Stuber (2019)
93 min|Action, Comedy, Crime, Thriller|12 Jul 2019
6.2Rating: 6.2 / 10 from 36,993 usersMetascore: 42
A detective recruits his Uber driver into an unexpected night of adventure.

Stuber merupakan film aksi komedi arahan sineas spesialis komedi asal Kanada, Michael Dowse. Uniknya, film produksi 20th Century Fox ini tercatat sebagai film berating R (dewasa) pertama yang dirilis Walt Disney Studios akibat merger Fox ke Disney beberapa waktu lalu. Stuber dibintangi beberapa nama populer, seperti Dave Bautista, Kumal Nanjiani, Mira Sorvino, Karen Gillan, serta aktor kita yang tengah mencuat namanya, Iko Uwais. Sejak tahun 1980-an, film komedi polisi dan sobatnya macam ini memang bukan barang baru di industri film, namun dengan penyegaran bintangnya, apa yang mau ditawarkan kali ini?

Victor Manning atau Vic adalah seorang polisi berdedikasi yang terobsesi menangkap gembong obat terlarang bernama Tedjo yang dulu menewaskan partnernya. Suatu ketika, di saat momen yang buruk (operasi mata berujung pada penglihatannya yang kabur), Vic mendapat informasi penting tentang keberadaan Tedjo. Vic akhirnya memesan Uber yang disopiri oleh Stu. Sang sopir pun terjebak dalam satu petualangan seru bersama Vic untuk memburu Tedjo dari satu tempat ke tempat lain.

Premisnya sebenarnya menarik, sekalipun bukan lagi satu hal yang baru. Satu film yang paling membekas dalam ingatan adalah Die Hard 3, di mana John McClane harus mencari bom di penjuru Kota New York bersama Zeus, seorang kulit hitam yang juga tukang servis elektronik. Satu pembeda tegas antara dua film ini adalah naskahnya yang lemah, berujung pada lemahnya chemistry antar dua pemain utamanya. Tak ada dialog humor cerdas, ini yang menjadikan chemistry antara keduanya menjadi kurang greget. Bandingkan dengan sosok McClane dan Zeus, sepanjang film nyaris keduanya beradu mulut yang memancing tawa kita.

Baca Juga  Brightburn

Saya sendiri kasihan melihat sosok Dave Bautista yang terlihat merana sepanjang film. Tak habis pikir, mengapa sosok Vic harus dibuat menderita dengan penglihatannya. Tanpa ini pun, sepertinya tak memengaruhi kisahnya. Vic bukan sosok polisi super yang harus dilemahkan fisiknya untuk menangkap penjahat kuat dan lincah macam Tedjo. Tak pernah ada tawa lepas di ruangan bioskop, kecuali beberapa momen kecil saja. Satu lagi, sosok Tedjo pun bisa dimainkan siapa saja tanpa harus Iko. Potensi bela diri yang ia miliki tak pernah dieksplorasi lebih jauh.

Dengan potensi premisnya, Stuber tak mampu menggigit, baik aksi maupun komedinya, akibat skrip serta penampilan para kastingnya yang lemah. Para kastingnya seolah hanya meminjam nama besar mereka, termasuk Uwais untuk mengangkat filmnya. Dengan berbekal bujet sebesar USD 16 juta, Stuber adalah salah satu contoh film terburuk di genrenya. Sang sineas pun masih belum mampu mengangkat namanya, terlebih jika film ini gagal komersial. Untuk memberi penilaian pengendara Uber ini lima bintang, sang sineas rasanya masih harus memperbaiki performa dan mengasah kemampuannya lebih dalam.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaPintu Merah
Artikel BerikutnyaAvengers: Endgame Film Terlaris Sepanjang Masa dan Update Fase 4 MCU.
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.