“You’re landing clearance has been denied”

Beberapa film bencana di pesawat terbang, belakangan memang mampu memberikan tontonan thriller berkualitas baik, sebut saja The Captain, Shadow in the Cloud, serta film unik Blood Red Sky.  Kini, film bertema sama produksi Korea Selatan juga menunjukkan taringnya. Emergency Declaration adalah film bencana yang digarap, ditulis, dan diproduseri oleh Han Jae-rim. Film ini dibintangi sederetan bintang top lokal, sebut saja Song Kang-ho, Lee Byung-hun, Kim Nam-gil, Jeon Do-yeon, dan Kim So-jin. Dengan tren bagus film-film Korea Selatan, mampukah film ini bersaing dengan film-film bencana besar di negeri Paman Sam?

Satu video viral yang isinya berupa ancaman terhadap sebuah pesawat, awalnya dianggap sebagai kelakar oleh pihak berwenang. Namun ketika, satu penerbangan dari Seoul ke Hawaii mengalami satu kejadian penumpang tewas, semua mendadak geger. Seorang teroris menyebarkan satu virus mematikan dalam pesawat. Situasi panik melanda ketika para korban mulai jatuh sakit. Tidak hanya awak dan penumpang di dalam pesawat, semua aparat polisi yang ada di bawah sana, termasuk menteri transportasi berusaha mati-matian untuk mencegah bahaya yang lebih besar jika pesawat tersebut mendarat.

Dari ringkasan plot di atas, sudah tampak premis yang begitu menegangkan. Untuk tema dan genrenya, baru kali ini sebuah film mampu memberikan ketegangan maksimal tanpa henti sejak awal hingga akhir. Durasi film sepanjang 2.5 jam tidak kita rasakan karena ketegangan yang begitu mencekam. Kejutan demi kejutan, datang silih berganti hingga klimaks. Bagi saya, ini untuk pertama kalinya satu tontonan begini panjang mampu membuat kita begitu lama terpaku pada layar bioskop. Untuk genrenya, Emergency Declaration adalah salah satu yang terbaik dalam mengemas sisi ketegangannya.

Baca Juga  Munafik

Satu hal yang jarang kita temui di genrenya adalah skala filmnya yang begitu luas. Kisahnya yang secara bergantian bolak-balik di atas pesawat dan di bawah dengan beragam lokasi, lambat tapi pasti, semakin meluas ke ranah internasional. Jika di film-film besar Hollywood, lazimnya hanya terfokus pada satu ruangan besar dengan layar raksasa yang dihadiri belasan pejabat pengambil keputusan. Emergency Declaration tidak hanya ini. Dengan selipan efektif, seperti pemberitaan live televisi yang ditonton banyak orang, situasi keluarga korban, situasi di bandara, hingga ratusan pendemo membuat situasi genting ini terasa lebih besar (kolosal) dari yang seharusnya.

Plot nonstop yang intens dan mencekam, Emergency Declaration adalah salah satu film bencana pesawat terbaik di genrenya. Satu kunci suksesnya jelas adalah belasan kasting utamanya yang tampil baik dan meyakinkan. Seperti film Korea Selatan kebanyakan, kastingnya nyaris sempurna, walau tiga sosok utamanya, yakni sang sersan polisi (Kang-ho), sang mantan pilot (Byung-hun), dan ibu menteri (Do-yeon) adalah yang paling mencuri perhatian. Emergency Declaration adalah satu contoh bagaimana film bencana bekerja dalam performa terbaiknya dengan mampu menghibur penonton secara maksimal. Selamat menonton.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSayap-Sayap Patah
Artikel BerikutnyaDarlings
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.