Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)
137 min|Action, Adventure, Thriller|02 Aug 2019
6.4Rating: 6.4 / 10 from 153,615 usersMetascore: 60
Lawman Luke Hobbs (Dwayne "The Rock" Johnson) and outcast Deckard Shaw (Jason Statham) form an unlikely alliance when a cyber-genetically enhanced villain threatens the future of humanity.

Sejak seri keenam Fast & Furious yang memperlihatkan aksi mobil yang terbang dari satu menara ke menara lainnya, saya sudah kehilangan mood untuk seri ini. Aksinya terlalu absurd dan berlebihan, serta memperlebar wilayah genre lain. Kini, spin-off-nya, Hobbs and Shaw mengikuti jejak yang sama dengan mulai bersinggungan dengan genre yang kini tengah panas, superhero, atau dikatakan fiksi ilmiah pun boleh. Kombinasi genre memang sah-sah saja, namun (bagi saya) yang menjadi masalah adalah logika kisahnya sendiri yang diabaikan demi sebuah aksi yang menghibur.

Film bertitel lengkap Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw ini memiliki kisah sangat sederhana. Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) terlibat dalam satu kasus besar yang membahayakan umat manusia, yakni mencari sebuah virus yang sangat mematikan. Rumitnya, virus ini dilarikan oleh seorang agen MI6 yang dianggap membelot bernama Hattie (Venessa Kirby) yang ternyata juga adalah adik kandung Deckard. Rumitnya lagi, satu mantan agen MI6 bernama Brixton (mantan partner Shaw) yang kini bergabung dalam organisasi hitam, Etheon, juga menginginkan virus tersebut. Brixton adalah sosok layaknya cyborg yang memilki kekuatan fisik super yang didukung teknologi super canggih yang ditanam di tubuhnya. Oh jangan dilupakan pula, sepeda motor super canggih ala transformers miliknya. Wow, hebat bukan?

Baca Juga  Annihilation

Seperti tipikal serinya, dari ringkasan plotnya saja sudah jelas arah filmnya mau ke mana. Penikmat film sejati dijamin mampu menebak alur kisahnya sejak awal hingga akhir. Tak ada greget dan nuansa ancaman sama sekali. Selain aksi, yang dijual jelas adalah dua sosok bintangnya, Johnson dan Statham. Sejak seri Fast, keduanya sudah berseteru satu sama lain dan selalu terlibat dalam konflik mental dan fisik yang tak berujung. Unsur humor pun dibangun dari chemistry keduanya, kadang menggemaskan, namun kadang pula menggelikan. Beberapa bintang cameo ternama membuat kejutan kecil bagi penonton, namun tak cukup untuk mengangkat filmnya. Tak banyak pula hal baru di sini, selain sosok Black Superman dalam filmnya yang dimainkan demikian baik oleh Idris Elba. Sosok super ini bahkan kuat untuk menahan dan melempar sebuah mobil sedan yang akan menimpanya, namun rupanya tak cukup kuat untuk menciderai dua jagoan kita ketika ia memukul wajah mereka demikian kuat. Wow, hebat bukan?

Seperti tradisi terkini seri Fast & Furious, Hobbs & Shaw adalah spin-off yang juga mengandalkan aksi-aksi di luar nalar genrenya yang dijamin bakal memuaskan fans serinya plus bumbu komedi dari chemistry dua bintang utamanya. Sang sineas yang sebelumnya membuat film-film populer, macam John Wick, Atomic Blondie, dan Deadpool 2 menunaikan tugas dengan baik sesuai kapasitasnya. Seperti sudah saya katakan di atas, bagi saya seri ini sudah tamat sejak seri ke-6. Aksi-aksi balap jalanan kini telah merambah genre pencurian (heist), fiksi ilmiah, spionase, komedi, hingga kini superhero. Hanya tinggal menunggu waktu mungkin, seri ini bersinggungan dengan genre populer lainnya, mungkin fantasi atau horor? Spin-off lainnya, Roman & Tej? Seri ini rasanya bakal melakukan apa pun untuk bisa sukses komersial. Saya hanya menantikan sentuhan baru ke depannya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBatman: Hush
Artikel BerikutnyaKutuk
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.