Zombieland: Double Tap (2019)
99 min|Action, Comedy, Horror|18 Oct 2019
7.2Rating: 7.2 / 10 from 21,645 usersMetascore: 56
Columbus, Tallahassee, Wichita, and Little Rock move to the American heartland as they face off against evolved zombies, fellow survivors, and the growing pains of the snarky makeshift family.

Setelah lewat satu dekade sejak rilis Zombieland (2009), kini film sekuelnya dirilis. Zombieland adalah satu film subgenre zombi terbaik yang unik dengan humor berkelasnya bersama sesekali eksplorasi sinematiknya. Sekuelnya, Zombieland: Double Tap masih pula diarahkan oleh Ruben Fleischer dengan para bintang yang sama, yakni Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, Abigail Breslin, serta beberapa bintang, seperti Rosario Dawson, Luke Wilson, hingga cameo Bill Murray. Setelah sekian lama, apa lagi yang mau ditawarkan sekuelnya?

Entah berapa lama sejak peristiwa pertama, yang jelas wabah zombi masih melanda AS dengan bersisa segelintir manusia. Empat jagoan kita, Columbus, Tallahassee, Wichita, dan Little Rock kini hidup nyaman setelah sekian lama berlindung di gedung putih. Sementara Little Rock yang kini telah beranjak dewasa, mulai merasa bosan dengan situasi di sana hingga akhirnya memaksa sang kakak untuk pergi dari sana menuju Graceland. Columbus dan Tallahassee pun menyusul mereka.

Dengan masih menggunakan gaya estetik seri sebelumnya, Double Tap membuka filmnya dengan opening yang menghentak yang lagi-lagi dibuka dengan alunan musik dari Metallica. Narasi dari Columbus kembali menjelaskan situasi yang kini tengah terjadi serta sisipan-sisipan adegan di luar plot utama, misal saja best zombie kill of the year, memang ini masih mengundang tawa. Namun, plot utamanya sangat jauh dari seri pertamanya. Gelagat buruk mulai tercium sejak awal, di mana kisahnya nyaris tak ada konflik berarti dengan hanya mengandalkan sisi humor tokoh-tokohnya. Kadang memang lucu, namun kebanyakan garing. Tak banyak tawa di bioskop yang nyaris penuh penonton.

Baca Juga  Darkest Hour

Sepanjang film, alur plotnya teramat datar dan kisahnya pun jelas terlalu mudah untuk diantisipasi. “Sense of danger” sudah tak lagi terasa dan kita pun tidak pernah merasa tokoh-tokohnya dalam situasi bahaya. Seberapapun genting situasinya. Ini yang membuat segalanya menjadi melelahkan. Sosok baru, si dungu Madison tidak lantas membuat suasana menjadi lebih meriah, justru membuat humornya jadi berlebihan. Bagaimana sosok seperti ini bisa bertahan dalam lingkungan berbahaya macam ini? Jawabnya adalah masuk dalam freezer. Really? Bahkan menjawab bagaimana listrik yang masih menyala pun (zombieland), dijawab mereka sendiri melalui dialognya yang memaksa. Saya geli mendengarnya, melihat genrenya saja, dialog macam ini sudah tak perlu. Satu lagi, saya penasaran sekali mengapa sosok zombi “ninja” tak pernah muncul?

Zombieland: Double Tap kehilangan ruh estetik dan selera humor seri pertamanya dengan plot dan humor yang memaksa, serta para pemainnya yang kini sudah terlalu tua untuk perannya. Permainan dan gimmick estetiknya tampak hanya merupakan pengulangan seri pertama. Ya tentu sah-sah saja tapi sesekali mengapa tidak menggunakan satu teknik yang lebih segar. Seri pertamanya masih jauh lebih kaya dari sekuelnya ini. Para pemain bintangnya? Saya sudah singgung di atas, dan aneh rasanya, melihat sosok Emma Stone yang sudah meraih Oscar untuk La La Land bermain dalam film seperti ini. Abigail Breslin jelas sudah terlalu tua untuk perannya, mungkin ini mengapa ia mendapat screen time yang lebih sedikit. Sebagai penutup, film ini jelas jauh di bawah seri pertamanya dari sisi manapun, namun bagi fansnya, silahkan saja. Toh filmnya sesekali memang menghibur.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Superboy
Artikel BerikutnyaSUSI SUSANTI: LOVE ALL
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.