The Good Liar (2019)
109 min|Crime, Drama, Mystery|15 Nov 2019
6.7Rating: 6.7 / 10 from 46,964 usersMetascore: 55
Consummate con man Roy Courtnay has set his sights on his latest mark: the recently widowed Betty McLeish, worth millions. But this time, what should have been a simple swindle escalates into a cat-and-mouse game with the ultimate...

The Good Liar adalah film drama kriminal thriller arahan Bill Condon. Condon adalah sineas pembuat film musikal Dreamgirls, dua seri akhir Twilight, serta film blockbuster Disney, Beauty and the Beast. Film berbujet USD 10 juta ini dibintangi oleh 2 pemain kawakan, Ian McKellen dan Helen Mirren. Kisah filmnya diadaptasi dari novel karya Jonathan Searle. Lantas, apakah kombinasi talenta sang sineas dan dua bintang gaeknya mampu membuat film ini berkualitas?

Alkisah si kakek tua Roy adalah seorang penipu kelas kakap. Bersama rekannya, ia membuat skenario kecil berkedok investasi untuk menjebak para korban hingga lalu menyedot tabungan mereka. Hingga suatu ketika, Roy berkencan via online dengan seorang perempuan tua bernama Betty. Awalnya hanya sekadar berkencan, namun dalam perkembangan, Roy rupanya melihat Betty sebagai target berikutnya.

Satu poin besar yang paling memukul kisah film ini adalah plotnya yang terlalu mudah kita antisipasi. Dibuka dengan title sequence yang menawan, film ini berjalan menarik sebelum titik balik cerita pertama muncul. Setelah ini, semua berjalan teramat datar, nyaris tanpa tensi yang meningkat, dan tak ada banyak misteri karena entah bagaimana, kita bakal tahu apa yang terjadi. Usaha untuk memasukkan plot kilas balik tidak lantas membuat film ini mampu meningkat intensitas dramatiknya. Harapan kejutan hanyalah angan-angan belaka. Entahlah, apakah kisah novelnya memang sudah seperti ini, atau memang naskahnya yang buruk? Tak bisa dipercaya.

Baca Juga  Clash of the Titans

Kelemahan plotnya membunuh semua talenta pemain dan sineasnya. Kita tahu, penampilan McKellen dan Mirren tidak akan mengecewakan dalam peran terhitung mudah seperti ini. Tak ada cukup chemistry dari mereka berdua yang bisa mengangkat kisah filmnya. Mereka seperti terjebak dalam rutinitas peran tanpa bisa mendalami karakternya lebih jauh. Adegan klimaksnya yang sudah bisa kita duga sejak awal justru menjadi antiklimaks. Sementara Condon dengan kelebihannya telah bekerja maksimal, melalui sisi sinematografi yang kuat, warna gambar, dan tempo editingnya yang “sabar”, namun tetap tak mampu banyak menolong filmnya. Sungguh sayang sekali.

Menyiakan-nyiakan penampilan dua bintangnya serta talenta sang sineas, The Good Liar terjebak dalam satu konflik yang terlalu mudah diantisipasi kisahnya. Dengan segala potensi kisahnya, para pembuat film mestinya mampu mengukur kekuatan naskahnya sejak awal. Sungguh mengherankan. Filmnya memang tidak buruk, namun kisah sejenis yang jauh lebih baik, sudah terlalu banyak.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaRumah Kentang: The Beginning
Artikel BerikutnyaDark Waters
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.