelnya. Superhero? Ya, rasa “superhero” begitu kental dalam filmnya, seolah kita menonton Doctor Strange dengan gaya Kubrick. Sungguh ide yang sangat brilian memasukkan elemen cerita kekinian macam ini dan memadukannya dengan kisah aslinya (The Shining), empat dekade silam. Perpaduan kisahnya sama sekali tidak memaksa dan kisah plot besar (The Shining) masih menjadi inti kisah filmnya. Mungkin, bagi sebagian penonton, plot “superhero” ini bakal terlihat terlalu dicari-cari, namun secara personal, saya sangat menyukai dengan apa yang ditawarkan. Idenya sungguh cemerlang. Hanya saja, kelemahan kisah film ini, jika tidak menonton film pertamanya (The Shining) tentu bakal kehilangan “jiwa” dari kisah film ini.

Baca Juga  How to Train Your Dragon

Bicara elemen sinematiknya, saya kembali kehilangan kata-kata! Mike Flanagan tahu persis bahwa ia berada di bawah bayang-bayang film aslinya dan tentumya sang maestro. Semua fans Kubrick (khususnya kritikus film) akan melakukan komparasi secara sadar. Sang sineas pun, akhirnya memutuskan untuk menggunakan semua elemen sinematik yang sama (Kubrick) dalam semua detil kisah filmnya. Ia tahu betul Kubrik dan semuanya dalam film ini adalah Kubrick. Baik elemen mise_en_scene (setting), komposisi gambar (simetrik), editing (dissolves), suara, musik adalah tribute dari The Shining. Satu segmen bahkan menggunakan shot yang nyaris sama dengan segmen pembuka film klasiknya.

Hal yang lebih ekstrem pernah dilakukan oleh Gus Vant Sant melalui Psycho (1998). Ia bahkan membuat shot per shot sama persis dengan film aslinya yang digarap Alfred Hitchcock. Sebuah eksperimen yang gagal secara kritik dan komersial, namun memberikan satu pernyataan tegas bahwa terkadang, sebuah film memang tidak perlu di-remake karena film aslinya adalah sebuah karya seni sempurna. Mike Flanagan kini mampu menjawabnya dengan cara yang sangat berkelas. Dengan dukungan talenta sang sineas dan para pemainnya, Doctor Sleep adalah film pemuas dahaga bagi penggemar berat Stanley Kubrick melalui segala tribute sinematiknya serta kombinasi brilian kisah klasik dan kekinian.

Satu hal yang sangat menyedihkan, pada hari rilis film ini (6 November 2019), kami juga harus kehilangan mentor dan senior kami, Pak Hartanto, yang juga adalah fans berat Kubrick dan beliau mengoleksi semua filmnya. Beliau pasti akan menyukai film ini. Saya dedikasikan tulisan ini untuk beliau. Selamat jalan Mas Tanto! Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan titip salam untuk sang maestro.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Nyumbang
Artikel BerikutnyaRatu Ilmu Hitam
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.