Spider-Man: Far from Home (2019)
129 min|Action, Adventure, Comedy|02 Jul 2019
7.4Rating: 7.4 / 10 from 562,021 usersMetascore: 69
Following the events of Avengers: Endgame (2019), Spider-Man must step up to take on new threats in a world that has changed forever.

Spider-Man: Far from Home merupakan film ke-23 dari Marvel Cinematic Universe (MCU). Ini merupakan kerjasama kedua antara Columbia Pictures dan Marvel Studios yang merupakan kelanjutan dari seri pertamanya, Spiderman: Home Coming serta Avengers: Endgame yang baru saja rilis dua bulan lalu. Film berbujet US$ 160 juta ini diarahkan kembali oleh John Watts dengan semua pemain reguler sebelumnya, Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Marisa Tomei, Joon Favreau, serta pendatang baru Samuel L. Jackson, Cobie Smulders, serta Jack Gyllenhaal. Menjadi pertanyaan besar, mampukah Far from Home lepas dari hingar bingar Endgame yang sukses fenomenal dan hanya rilis 8 minggu sebelumnya?

Delapan bulan selepas peristiwa dalam Endgame, Peter dan rekan-rekannya melakukan rutinitas keseharian mereka di sekolah. Peter sendiri rupanya masih berduka dengan kematian sang mentor, Tony Stark. Dalam perkembangan, Peter dan rekan-rekan sekolahnya berkesempatan melakukan tur studi ke beberapa tempat di Eropa. Di sana, ia pun berencana menyatakan cintanya pada sang pujaan hati, MJ. Pada tur pertama mereka di Venesia, tak disangka, mereka pun disambut oleh monster air raksasa yang ingin menghancurkan kota dan datangnya sesosok superhero misterius.

Jujur saja, setelah Endgame yang begitu menghebohkan, rasa lelah terhadap genre dan seri ini mulai sedikit melanda. Tidakkah rilis sekuel Spider-Man terlalu cepat? Ekspektasi pun sedikit menurun. Coba, apa lagi yang ingin mereka (MCU) tawarkan setelah film luar biasa macam itu? Setelah Endgame, MCU masuk dalam satu wilayah tak tersentuh dengan segala kompleksitas dan kontinuitas semesta kisahnya. Dengan segala potensi kisahnya, MCU bakal semakin fleksibel ke mana saja menggunakan konsep cerita baru atau sebaliknya, justru makin tergelincir? Pada satu titik, entah kapan, MCU pasti bakal sulit mempertahankan ini semua dan mulai mengendur. Apakah titik balik ini adalah Spider-Man: Far from Home? Far from that. Film ini bahkan boleh saya bilang adalah salah satu film MCU yang terbaik.

Baca Juga  Rise of the Guardians

Satu keunggulan kisahnya adalah plot yang sama sekali tak bisa kita tahu arahnya. Seperti seri pertamanya, kejutan demi kejutan datang tanpa henti tanpa bisa kita duga. Kombinasi antara plot kasus Mysterio dan kisah cinta dengan MJ yang berbeda tone, membuat segalanya menjadi menarik, di mana Peter terjebak dalam situasi sulit. Melalui pengembangan cerita, dialog, dan akting para pemainnya yang prima, membuat penonton pun mudah berempati penuh dengan semua karakternya. Sisi humor semakin menambah pula nilai plus filmnya, membuat tak satu pun momen terasa membosankan. Hanya pada babak ketiga (klimaks), kisah filmnya terasa hanya sebagai sebuah formalitas, sebelum ditutup, lagi-lagi dengan sebuah kejutan besar.

Sejak trailer-nya muncul, kita sudah bisa melihat bagaimana pencapaian visualnya yang mengesankan seperti film-film produksi MCU lainnya. Tak perlu banyak komentar soal ini karena ini memang sudah menjadi tradisi MCU. Namun, percaya atau tidak, segmen pertarungan terbaik seri MCU, ada di film ini. Satu pertarungan berkonsep ilusi berkelas disajikan begitu istimewa layaknya “art film” melalui pendekatan “surealisme”. Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Satu aksi pertarungan superhero ini mampu membawa kita dalam satu teror dan horor luar biasa mengerikan yang disajikan dengan indah dan begitu nyata. Jauh melebihi apa yang kita lihat dalam film, macam Doctor Strange atau bahkan Inception dan Interstellar.

Spider-Man: Far from Home mampu melewati batas genre maupun serinya (MCU) dengan pencapaian mengesankan dari sisi cerita yang penuh kejutan maupun estetik yang disajikan begitu segar dan menghibur. Lagi-lagi, MCU kembali mampu menampilkan salah satu karya terbaiknya. Setelah 23 film, semua ini terasa sebagai sebuah pencapaian yang mustahil. Tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa melakukan ini semua? Mereka terus saja mendobrak batas tolak ukur genrenya, seolah dengan begitu mudahnya. Far from Home menjadi penutup fase ketiga MCU dengan gaya yang sangat berkelas. Kita hanya bisa menanti, kejutan apa lagi yang ingin disajikan MCU di fase keempat?

 

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaChild’s Play
Artikel BerikutnyaUEFA’s Short – Tottenham v Liverpool: Perayaan Puncak dalam Kemasan Filmis Istimewa
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.