The Lion King (2019)
118 min|Animation, Adventure, Drama, Family, Musical|19 Jul 2019
7.2Rating: 7.2 / 10 from 50,414 usersMetascore: 55
After the murder of his father, a young lion prince flees his kingdom only to learn the true meaning of responsibility and bravery.

Hanya selisih sekitar 2 bulan setelah rilis Aladdin, Disney kembali merilis remake film animasi populer mereka, yakni The Lion King. Setelah sukses besar dengan remake film animasi The Jungle Book (2016), John Favreau kini kembali dipercaya mengarahkan film ini dengan dibekali bujet produksi USD 266 juta. Saya sendiri kurang sependapat dengan istilah remake live action karena Disney sejatinya hanya mengganti jenis animasi 2D dengan 3D, kecuali mungkin gambar asli panorama latarnya. Seperti pendahulunya, kini bintang-bintang ternama juga mengisi suaranya, seperti Donald Glover, Beyonce Knowles, Seth Rogen, Chiwetel Eijowor, serta aktor gaek legendaris, James Earl Jones yang kembali mengisi suara Mufasa. Setelah sukses dengan film remake sebelumnya, apa kini sang sineas mampu menghidupkan kembali film animasi ikonik ini?

Saya pikir, tak perlu ringkasan kisah filmnya karena alur ceritanya sama persis film orisinalnya (versi bioskop). Bagi yang sudah akrab dengan film aslinya, jelas tak banyak kejutan kecuali hanya menikmati sisi visualnya saja. Tercatat, hanya ada beberapa adegan kecil yang tidak ada dalam kisah film sebelumnya, namun itu pun tak memengaruhi kisahnya. Satu momen yang paling menarik adalah ketika bulu Simba yang terbang begitu jauh hingga akhirnya jatuh ke tangan sang monyet tua, Rafiki.

Secara keseluruhan dari sisi cerita, nyaris tak ada yang bisa dikomentari. Apa yang mau dikomentari jika alur ceritanya merupakan carbon copy film aslinya, baik pengadeganan hingga dialog. Versi animasinya yang dirilis tahun 1994 memang tak tergantikan dan sang sineas pun sepertinya menyadari betul ini. Segmen pembuka filmnya yang sangat ikonik bahkan dibuat sama persis shot per shot seperti opening film aslinya, berlatar lantunan lagu “Circle of Life” yang kini dilantunkan dengan logat Afrika. Walau sekuennya sama persis tapi masih mampu membuat bulu kuduk merinding, padahal versi animasinya entah sudah berapa puluh kali saya tonton.

Baca Juga  Aladdin

Bisa jadi karena sudah terlalu akrab dengan film aslinya, baik adegan, dialog, bahkan segmen musikalnya, saya hampir tidak bisa menikmati filmnya. Semuanya sama sehingga seolah hanya melihat gambar yang berbeda, namun dengan ruh film aslinya. Rasanya tak perlu komentar soal pencapaian visualnya yang superior dan saya menyukai penyajian adegannya yang kini lebih “realistis” ketimbang versi animasinya yang rada “absurd”, khususnya pada segmen musikalnya, seperti misalnya segmen “I Just Can’t Wait to Be King”. Segmen musikal yang amat berkesan bagi saya, justru adalah “Be Prepared” yang disajikan dengan lantunan vokal berbeda (dari versi animasi) yang dibawakan oleh sang aktor, Chiwetel Ejiofor. Bicara ilustrasi musik yang menjadi salah satu kekuatan film (asli)-nya, tentu tak lepas dari sang komposer, Hanz Zimmer yang kembali direkrut untuk remake-nya kali ini. Lalu bicara lagu, siapa pula yang mampu menggantikan suara vokal Elton John?

Seperti remake animasi Disney baru lalu yang hanya mendompleng roh film aslinya, The Lion King tidak menawarkan sesuatu apa pun kecuali pencapaian visual yang mengagumkan. Pencapaian akting suara (dialog) memang adalah salah satu kekuatan versi aslinya. Merekrut James Earl Jones jelas tak mampu mengangkat film remake-nya ini secara keseluruhan. Baik Nathan Lane (Timon), Rowan Atkinson (Zazu), Whoopy Goldberg (Shenzi) serta Jeremy Irons dengan suara karismatiknya sebagai Scar memang sangat sulit tergantikan. Mereka semua ini adalah yang memberi roh pada filmnya.

The Lion King (1994) adalah salah satu film paling berkesan dan personal bagi saya karena adalah film bioskop terakhir yang saya tonton berdua bersama ayah saya, semasa masih kuliah. Temanya pun kebetulan tentang hubungan antara ayah dan putranya. Dalam beberapa momen, filmnya terasa seperti nostalgia dan tanpa sadar mata pun basah. Di luar pengalaman personal ini, The Lion King (1994) adalah salah satu pengalaman sinematik terbaik yang pernah saya tonton di bioskop serta merefleksikan banyak tentang kehidupan yang tidak pernah ada bosannya saya tonton.

Namun, di atas segalanya, pencapaian komersial kini adalah target pokoknya. Bersama Aladdin, Toy Story 4, 3 film superhero Marvel Cinematic Universe, serta Star Wars Episode 9, Disney sepertinya bakal merajai kembali box office tahun ini dan tak mustahil seluruh film ini (tujuh film) mencapai angka di atas USD 1 miliar. Wanna bet?

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaLewati USD 1 Miliar, Spider-Man 3 Bakal Diproduksi
Artikel BerikutnyaThe Wandering Earth
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.