Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)
137 min|Action, Adventure|02 Aug 2019
6.7Rating: 6.7 / 10 from 74,896 usersMetascore: 60
Lawman Luke Hobbs and outcast Deckard Shaw form an unlikely alliance when a cyber-genetically enhanced villain threatens the future of humanity.

Sejak seri keenam Fast & Furious yang memperlihatkan aksi mobil yang terbang dari satu menara ke menara lainnya, saya sudah kehilangan mood untuk seri ini. Aksinya terlalu absurd dan berlebihan, serta memperlebar wilayah genre lain. Kini, spin-off-nya, Hobbs and Shaw mengikuti jejak yang sama dengan mulai bersinggungan dengan genre yang kini tengah panas, superhero, atau dikatakan fiksi ilmiah pun boleh. Kombinasi genre memang sah-sah saja, namun (bagi saya) yang menjadi masalah adalah logika kisahnya sendiri yang diabaikan demi sebuah aksi yang menghibur.

Film bertitel lengkap Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw ini memiliki kisah sangat sederhana. Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) terlibat dalam satu kasus besar yang membahayakan umat manusia, yakni mencari sebuah virus yang sangat mematikan. Rumitnya, virus ini dilarikan oleh seorang agen MI6 yang dianggap membelot bernama Hattie (Venessa Kirby) yang ternyata juga adalah adik kandung Deckard. Rumitnya lagi, satu mantan agen MI6 bernama Brixton (mantan partner Shaw) yang kini bergabung dalam organisasi hitam, Etheon, juga menginginkan virus tersebut. Brixton adalah sosok layaknya cyborg yang memilki kekuatan fisik super yang didukung teknologi super canggih yang ditanam di tubuhnya. Oh jangan dilupakan pula, sepeda motor super canggih ala transformers miliknya. Wow, hebat bukan?

Baca Juga  Ice Age 3

Seperti tipikal serinya, dari ringkasan plotnya saja sudah jelas arah filmnya mau ke mana. Penikmat film sejati dijamin mampu menebak alur kisahnya sejak awal hingga akhir. Tak ada greget dan nuansa ancaman sama sekali. Selain aksi, yang dijual jelas adalah dua sosok bintangnya, Johnson dan Statham. Sejak seri Fast, keduanya sudah berseteru satu sama lain dan selalu terlibat dalam konflik mental dan fisik yang tak berujung. Unsur humor pun dibangun dari chemistry keduanya, kadang menggemaskan, namun kadang pula menggelikan. Beberapa bintang cameo ternama membuat kejutan kecil bagi penonton, namun tak cukup untuk mengangkat filmnya. Tak banyak pula hal baru di sini, selain sosok Black Superman dalam filmnya yang dimainkan demikian baik oleh Idris Elba. Sosok super ini bahkan kuat untuk menahan dan melempar sebuah mobil sedan yang akan menimpanya, namun rupanya tak cukup kuat untuk menciderai dua jagoan kita ketika ia memukul wajah mereka demikian kuat. Wow, hebat bukan?

Seperti tradisi terkini seri Fast & Furious, Hobbs & Shaw adalah spin-off yang juga mengandalkan aksi-aksi di luar nalar genrenya yang dijamin bakal memuaskan fans serinya plus bumbu komedi dari chemistry dua bintang utamanya. Sang sineas yang sebelumnya membuat film-film populer, macam John Wick, Atomic Blondie, dan Deadpool 2 menunaikan tugas dengan baik sesuai kapasitasnya. Seperti sudah saya katakan di atas, bagi saya seri ini sudah tamat sejak seri ke-6. Aksi-aksi balap jalanan kini telah merambah genre pencurian (heist), fiksi ilmiah, spionase, komedi, hingga kini superhero. Hanya tinggal menunggu waktu mungkin, seri ini bersinggungan dengan genre populer lainnya, mungkin fantasi atau horor? Spin-off lainnya, Roman & Tej? Seri ini rasanya bakal melakukan apa pun untuk bisa sukses komersial. Saya hanya menantikan sentuhan baru ke depannya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBatman: Hush
Artikel BerikutnyaKutuk
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.