Us (2019)
116 min|Horror, Mystery, Thriller|22 Mar 2019
6.8Rating: 6.8 / 10 from 340,837 usersMetascore: 81
Adelaide Wilson and her family are attacked by mysterious figures dressed in red. Upon closer inspection, the Wilsons realize that the intruders are exact lookalikes of them.

Setelah sukses dengan Get Out (2017), Jordan Peele kini kembali dengan film horor terbarunya, Us (2019) yang naskahnya kembali ia tulis sendiri. Berbujet US$ 20 juta, film ini juga kembali diproduseri Peele sendiri bersama produser kenamaan, Jason Blum dan Sean McKittrick. Film ini sendiri dibintangi Lupita Nyong’ O, Winston Duke, dan Elizabeth Moss. Get Out mendapat pujian selangit dari para ktitikus dan banyak festival film karena keunikan temanya, Us rupanya membuktikan sekali lagi jika Peele memiliki talenta yang tak bisa dianggap remeh.

Dikisahkan Adelaide berlibur bersama keluarganya di sebuah kota kecil di tepi pantai. Adelaide merasakan beberapa kejanggalan aneh selama di sana yang dianggap sang suami hanya kecemasan berlebihan. Tidak hingga suatu malam, seorang keluarga misterius meneror mereka.

Hanya itu plotnya? Tentu tidak. Plotnya justru lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Awal kisahnya memang boleh dibilang sedikit datar karena perpindahan alur plot menuju konflik yang terasa cukup lama. Tapi setelahnya, kisah bisa dibilang berjalan nonstop tanpa henti! Ketegangan demi ketegangan terus disajikan dengan pertanyaan besar di otak kita tentang sosok-sosok yang meneror mereka. Berjalannya cerita, bukannya semakin terkuak justru misteri semakin menjadi. Sang sineas mampu mempermainkan plotnya dengan diimbangi oleh aksi-aksi “horor” yang berkelas. Tanpa efek visual serta trik horor modern, namun Peele mampu menampilkan efek teror luar biasa, tidak hanya para pemain dalam cerita tapi juga penonton. Persis seperti Get Out, sisipan komedinya dikemas secara halus dan brilian meski aksinya serius atau bahkan brutal sekalipun. Kita bahkan nyaris menikmatinya.

Baca Juga  Blood Red Sky

Jika sudah menonton Get Out, kita tentu sadar benar jika Peele menampilkan segala sesuatunya tidak seperti yang tampak dalam kisahnya. Semuanya serba simbolik. Hebatnya, sang sineas tidak terjebak dalam tema yang sama, “black power”, yang kini tengah panas-panasnya dalam industri film Hollywood. Sekalipun para pemain utamanya berkulit hitam, namun kisahnya ternyata adalah bukan tentang mereka. Kepada mereka Adelaide bertanya, “apa yang kalian inginkan dan siapa kalian? Dijawab dengan sangat gamblang, “Amerika!”. Kita tidak berbicara soal ini lebih jauh tapi tak sulit untuk bisa melihat bahwa para peneror adalah metafora alam bawah sadar masyarakat AS yang merupakan bentuk ketakutan mereka terhadap sesuatu yang dianggap mengancam kenyamanan mereka. Boleh dibilang ketakutan itu hanya ada dalam pikiran mereka sendiri. Musuh mereka sejatinya adalah mereka sendiri. Judulnya saja sudah US, “United States”.

Us adalah satu lagi horor-thriller cerdas dari sang sineas yang tidak hanya segar untuk genrenya, namun juga kedalaman kontennya. Peele harus diakui sebagai salah satu sineas berbakat dalam industri film di AS kini. Tak banyak, film yang memiliki keseimbangan antara sisi seni dan komersial semacam ini sekaligus sebagai bentuk kritik sosial. Baik plot, opening credit, pengadeganan, dialog, aksi, musik, setting, kamera, dan editing, semuanya dikonsep secara matang dan unik, menjadi sebuah film dan tontonan yang sangat berkelas. Tak heran, jika tahun depan film ini bakal berjaya dalam ajang Golden Globe ataupun Academy Awards.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaCaptain Marvel Bakal Tembus US$ 1 B?
Artikel BerikutnyaPohon Terkenal
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.