Knives Out (2019)
130 min|Comedy, Crime, Drama|27 Nov 2019
7.9Rating: 7.9 / 10 from 767,166 usersMetascore: 82
A detective investigates the death of the patriarch of an eccentric, combative family.

No spoiler, namun dianjurkan untuk menonton filmnya terlebih dulu!

Knives Out merupakan film detektif (misteri-komedi) arahan sineas muda bertalenta tinggi, Rian Johnson. Setelah berapa lama, akhirnya genre langka ini diproduksi dengan tak tanggung-tanggung menampilkan beberapa bintang besar, sebut saja Daniel Craig, Chris Evans, Christopher Plummer, Jamie Lee Curtis, Tony Collete, Ana de Armas, serta Don Johnson. Lantas seperti apa performa filmnya dengan kombinasi sineas berbakat sekelas Johnson dengan bintang-bintang kelas satu ini?

Alkisah Harlan Thrombey adalah seorang novelis detektif sukses yang kini tengah merayakan hari ulang tahunnya yang ke-85. Pesta kecil diadakan di rumah besar tua sang novelis yang dihadiri seluruh anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya. Malam harinya, Harlan ditemukan tewas bunuh diri dengan sayatan pisau di lehernya. Polisi pun datang untuk menyelidiki dan di antara mereka terdapat seorang detektif ternama, Benoit Blanc. Blanc mencium sesuatu yang aneh dalam kasus ini dan menduga salah satu dari anggota keluarga yang membunuh sang novelis.

Sudah lama saya menantikan film detektif seperti ini. Dua tahun lalu, kisah pembunuhan Murder on the Orient Express (2017) memang dibuat, namun meski filmnya brilian tapi kisahnya tidak terhitung segar karena diadaptasi dari novel klasik karya Agatha Christie. Orang yang sudah membaca novelnya tentu mengerti betul plot filmnya (ending-nya). Ini sangat tidak menyenangkan. Kini, ekspektasi sangat tinggi untuk Knives Out, dengan ditukangi Rian Johnson (termasuk naskahnya) serta bintang-bintang besarnya. Hasilnya? Ternyata tidak menggigit seperti yang saya harapkan.

Kisah detektif klasik seperti ini jelas sudah umum untuk genrenya. Satu anggota keluarga terbunuh dan tersangkanya adalah seluruh anggota keluarga dengan motif warisan atau balas dendam. Sang detektif pun bekerja. Lantas apa yang berbeda dalam film ini? Dengan gayanya, sang sineas yang juga menulis naskahnya bermain-main dengan struktur cerita. Kilas balik amat dominan disajikan bahkan bisa berulang-ulang hingga seolah filmnya terasa nonlinier karena saking banyaknya. Apakah terasa rumit dan kompleks? Tidak sama sekali. Johnson mampu mengemasnya dengan ringan dan menghibur, namun dengan detil yang luar biasa melalui sajian visualnya. Sebuah shot bisa menjadi satu argumen penting dalam film ini. Butuh observasi lebih dari penonton awam. Satu momen saja terlewat bisa lepas satu informasi.

Baca Juga  Sympathy for the Devil

Sang sineas terasa sekali sangat menikmati produksi filmnya, demikian pula bintang-bintangnya. Satu pun penampilan tidak ada yang miss. Semua pemain bermain dalam performa terbaiknya. Tentu saja, sang detektif (Craig) adalah yang menjadi pusat perhatian, sekalipun Marta (Armas), Harlan (Plummer), Richard (Don Johnson) juga mencuri perhatian. Sang kapten, eh, Ransom (Evans) tentu mencuri perhatian para remaja fans Marvel setelah sekian lama ia lelah bermain dalam peran superhero ikonik. Sungguh sangat menyenangkan menonton para pemain bintang ini yang juga tampak menikmati peran mereka. Namun, sayangnya pemilihan kastingnya ini, bagi saya, juga menjadi kelemahan naskah filmnya. Bagaimana bisa?

Sejak film bermula, arah filmnya memang bisa mengarah ke mana saja dan ke siapa saja. Namun, dalam satu momen, kisahnya mulai digiring ke satu titik yang tak sulit diantisipasi. Kisah filmnya kurang terasa bias sekalipun sisi misteri masih terasa. Walau klise, namun plot seperti ini memang butuh beberapa subplot kecil untuk mengecoh penonton. Ini yang tak ada di filmnya karena fokus kisah hanya pada sosok itu-itu saja. Saya tak mungkin menulisnya di sini, namun penikmat film sejati tentu tak bakal sulit menduga arah kisahnya (setidaknya terpikir oleh kita). Faktor kasting tentu saja menjadi kunci misteri filmnya. Paham maksud saya kan? Ini adalah bagi saya yang menjadi kelemahan filmnya (naskah). Jujur, memang menyenangkan mengikuti alur plotnya, namun tidak ada gigitan sama sekali. Film ini sebenarnya punya potensi menjadi film terbaik tahun ini.

Knives Out, amat menyegarkan dan menghibur, baik genre maupun naskahnya, namun kastingnya adalah kekuatan sekaligus kelemahan filmnya. Membuat cerita detektif yang bagus memang bukan pekerjaan mudah, terlebih plot semacam film ini. Terlepas dari sedikit kelemahannya, bagi saya Knives Out telah mencoba sesuatu yang berbeda dari kelaziman genre masa kini. Sungguh berharap, film ini bisa sukses komersial sehingga kita bisa melihat sang detektif bekerja dalam kasus lainnya. Craig mungkin sudah bosan dengan peran Bond, namun semoga tidak untuk sosok detektif eksentrik ini.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaNightmare Side Delusional
Artikel Berikutnya21 Bridges
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.