Ford v Ferrari (2019)
152 min|Action, Biography, Drama|15 Nov 2019
8.1Rating: 8.1 / 10 from 553,839 usersMetascore: 81
American car designer Carroll Shelby and driver Ken Miles battle corporate interference and the laws of physics to build a revolutionary race car for Ford in order to defeat Ferrari at the 24 Hours of Le Mans in 1966.

Ford vs Ferarri adalah film drama olahraga yang diarahkan oleh sineas kawakan, James Mangold (3:10 to Yuma, Walk The Line, The Wolverine, serta Logan). Naskahnya ditulis oleh dua bersaudara, Jez dan John Henry Butterworth serta Jason Keller. Film yang juga berjudul Le Mans ’66 di Inggris ini, dibintangi oleh nama-nama top, seperti Matt Damon, Christian Bale, Caitriona Balfe, John Bernthal, serta Josh Lucas. Film berbujet nyaris USD 100 juta ini dirilis di beberapa festival film besar sebelum rilis resmi secara luas, dan hasilnya mendapat pujian banyak kritikus.

Plot filmnya terpusat pada dua sosok utama, mantan pembalap serta mekanik, Carroll Shelby dan Ken Miles. Shelby direkrut oleh perusahaan mobil raksasa AS, Ford, untuk membuat mobil balap yang bisa menaikkan pamor mereka di arena balap. Lomba balap Le Mans dan mengalahkan Ferarri adalah yang menjadi target mereka. Dalam prosesnya, musuh Shelby dan Miles sebenarnya adalah bukan Ferarri, namun adalah para eksekutif Ford sendiri.

Seperti lazimnya genrenya, plot film Ford vs Ferarri juga terfokus pada perjuangan tokoh-tokoh utamanya untuk bisa meraih kemenangan. Namun, intrik manuver politik perusaahaan dalam proses lomba juga menjadi sisi lain yang membuat film ini menjadi menarik. Carroll dan Miles adalah dua sosok yang memiliki passion terhadap balap dan mekanik. Sementara perusahaan hanya tertarik pada pencitraan dan profit. Perseteruan inilah yang menjadikan filmnya memiliki nilai lebih. Klimaks balap yang begitu panjang dan melelahkan, tidak terfokus pada aksi dan ketegangan lomba, namun justru pada permainan politik di level atas.

Baca Juga  Love and Monsters

Damon dan Bale, khususnya Bale, bermain sangat istimewa. Bale bisa memperlihatkan sosok yang sama sekali berbeda dengan sosok yang biasa ia perankan, sebut saja Bruce Wayne. Bale mengingatkan perannya dalam The Fighter, dengan logat Inggris kental dan gesturnya yang khas, ia bermain brilian sebagai Ken Miles. Nominasi Oscar untuk aktor terbaik jelas tak sulit diraihnya. Sang istri yang diperankan Balfe, juga sedikit mencuri perhatian, dan bisa saja membuat kejutan di ajang Academy Awards tahun depan. Sementara Damon, bermain baik pula, namun ia pernah berperan lebih baik dari ini.

Namanya juga film olahraga tentu tak luput dari segmen lomba balapnya. Walau tak memiliki intensitas ketegangan yang tinggi, namun harus diakui, tata sinematografinya bekerja dengan sangat menawan sehingga aksi lomba terasa nyata. Sayangnya, fokus kisahnya bukan pada lomba. Saya sebenarnya, ingin lebih banyak lagi melihat aksi-aksi balap dengan sajian shot-shot yang indah ini. CGI jelas turut andil dalam banyak sajian visualnya yang sama sekali tak buruk. Film yang mengambil lokasi cerita tahun 1960-an, juga mampu disajikan secara efektif untuk mengakali setting eksterior maupun propertinya.

Penampilan dua bintangnya serta aksi balapan dalam Ford vs Ferarri jelas menjadi pusat perhatian, namun adalah ketamakan sebuah korperasi menjadi value terbesar filmnya. Judul filmnya rasanya kurang pas dengan kisah filmnya karena sebenarya persaingan dengan Ferarri hanya tempelan saja saja. Le Mans ’66 rasanya bukan pula judul yang tepat, walau sedikit lebih baik. Judul yang pas adalah “Team Shelby vs Ford”. Dengan ending klimaks-nya yang amat mengejutkan, film ini menggambarkan betapa buruknya sebuah penghargaan terhadap orang-orang yang memiliki passion hanya karena company-order yang mengatasnamakan materi di atas segalanya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel Sebelumnya99 Nama Cinta
Artikel BerikutnyaFrozen 2
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses