Skylar Pictures berulah kembali dengan film baru mereka yang berjudul Darah Daging. Kali ini, Skylar mendapuk Sarjono Sutrisno yang biasanya duduk di kursi produser untuk sekaligus menjajal debutnya sebagai sutradara, didampingi penulis naskah setianya, Beby Hasibuan. Film bergenre drama aksi kriminal ini dibintangi oleh Ario Bayu, Donny Alamsyah, Estelle Linden, Karina Suwandhi, Tanta Ginting, serta beberapa wajah baru, Rangga Nattra, Arnold Leonard, dan Cantika Putri Kirana. Dengan dasar cerita yang berasal dari sang sutradara, bagaimana pencapaian Trio Skylar dengan film mereka kali ini?

Lima belas tahun sebelum salah seorang terpidana mati, Salim (Donny Alamsyah) menunggu eksekusi mati yang tinggal beberapa hari, ia melakukan perampokan bersenjata di sebuah bank bersama sahabatnya, Rahmat (Rangga Nattra), kedua saudara Rahmat, Arya (Ario Bayu) dan Fikri (Arnold Leonard), serta seorang pemilik akses senjata, Borne (Tanta Ginting). Himpitan ekonomi yang mereka alami, memaksa ketiganya harus melakukan tindak kriminal tersebut demi memenuhi mahalnya biaya operasi sang Ibu (Karina Suwandhi) dari penyakitnya yang kian parah. Sayangnya, tindakan ini bukannya tanpa risiko sama sekali. Tidak hanya bayang-bayang masa depan mendekam di jeruji besi yang mereka pertaruhkan tapi jauh lebih dari itu.

Salah satu bagian dalam aspek naratif Darah Daging, “logika penceritaan” benar-benar terlalu bodoh di separuh durasi pertama. Seluruh tokoh yang terlibat, baik tokoh utama, pendukung, pembantu, hingga ekstra, benar-benar tampak konyol, lugu, dan buta medan. Mereka melakukan perampokan bersenjata di sebuah bank –yang seolah-olah terencana, tetapi pada praktiknya tidak sama sekali. Kegagalan yang memicu hancurnya rencana mereka, semestinya memiliki solusi tersendiri. Namun alih-alih demikian, segala sesuatu malah jadi rusak dan berantakan. Cerita ini menempatkan sebab-akibatnya menjadi terlalu tidak masuk akal, aneh, konyol, dan tampak bodoh.

Untungnya, masih ditoleransi karena aspek sinematik yang “cukup” berperan sebagai penyeimbang, membuat Darah Daging begitu menggemaskan dan memancing ketidaksabaran hingga separuh penayangannya. Beberapa sisi artistik dibiarkan jujur tanpa rekayasa untuk mendukung latar belakang dan karakteristik dari tokoh-tokohnya. Selain itu, kualitas akting dari para bintangnya begitu kuat untuk membawakan karakteristik masing-masing. Kendati karakteristik tersebut tak jarang pula terasa menyebalkan dan memantik emosi tersendiri. Penggunaan teknis closeup pada sepanjang film, semakin memaksimalkan kekuatan emosi dari personal masing-masing tokoh.

Baca Juga  Surat Cinta untuk Starla

Dimensi waktu Darah Daging sebenarnya didominasi oleh momen-momen yang pendek dan hanya terjadi dalam waktu satu hari. Namun meski demikian, pemanfaatan editing slow motion menjadi efektif sebagai aspek pendukung yang baik untuk memaksimalkan penyampaian emosi dan suasana, baik dari masing-masing tokoh, maupun keseluruhan dunia film ini sendiri. Penonton, mau tidak mau dipaksa untuk memasuki batin tiap-tiap tokoh semakin dalam dan larut. Melalui slow motion ini pula, penonton dibiarkan terlibat dan terus-menerus merasakan emosi yang ada, ditambah personal kuat dari tiap-tiap tokoh itu tadi. Sudah begitu, momen-momen ini berlangsung tanpa jeda sama sekali, hingga semua tindakan dari para tokoh utama terjelaskan dalam babak berikutnya.

Terdapat tiga hal yang dapat dijadikan cara bagi penonton untuk ‘membaca’ Darah Daging, yakni sisi yang terlalu bodoh, lalu detail alasan-alasan dan latar belakang, diakhiri sisi dramatik yang sangat personal. Namun, kendati Darah Daging berdiri dengan sederet potensi tersebut, sayangnya beberapa hal sudah kadung menjadi batu pengganjal yang “benar-benar berat dan merusak”film ini. Di antaranya, yakni kekacauan logika penceritaan, situasi yang tidak masuk akal, serta satu adegan penutup yang tidak memiliki fungsi sama sekali karena terlalu panjang dan semakin terasa lama karena masih ditambah dengan slow motion yang berlebihan, serta diisi oleh adegan yang monoton. Sebuah adegan penutup justru melukai pencapaian film ini pada sepanjang babak akhirnya. Motivasi keberadaannya menjadi tidak jelas, karena fungsi yang sudah terpenuhi di bagian lain sebelumnya. Bukannya menambah emosi agar lebih intim, justru sangat menjatuhkan upaya-upaya yang telah dibangun sejak awal film.

PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaJumanji: The Next Level
Artikel BerikutnyaEGGNOID: Cinta & Portal Waktu
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.