Frozen II (2019)
103 min|Animation, Adventure, Comedy, Family, Fantasy, Musical|22 Nov 2019
6.9Rating: 6.9 / 10 from 115,239 usersMetascore: 64
Anna, Elsa, Kristoff, Olaf and Sven leave Arendelle to travel to an ancient, autumn-bound forest of an enchanted land. They set out to find the origin of Elsa's powers in order to save their kingdom.

Frozen sebagai raksasa animasi Walt Disney Animation Studios merilis sekuelnya, Frozen 2. Film ini masih diarahkan oleh Chris Buck dan Jennifer Lee. Bintang-bintang reguler pengisi suaranya pun masih sama, yakni Idina Menzel, Kirsten Bell, Josh Gad, dan Jonathan Groff dengan beberapa bintang pendatang baru, seperti Alfred Molina, Evan Rachel Wood, dan Sterling K. Brown. Lalu, mampukah Frozen 2 bersaing secara kualitas dan komersial dengan film pertamanya?

Kerajaan dan wilayah Arendelle kini hidup dalam kedamaian sejak peristiwa beberapa tahun sebelumnya. Hingga suatu ketika, Elsa mendengar suara nyanyian yang memanggilnya. Peristiwa ini rupanya dipicu dari masa lalu ayah dan ibu mereka yang pernah bercerita tentang sebuah tempat mistik yang berada di utara. Ketika satu kerajaan dalam bahaya, Elsa dan Anna akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti panggilan tersebut, ditemani Olaf, Kristoff, dan Sven. Petualangan mereka pun di mulai.

Berbeda dengan film-film sebelumnya (Tangled, seri Wreck It Ralph, Big Hero 6, Zootopia, Moana), studio animasi Disney kini rupanya memilih rute yang lebih gelap dari sisi kisahnya. Pixar sudah menempuh jalan ini beberapa kali, dan kini, Disney akhirnya memiliki keberanian yang sama.

Jika Frozen 2 dikatakan alur plotnya tampak sedikit memaksa, memang tidak salah. Tentu wajar untuk sebuah sekuel. Namun, secara unik, arah plotnya kini menggunakan 4 tokoh utamanya untuk memancing konfliknya masing-masing. Plot utamanya adalah Elsa, yang mencoba menguak masa lalu orang tua mereka sekaligus mencari identitas dirinya. Serta Anna, yang begitu protektif dan takut kehilangan Elsa. Sementara dua subplot lainnya hanyalah sebagai penyeimbang (hiburan). Kristoff mencari cara untuk menyatakan keseriusan cintanya pada Anna. Lalu Olaf, secara mengejutkan memiliki pesan terselubung tentang kedewasaan.

Baca Juga  The Green Hornet, Komedi Superhero Milik Rogen atau Gondry?

Satu hal yang menjadi masalah adalah plotnya yang tentu tak mudah dicerna untuk anak-anak dan remaja (target penontonnya). Terbukti dalam bioskop, anak-anak dan sebagian remaja hanya tertawa ketika Olaf muncul, sungguh cuma ini. Kisah filmnya jelas terlalu suram untuk anak-anak. Bagi penonton dewasa yang sedikit serius, plotnya justru mengejutkan. Kisahnya menyisipkan filosofi semesta dan elemen alam yang jarang kita temui dalam film animasi di levelnya. Ekspektasi menjadi lebih tinggi dan rasa penasaran pun muncul, plotnya akan dibawa ke mana. Momen terbaik film ini justru muncul pada momen terendah plotnya menjelang babak ketiga (penutupan). Sayangnya, hanya sampai di sini. Eksekusi klimaksnya terlalu sederhana dan mengabaikan banyak potensi yang bisa membuat filmnya memiliki kedalaman cerita yang lebih. Diskusi bisa panjang untuk bicara soal ini.

Sementara bicara keindahan visualnya, Frozen 2 rasanya adalah salah satu yang terbaik. Saya tak bisa komentar banyak karena tak akan puas jika tidak melihatnya sendiri. Saya pikir, momen ketika Elsa berlari menaklukkan lautan (sebagian ada di trailer-nya) adalah salah satu segmen animasi paling mengesankan yang pernah saya tonton. Keindahan visual mampu berpadu dengan kengerian yang begitu hebatnya. Lalu tentunya keindahan lainnya adalah segmen musikalnya. Film ini berisi beberapa nomor yang bagus, tak jauh dengan kualitas film pertamanya (walau tak sekuat Let It Go). Sang bintang, Idina Menzel dengan kekuatan vokalnya memang direkrut untuk ini. Justru mencuri perhatian adalah satu nomor musikal dari Kristoff yang menggunakan gaya video clip era 1980-an dan gaya tone grup musik “Chicago”. Tercatat ini adalah momen paling menghibur dalam filmnya.

Frozen 2 secara berani mengambil jalan yang lebih gelap dan suram dengan selipan sedikit humor dan pencapaian visual yang istimewa, namun sayangnya tak berani mengambil resiko lebih jauh. Masih berat jika ingin bersaing secara kualitas dengan film-film studio pesaing utamanya, Pixar Studios. Dalam ajang Academy Awards tahun depan, Frozen 2 bakal bersaing keras dengan Toy Story 4 yang secara kualitas cerita jauh lebih superior. Secara komersial, rasanya tak perlu lagi komentar. Hanya menanti waktu saja sebelum menembus angka USD 1 miliar.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaFord vs Ferarri
Artikel BerikutnyaSenior
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.