Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

136 min|Action, Adventure, Fantasy|21 Jul 2017
6.4Rating: 6.4 / 10 from 196,793 usersMetascore: 51
A dark force threatens Alpha, a vast metropolis and home to species from a thousand planets. Special operatives Valerian and Laureline must race to identify the marauding menace and safeguard not just Alpha, but the future of the …

Valerian and the City of a Thousand Planets adalah film fiksi ilmiah yang didasarkan komik seri Perancis berjudul Valerian and Laureline. Film ini sendiri digarap oleh sineas kawakan Luc Besson dengan mencatat sejarah sebagai film produksi Eropa yang termahal hingga kini, yakni sekitar US$200 juta. Film ini dibintangi oleh bintang-bintang muda seperti Dane DeHaan, Cara Delevingne, Rihanna, serta beberapa aktor senior, Clive Owen dan Ethan Hawke.

Valerian dan Laureline adalah sepasang agen khusus yang mewakili ras manusia. Suatu ketika mereka mendapatkan misi rahasia untuk mendapatkan sebuah benda yang diistilahkan converter. Setelah misi rampung, mereka menuju sebuah mega city di luar angkasa bernama Alpha yang berisi ribuan ras di dalamnya, untuk bertemu dengan atasan mereka. Tanpa mereka duga, converter tersebut ternyata berhubungan dengan sebuah energi misterius yang berasal dari inti kota yang dapat menghancurkan Alpha.

Film dibuka dengan amat manis melalui montage yang menggambarkan dari masa ke masa bagaimana teknologi dan peradaban manusia berubah dengan kehadiran berbagai ras makhluk asing di alam semesta raya. Setelahnya, tanpa henti kita disajikan pencapaian visual  yang amat sangat mengesankan, layaknya film Avatar garapan James Cameron. Beberapa segmen memang tampak artifisial, namun gambaran visualisasi karakter hingga set dalam banyak segmen sungguh-sungguh tampak nyata. Keindahan visual inilah memang yang menjadi hidangan utama film ini.

Baca Juga  Mission: Impossible - Dead Reckoning Part 1

Valerian jelas mengingatkan banyak pada The Fifth Element yang memiliki elemen cerita maupun estetik yang sama, dari set, kostum, hingga musik. Namun, dari sisi cerita walau sama-sama bertempo cepat Valerian cenderung lebih rumit, terlebih mata kita selalu terbuai dengan keindahan visual yang tersaji. Satu kelemahan terbesar Valerian adalah tidak adanya sosok tokoh yang kuat dan berkarakter. Hal ini jauh berbeda dengan Fifth Element, yang memiliki sosok-sosok karismatik dan unik, dengan bintang-bintang besar macam Bruce Willis, Milla Jovovich, Chris Tucker, hingga Gary Oldman. Bahkan hingga karakter-karakter pendukung di film ini pun masih sangat berkesan. Valerian juga tidak memiliki sentuhan humor tinggi layaknya Fifth Element walaupun sudah ada usaha ke arah ini. Hal inilah rasanya yang membuat kisah Valerian berkesan serius dan melelahkan.

Valerian and the City of a Thousand Planets menjual kenikmatan visual dengan kisah yang sebenarnya memiliki potensi lebih dalam untuk digali. Setelah Lucy, saya pikir karya-karya Luc Besson akan lebih dewasa mengeksplor kisah bernuansa filosofis, namun nyatanya tidak. Prinsipnya, Valerian hanyalah versi berbeda dari The Fifth Element, namun tanpa bisa memberikan kesan banyak setelah menonton. Valerian memang membuktikan jika film produksi Eropa mampu bersaing secara estetik dengan film-film produksi Hollywood. Namun, Kita lihat saja bagaimana tanggapan pasar, apakah bujet produksi sekitar US$200 juta ini akan sia-sia?
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaThe Doll 2
Artikel BerikutnyaOverdrive
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.