Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)
137 min|Action, Adventure, Thriller|02 Aug 2019
6.5Rating: 6.5 / 10 from 234,552 usersMetascore: 60
Lawman Luke Hobbs and outcast Deckard Shaw form an unlikely alliance when a cyber-genetically enhanced villain threatens the future of humanity.

Sejak seri keenam Fast & Furious yang memperlihatkan aksi mobil yang terbang dari satu menara ke menara lainnya, saya sudah kehilangan mood untuk seri ini. Aksinya terlalu absurd dan berlebihan, serta memperlebar wilayah genre lain. Kini, spin-off-nya, Hobbs and Shaw mengikuti jejak yang sama dengan mulai bersinggungan dengan genre yang kini tengah panas, superhero, atau dikatakan fiksi ilmiah pun boleh. Kombinasi genre memang sah-sah saja, namun (bagi saya) yang menjadi masalah adalah logika kisahnya sendiri yang diabaikan demi sebuah aksi yang menghibur.

Film bertitel lengkap Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw ini memiliki kisah sangat sederhana. Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) terlibat dalam satu kasus besar yang membahayakan umat manusia, yakni mencari sebuah virus yang sangat mematikan. Rumitnya, virus ini dilarikan oleh seorang agen MI6 yang dianggap membelot bernama Hattie (Venessa Kirby) yang ternyata juga adalah adik kandung Deckard. Rumitnya lagi, satu mantan agen MI6 bernama Brixton (mantan partner Shaw) yang kini bergabung dalam organisasi hitam, Etheon, juga menginginkan virus tersebut. Brixton adalah sosok layaknya cyborg yang memilki kekuatan fisik super yang didukung teknologi super canggih yang ditanam di tubuhnya. Oh jangan dilupakan pula, sepeda motor super canggih ala transformers miliknya. Wow, hebat bukan?

Seperti tipikal serinya, dari ringkasan plotnya saja sudah jelas arah filmnya mau ke mana. Penikmat film sejati dijamin mampu menebak alur kisahnya sejak awal hingga akhir. Tak ada greget dan nuansa ancaman sama sekali. Selain aksi, yang dijual jelas adalah dua sosok bintangnya, Johnson dan Statham. Sejak seri Fast, keduanya sudah berseteru satu sama lain dan selalu terlibat dalam konflik mental dan fisik yang tak berujung. Unsur humor pun dibangun dari chemistry keduanya, kadang menggemaskan, namun kadang pula menggelikan. Beberapa bintang cameo ternama membuat kejutan kecil bagi penonton, namun tak cukup untuk mengangkat filmnya. Tak banyak pula hal baru di sini, selain sosok Black Superman dalam filmnya yang dimainkan demikian baik oleh Idris Elba. Sosok super ini bahkan kuat untuk menahan dan melempar sebuah mobil sedan yang akan menimpanya, namun rupanya tak cukup kuat untuk menciderai dua jagoan kita ketika ia memukul wajah mereka demikian kuat. Wow, hebat bukan?

Baca Juga  Lady Bird

Seperti tradisi terkini seri Fast & Furious, Hobbs & Shaw adalah spin-off yang juga mengandalkan aksi-aksi di luar nalar genrenya yang dijamin bakal memuaskan fans serinya plus bumbu komedi dari chemistry dua bintang utamanya. Sang sineas yang sebelumnya membuat film-film populer, macam John Wick, Atomic Blondie, dan Deadpool 2 menunaikan tugas dengan baik sesuai kapasitasnya. Seperti sudah saya katakan di atas, bagi saya seri ini sudah tamat sejak seri ke-6. Aksi-aksi balap jalanan kini telah merambah genre pencurian (heist), fiksi ilmiah, spionase, komedi, hingga kini superhero. Hanya tinggal menunggu waktu mungkin, seri ini bersinggungan dengan genre populer lainnya, mungkin fantasi atau horor? Spin-off lainnya, Roman & Tej? Seri ini rasanya bakal melakukan apa pun untuk bisa sukses komersial. Saya hanya menantikan sentuhan baru ke depannya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBatman: Hush
Artikel BerikutnyaKutuk
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.