Film produksi Sky Media dan Rapi Films ini, merupakan film horor besutan sutradara Kimo Stamboel, yang lebih kita kenal Mo Brothers, bersama partnernya, Timo Tjahjanto Film ini ditulis naskahnya oleh sutradara kondang Joko Anwar. Sang sineas telah memproduksi beberapa film solonya, seperti Bunian (2004), Killer (2014), dan DreadOut (2019). Sementara bersama Timo, telah berkolaborasi memproduksi Takut: Faces of Fear (2008), Rumah Dara (2010), dan Headshot (2016). Keduanya memang kita kenal memiliki gaya khas produksi film thriller dengan adegan-adegan aksi yang cenderung sadis dan brutal.

Alkisah Hanif (Ario Bayu) dan dua rekannya mendapatkan kabar jika Pak Bandi tengah sakit. Pak Bandi adalah pemilik panti asuhan tempat mereka bertiga dibesarkan. Masing-masing dari mereka membawa keluarga dan pasangannya untuk menjenguk Pak Bandi di panti asuhan tersebut. Hanif mengajak istrinya, Nadya (Hannah Al Rasyid) berserta tiga anaknya. Sesampainya di sana mereka disambut oleh rekan lama mereka yang mengurus panti tersebut. Sementara sebagian besar anak panti sedang berdarmawisata. Ketika malam datang, kejadian aneh menimpa mereka masing-masing. Mereka pun terjebak dalam situasi yang tak mereka bayangkan sebelumnya.

Ratu Ilmu Hitam merupakan remake dari film lawas berjudul sama yang rilis tahun 1981, yang dibintangi aktris horor legendaris, Suzzanna. Film remake-nya dikemas dengan latar cerita masa kini dan memiliki perbedaan alur cerita. Walau begitu, inti kisahnya masih sama, yakni berkisah tentang praktik ilmu hitam, santet dengan nuansa balas dendam. Jika dibandingkan, kedua filmnya memiliki satu kesamaan, yakni adegan-adegan visualisasi teror santet yang keji dan kejam. Film aslinya penuh dengan pesan religius yang gamblang sedangkan film remake-nya lebih menonjolkan sisi aksinya.

Baca Juga  Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

Dengan gaya sang sineas melalui aksi teror fisik yang ekstrim, Ratu Ilmu Hitam (1981) menjadi referensi yang tepat untuk mengeskplor adegan berdarah. Sang sineas seolah memiliki chemistry dengan gaya kemasan film lamanya. Tribute digambarkan melalui kesamaan adegan yang dibangun. Tapi sayang sekali, konflik yang dibangun berdasar teror fisik terasa amat monoton dan datar. Hampir sepanjang film, berisi adegan aksi brutal berkepanjangan tanpa jeda istirahat yang membuat penonton terasa capek, terlebih waktu ceritanya terjadi hanya semalam. Berbeda dengan film aslinya yang cenderung bertempo lambat.

Plot filmnya dikemas dengan setting terbatas di sebuah rumah panti asuhan bergaya arsitektur kuno dan terpencil. Walau secara logika agak aneh, sebuah panti asuhan bisa berlokasi sangat jauh dari kota. Bangunan kuno ini terdiri dari banyak ruang yang memungkinkan sang sineas mengeksplor berbagai ruangan. Satu kamar yang tak pernah terbuka selama bertahun-tahun menjadi salah satu motif cerita yang mampu membuat kesan horor.

Kualitas teknis filmnya, seperti sinematografi, setting lokasi, properti, pencahayaan, make-up, dan akting pemain terlihat sangat matang. Setting rumah terkesan penuh misteri karena dukungan tata pencahayaan yang berkesan gelap dan suram. Eksplorasi balas dendam dengan teror ilmu hitam, dikemas dengan pencapaian artistik yang baik. Bagi yang tak betah dengan darah, rasanya tak bakal terganggu. Para aktor-aktrisnya juga mampu berperan sesuai porsinya masing-masing. Aktor cilik Muzakki Ramdhan, mencoba menarik perhatian dan memberikan sedikit sentuhan komedi di filmnya.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaDoctor Sleep
Artikel BerikutnyaHanya Manusia
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.