Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)
137 min|Action, Adventure, Thriller|02 Aug 2019
6.5Rating: 6.5 / 10 from 238,247 usersMetascore: 60
Lawman Luke Hobbs and outcast Deckard Shaw form an unlikely alliance when a cyber-genetically enhanced villain threatens the future of humanity.

Sejak seri keenam Fast & Furious yang memperlihatkan aksi mobil yang terbang dari satu menara ke menara lainnya, saya sudah kehilangan mood untuk seri ini. Aksinya terlalu absurd dan berlebihan, serta memperlebar wilayah genre lain. Kini, spin-off-nya, Hobbs and Shaw mengikuti jejak yang sama dengan mulai bersinggungan dengan genre yang kini tengah panas, superhero, atau dikatakan fiksi ilmiah pun boleh. Kombinasi genre memang sah-sah saja, namun (bagi saya) yang menjadi masalah adalah logika kisahnya sendiri yang diabaikan demi sebuah aksi yang menghibur.

Film bertitel lengkap Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw ini memiliki kisah sangat sederhana. Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) terlibat dalam satu kasus besar yang membahayakan umat manusia, yakni mencari sebuah virus yang sangat mematikan. Rumitnya, virus ini dilarikan oleh seorang agen MI6 yang dianggap membelot bernama Hattie (Venessa Kirby) yang ternyata juga adalah adik kandung Deckard. Rumitnya lagi, satu mantan agen MI6 bernama Brixton (mantan partner Shaw) yang kini bergabung dalam organisasi hitam, Etheon, juga menginginkan virus tersebut. Brixton adalah sosok layaknya cyborg yang memilki kekuatan fisik super yang didukung teknologi super canggih yang ditanam di tubuhnya. Oh jangan dilupakan pula, sepeda motor super canggih ala transformers miliknya. Wow, hebat bukan?

Seperti tipikal serinya, dari ringkasan plotnya saja sudah jelas arah filmnya mau ke mana. Penikmat film sejati dijamin mampu menebak alur kisahnya sejak awal hingga akhir. Tak ada greget dan nuansa ancaman sama sekali. Selain aksi, yang dijual jelas adalah dua sosok bintangnya, Johnson dan Statham. Sejak seri Fast, keduanya sudah berseteru satu sama lain dan selalu terlibat dalam konflik mental dan fisik yang tak berujung. Unsur humor pun dibangun dari chemistry keduanya, kadang menggemaskan, namun kadang pula menggelikan. Beberapa bintang cameo ternama membuat kejutan kecil bagi penonton, namun tak cukup untuk mengangkat filmnya. Tak banyak pula hal baru di sini, selain sosok Black Superman dalam filmnya yang dimainkan demikian baik oleh Idris Elba. Sosok super ini bahkan kuat untuk menahan dan melempar sebuah mobil sedan yang akan menimpanya, namun rupanya tak cukup kuat untuk menciderai dua jagoan kita ketika ia memukul wajah mereka demikian kuat. Wow, hebat bukan?

Baca Juga  Pok√©mon Detective Pikachu

Seperti tradisi terkini seri Fast & Furious, Hobbs & Shaw adalah spin-off yang juga mengandalkan aksi-aksi di luar nalar genrenya yang dijamin bakal memuaskan fans serinya plus bumbu komedi dari chemistry dua bintang utamanya. Sang sineas yang sebelumnya membuat film-film populer, macam John Wick, Atomic Blondie, dan Deadpool 2 menunaikan tugas dengan baik sesuai kapasitasnya. Seperti sudah saya katakan di atas, bagi saya seri ini sudah tamat sejak seri ke-6. Aksi-aksi balap jalanan kini telah merambah genre pencurian (heist), fiksi ilmiah, spionase, komedi, hingga kini superhero. Hanya tinggal menunggu waktu mungkin, seri ini bersinggungan dengan genre populer lainnya, mungkin fantasi atau horor? Spin-off lainnya, Roman & Tej? Seri ini rasanya bakal melakukan apa pun untuk bisa sukses komersial. Saya hanya menantikan sentuhan baru ke depannya.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBatman: Hush
Artikel BerikutnyaKutuk
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.