Black Beauty (2020)
110 min|Drama, Family|27 Nov 2020
6.4Rating: 6.4 / 10 from 4,331 usersMetascore: 52
A wild horse and a teenage girl forge an unbreakable bond which keeps them connected for a lifetime.

Black Beauty merupakan adaptasi medium film keenam yang diambil dari novel legendaris berjudul sama karya Anna Sewell. Film yang digarap Ashley Avis ini dibintangi pula Mackenzie Foy, Kate Winslet, Clair Forlani, serta Iain Glenn. Tidak berbeda nasibnya dengan film-film yang rilis di era pandemi, Black Beauty akhirnya didistribusikan melalui platform Disney +.

Singkatnya, filmnya mengisahkan suka duka perjalanan hidup seekor kuda bernama Beauty (Winslet) dan kedekatannya dengan seorang gadis muda bernama Jo (Foy). Petualangan hidup Beauty disajikan melalui sudut pandang dan narasi dari sang kuda. Film berdurasi 110 menit ini terasa amat panjang, namun tak membosankan karena visualnya yang menakjubkan dalam tiap momennya.

Jujur saya tak ingat lagi, versi adaptasi ke berapa yang pernah saya tonton. Kisahnya pun bahkan sudah tak membekas di memori sehingga sulit untuk melakukan komparasi dengan adaptasi sebelumnya. Entah apakah remake sebelumnya bertutur sama, namun penuturan kisah film ini memang tergolong unik karena secara konsisten disajikan melalui perspektif sosok sang kuda. Nyaris 80% durasi filmnya berupa outdoor dan sisanya hanya berlokasi di kandang kuda. Kita bahkan tak pernah melihat Jo dan pamannya ketika di dalam rumah. Walau begitu, kisahnya mampu dituturkan runtut dan sederhana tanpa banyak konflik berarti. Hal ini yang mengakibatkan kisahnya terasa datar. Nyaris semua pengadeganannya juga tampak sedikit teatrikal. Bisa jadi dialog yang digunakan memang loyal dengan dialog dalam novelnya. Entahlah.

Baca Juga  Bad Times at the El Royale

Walau begitu, visual yang memesona sepanjang film, khususnya dari sisi sinematografi membuat tiap momen dalam filmnya tersaji dengan cantik dengan tone warna yang lembut pula. Nuansa gambar yang hangat ini amat mendukung kisahnya yang menyentuh. Sosok manusia memang bukan titik beratnya, namun Foy, aktris belia cantik ini mampu membangun chemistry yang cukup dengan sang kuda. Sementara karakter lain, terkecuali sang paman hanya terasa sebagai tempelan. Bumbu roman dan komedi pun hanya berupa selipan kecil yang tak mampu membekas.

Walau sedikit teatrikal dan datar, Black Beauty disajikan dengan visual yang amat cantik dan elegan. Kisah filmnya memang rada mirip dengan War Horse arahan Steven Sipelberg yang jauh berbeda kualitas. Tidak seperti War Horse yang mampu menyajikan realita horor perang di mata sang kuda, Black Beauty serasa berada di alam mimpi yang bermain aman di genrenya. Film ini bukan bicara tentang manusia tapi adalah seekor kuda. Setidaknya, kita bisa mengambil semangat hidup seekor mustang seperti yang dimiliki Beauty.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Beast
Artikel BerikutnyaCall
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.