Ada banyak cara untuk memicu timbulnya kisah cinta masa remaja di kalangan anak-anak SMA, salah satunya, yakni melalui Masa Orientasi Siswa dalam film Senior. Mengikuti jejak Sin, film ini pun merupakan adaptasi novel wattpad berjudul sama karya Eko Ivano Winata (KataKokoh), dengan naskah ditulis oleh Bagus Bramanti, penulis dua film Yowis Ben dan Kartini. Senior merupakan film bergenre drama keluarga dan percintaan masa remaja dengan bumbu komedi. Melalui arahan Indra Gunawan dan kerja sama antara Bentang Pictures dan Max Pictures ini diperankan oleh Rebecca Klopper, Jerome Kurnia, Aida Nurmala, Karina Suwandhi, Ariella Calista Ichwan, Joe Project P., dan Iyang P. Project.

Momen Masa Orientasi Siswa (MOS) menjadi kesempatan besar bagi seorang siswi baru dalam mengenal lingkungan sekolah barunya. Namun, harapan kesan awal terhadap hari pertama momen ini harus terusik dengan pertemuan seorang siswi baru berpikiran kritis, Aluna (Rebecca Klopper) dan seorang ketua OSIS berkarakter dingin, Nakula (Jerome Kurnia). Kontras sifat, sikap, dan prinsip di antara mereka memicu beragam konflik terkait relasi persahabatan Aluna dengan gengnya, Barudak Swag dan Nakula dengan masa lalunya. Namun, di antara problematika keduanya, kehadiran Ibu Aluna (Aida Nurmala) dan Ibu Nakula (Karina Suwandhi) memiliki peran besar agar mereka dapat berdamai dengan persoalan masing-masing.

Senior memanfaatkan salah satu aspek yang cukup kental (hampir) selalu ada pada tahun ajaran baru di setiap jenjang pendidikan, mulai dari SMP hingga kuliah dengan beragam sebutan dan istilahnya, yakni masa orientasi peserta didik baru terhadap lingkungan lembaga pendidikan yang baru dimasuki. Namun, kita tidak akan membahas terlalu jauh mengenai kegiatan ini beserta segala gembar-gembor tujuan, metode, dan konsepnya.

Alih-alih konten senioritas masa orientasi di SMA akan mendominasi, Senior justru cenderung berkisah mengenai drama percintaan remaja dengan problematika kehidupan keluarga sebagai latar belakang kedua tokohnya. Tak membiarkan ruang cerita berjalan terlalu serius, film ini pun sebisa mungkin memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menyelipkan sisi komedi yang ringan. Hal ini tentu lumrah sekarang, bahkan dalam film serius sekalipun, sineas memasukkan sejumlah unsur komedi, walau sedikit.

Baca Juga  Ruma Maida, Mencoba Mengangkat Semangat Sumpah Pemuda

Pertama, film sejenis ini selalu memusatkan fokus cerita atau tujuan sang tokoh utama seputar cinta masa remaja. Sebut saja pionirnya, AADC, lalu kedua seri Dilan, Terlalu Tampan, dan lainnya. Kedua, salah satu latar tempat yang digunakan pastilah daratan Eropa atau Amerika, sebut saja New York. Agaknya penggunaan lokasi-lokasi tersebut, sengaja hanya untuk menghindari anggapan dari penonton bahwa film tersebut adalah FTV versi layar lebar dengan menghindari lokasi klise di dalam negeri. Tetapi pada saat yang sama, tindakan ini tanpa sadar justru semakin mengekspos lokasi yang sebenarnya klise terhadap film sejenis. Sekalipun tanpa berniat menciderai apapun terkait konten, motivasi tiap-tiap bagian, ketersinambungan, dan Lokasi yang digunakan dalam novel.

Dalam Senior, bentuk aspek sinematik yang paling kentara adalah segi editingnya. Konsep editing dalam film ini pun memiliki motivasi 11-12 mirip para pendahulunya. Memangkas kebutuhan menghadirkan banyak adegan dalam satu waktu di satu tempat atau lebih dengan pemotongan cepat atau menyatukannya ke dalam satu frame. Agaknya memang ciri khas pengemasan sebuah film drama percintaan bertempo cepat agar menjadi lebih unik dan sesuai dengan era kini adalah dengan memanfaatkan konsep editing semacam ini.

Sayangnya, selain aspek-aspek penunjang yang menyesuaikan target usia remaja (sebagaimana film sejenis), dengan potensi kisahnya, film ini tak memiliki banyak daya tawar dan nilai jual signifikan terhadap target usia lain. Adanya segmen masa orientasi yang kerap kali membawa kenangan lama kepada penonton usia dewasa pun tak banyak mengakomodasi kebutuhan mereka. Senior hanyalah sebentuk lain konsumsi untuk penonton remaja tanpa capaian filmis yang signifikan, kecuali satu-dua aspeknya saja.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaFrozen 2
Artikel BerikutnyaRumah Kentang: The Beginning
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.