Maleficent: Mistress of Evil (2019)
119 min|Adventure, Family, Fantasy|18 Oct 2019
6.6Rating: 6.6 / 10 from 118,754 usersMetascore: 43
Maleficent and her goddaughter Aurora begin to question the complex family ties that bind them as they are pulled in different directions by impending nuptials, unexpected allies, and dark new forces at play.

Tak heran jika Maleficent (2014) dengan sukses komersial lebih dari USD 750 juta akhirnya diproduksi pula sekuelnya. Bertajuk Maleficent: Mistress of Evil, sekuelnya kini diarahkan oleh Joachim Ronning dengan kembali menampilkan sang bintang, Angelina Jolie, yang kini duduk di kursi produser. Beberapa pemain masih mengulang peran mereka, yakni Elle Fanning dan Sam Riley, serta para bintang pendatang baru, seperti Chiwetel Ejiofor, Michelle Pfeiffer, serta Ed Skrein. Mampukah sekuelnya kini menyamai sukses film pertamanya?

Alkisah setelah peristiwa 5 tahun lalu, Maleficent dan Aurora kini hidup bahagia di istana mereka, Moors. Pangeran Phillip akhirnya melamar Aurora sekalipun Maleficent tak menyukai jika mereka menikah. Aurora pun akhirnya mampu membujuk Maleficent untuk datang ke istana Raja John dan Ratu Ingrith yang juga orang tua Phillip. Tak disangka, Maleficent pun dijebak hingga Aurora memilih tinggal di sana. Dalam situasi tak terkendali, Maleficent pun terbang keluar istana, namun sayangnya ia dilukai anak panah hingga jatuh ke lautan lepas. Sosok misterius pun menolong Maleficent.

Apa yang menjadi kekuatan seri pertamanya kini telah hilang, yakni kehangatan. Selalu menjadi kisah yang menarik, melihat sosok jahat berubah menjadi baik. Maleficent adalah sosok yang ideal untuk menyajikan ini, terlebih diperankan sangat baik oleh Jolie. Maleficent pun menjadi sosok dewi yang memiliki hati. Lalu apa lagi yang bisa ditawarkan kisahnya? Sang narator menjelaskan, hanya berselisih lima tahun saja, citra iblis Maleficent kembali muncul dalam benak kaum manusia. Mudah sekali diduga, “fitnah” menjadi solusi jitu untuk mengubah sosok baik menjadi jahat. Tampak memaksa sekali dan plotnya pun terlalu mudah diantisipasi.

Baca Juga  Dolittle

Plotnya pun berjalan datar layaknya formalitas sekuel lazimnya. Penikmat film bakal tak sulit menduga alur kisahnya hingga akhir dan ini tentu melelahkan. Subplot kaum “Dark Feys” yang satu ras dengan Maleficent serta asal muasalnya, tidak juga mampu membuat kisahnya menjadi lebih menarik, kecuali tontonan visualnya (CGI dan setting). Dua aktris brilian sekelas Jolie dan Fanning pun seakan terjebak, tanpa banyak keleluasaan mengembangkan peran mereka. Segmen klimaksnya jelas memang tidak buruk, namun nyaris dua dekade lalu, satu seri fantasi fenomenal (seri The Lord of the Ring) menaikkan standar aksi sejenis dengan batasan estetik yang amat tinggi. Mau apa lagi?

Maleficent: Mistress of Evil adalah sebuah sekuel formalitas tanpa kehangatan seperti seri pertamanya sekalipun pencapaian visualnya yang mengesankan. Film sekuel sejenis, kelak bakal menjadi bumerang bagi para produsen, mengingat penonton kini memiliki banyak pilihan. Dalam satu titik kelak, penonton bakal lelah terhadap film sekuel jika tidak menawarkan sesuatu yang segar. Sekuel kedua Maleficent? Tentu mutlak jika film ini sukses komersial. Bahkan saya pun sudah bisa menebak plotnya bakal seperti apa.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaHustlers
Artikel BerikutnyaAjari Aku Islam
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.