love for sale

Menindaklanjuti pencapaian Love for Sale (2018), Visinema Pictures selaku rumah produksi bersama sutradara, Andibachtiar Yusuf, kembali menghadirkan sekuel film ini, Love for Sale 2. Naskah film drama ini pun ditulis sendiri olehnya bersama Mohammad Irfan Ramly, yang juga menulis naskah Love for Sale. Love for Sale 2 dibintangi oleh Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Egy Fedly, serta Yayu A.W. Unru. Siapa sajakah yang kali ini dalam Love for Sale 2 akan menjadi korban Arini setelah meninggalkan Love for Sale?

Ican atau Indra Tauhid Sikumbang (Adipati Dolken) adalah salah seorang dari tiga bersaudara Ndoy atau Anandoyo Tauhid Sikumbang (Ariyo Wahab) dan Buncun atau Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel). Mereka adalah putra dari seorang perempuan berdarah Minang, Rosmaida (Ratna Riantiarno). Dengan usia ibu yang sudah tua dan kedua saudara yang telah menikah –bahkan memiliki anak, Ican terus menerus dicecar pertanyaan serupa, “Kapan kamu menikah?”. Lambat laun, ancaman usia dari sang Ibu bertambah-tambah hingga menyangkut-pautkannya dengan waktu kematian. Walhasil, Ican mengalah dan mengambil jalan pintas untuk mendapatkan jasa pasangan wanita (sementara), Arini (Della Dartyan) melalui sebuah aplikasi, Love Inc. Walau pada mulanya Ican menganggap Arini hanya sebagai pekerja biasa yang menjalankan tugas secara profesional, namun seiring berjalannya waktu, kedekatan di antara keduanya tidak dapat dihindari juga. Satu hal yang tidak disadari Ican saat memutuskan untuk semakin dekat dengan sang perempuan muda ini adalah bom waktu kepergian Arini tetap bisa datang sesuai kontrak dalam aplikasi.

Love for Sale 2 berangkat dengan tantangan yang sudah lumrah menimpa film-film sekuel, apakah melebihi (atau bahkan setidaknya menyamai) pencapaian film sebelumnya atau tidak? Ekspektasi dari penonton dipertaruhkan melalui kebaruan dalam kehadiran setiap sekuel. Terlepas dari segi kefanatikan terhadap serinya, kebaruan cenderung mengarah pada aspek-aspek cerita dan filmis sebuah sekuel.

Bicara soal aspek filmis, banyak adegan yang sebetulnya tidak perlu dalam Love for Sale 2. Mulai dari adegan  yang terlalu memaksa hingga tampak berlebihan, subplot dan perpanjangan relasi yang tidak perlu, hingga sejumlah scene dengan motivasi yang tidak jelas. Kendati Love for Sale 2 menghadirkan pilihan dan pengalaman lain dari ekspektasi penonton tentang apa yang ingin dirasakan terhadap “Love for Sale“. Satu penjelasan pasti mengenai alasan tidak tercapainya harapan penonton terhadap sekuel ini agar (setidaknya) sama dengan sebelumnya adalah keberadaan sudut pandang Arini.

Baca Juga  Srimulat: Hidup Memang Komedi

Dalam Love for Sale, penonton sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk ‘mengintip’ sudut pandang Arini maupun pemikirannya pada momen-momen akhir menjelang kepergiannya. Walhasil, keberpihakan penonton sudah pasti berada di sisi sang tokoh pria, Richard (Gading Marten). Namun dalam Love for Sale 2, penonton diberi hak dan keleluasaan untuk memilih akan berpihak ke mana, berdasarkan sudut pandang yang dihadirkan oleh sang sineas dalam tokohnya.

Love for Sale 2 pun menambah khasanah pengalaman menonton secara filmis melalui pemanfaatan teknis pengambilan gambar long take pada awal mula pembuka film. Hal ini bagus pula, sebagai pembiasaan terhadap khalayak agar semakin terbiasa terhadap keberadaan teknis-teknis tertentu yang terbilang masih jarang digunakan. Selain itu, pemanfaatan teknik ini pun menjadi tindakan ‘sekali rengkuh dayung untuk merangkum 2-3 pulau’ kebutuhan akan kompleksitas dan keriuhan dalam sebuah perhelatan acara khas adat Minang, yang ditujukan untuk memantik beragam konflik serupa dan tidak jauh-jauh dari acara tersebut.

Love for Sale 2 alih-alih “Horror Love Story”, justru lebih cenderung merupakan “another Arini’s love story”. Horor karena ancaman kepergian Arini, pasti datang (seperti kematian, yang terbilang cukup sering diutarakan oleh film ini, terutama oleh Ibu Ican). Horor karena kepergian Arini bukan hanya akan membahayakan dan mengorbankan perasaan sang tokoh pria, Ican, namun juga akan berdampak luas terhadap orang-orang di sekitar lingkup kehidupannya, teman-teman, lingkungan kerja, terutama sang Ibu.

Bukan drama sesak di dada atau sakit hati yang sebenarnya coba ditawarkan oleh Love for Sale 2. Melainkan kejutan-kejutan dari perubahan sikap dan keputusan tiap tokohnya. Film ini memang terasa tidak begitu kuat jika ditilik dari sisi dramatisasi reaksi para tokoh (terutama Ibu Ican). Hal ini dapat dipahami bila mempertimbangkan karakteristik warga di lingkungan perkampungan tempat tinggal keluarga Ican. Mereka tidak enak hati, saling mencampuri urusan orang lain saat sedang dalam kondisi patah arang dan bersedih, terjatuh atau kehilangan, walau sedekat apapun hubungan di antara mereka. Satu sama lain hanya akan memilih untuk mendiamkan, memberi dukungan moril lewat gerak tubuh tanpa kata. Jalinan relasi dan emosi yang hadir kemudian tercipta dalam keheningan suasana.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaTerminator: Dark Fate
Artikel BerikutnyaLampor Keranda Terbang
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.