WALL·E (2008)
98 min|Animation, Adventure, Family, Sci-Fi|27 Jun 2008
8.4Rating: 8.4 / 10 from 944,782 usersMetascore: 95
In the distant future, a small waste-collecting robot inadvertently embarks on a space journey that will ultimately decide the fate of mankind.

Pixar rupanya melanjutkan tradisi sukses baik kritik maupun komersil melalui film animasi terbaru mereka, Wall.E. Film ini diarahkan Andrew Stanton yang sebelumnya juga terlibat dalam produksi film-film animasi istimewa Pixar seperti Finding Nemo dan Ratatoullie. Satu hal yang tak lazim ketika menonton film ini di bioskop-bioskop kita adalah penggunaan dubbing Bahasa Indonesia untuk seluruh dialog dalam filmnya.

Kisah filmnya jauh berbeda dengan film-film produksi Pixar sebelumnya dengan mengambil latar cerita ratusan tahun dari masa sekarang. Alkisah umat manusia telah merusak bumi demikian dahsyatnya hingga tidak layak lagi untuk dihuni. Ribuan manusia bumi berimigrasi dan bermukim di luar angkasa dengan sebuah pesawat angkasa super modern bernama Axiom. Ratusan tahun kemudian bumi dikisahkan kosong-melompong, dipenuhi rongsokan sampah besi, serta puing-puing bangunan tanpa menyisakan satu manusia pun. Satu-satunya dinamika kehidupan masa lalu hanyalah sebuah robot pekerja bernama Wall.E. (singkatan: Waste Allocation Load Lifter Earth-Class) Sang robot mungil ini masih saja terus bekerja mengumpulkan serta memadatkan besi-besi rongsokan dan menyusunnya yang entah telah berapa lama ia lakukan. Suatu ketika pesawat asing datang ke bumi dan meninggalkan sebuah robot observasi modern bernama Eve. Wall.E yang kesepian berusaha menjalin hubungan persahabatan dengan sang robot dan “jatuh hati” padanya.

Tidak ada kata-kata lain selain “Wow…” menikmati segala suguhan yang ada di film ini. Secara visual, gambar (CGI) sepertinya jauh lebih halus dari film-film produksi Pixar sebelumnya. Setting kota (bumi) tempat sang robot kesepian yang terlantar ratusan tahun mampu digambarkan dengan sempurna sejak awal pembuka film, sangat kontras dengan suasana interior pesawat angkasa Axiom yang penuh warna, meriah, dan super modern dimana manusia dimanjakan (diperbudak) oleh para robot. Ceritanya sendiri mengingatkan pada film fiksi-ilmiah klasik, 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick dimana robot (Artificial Intelligence) akhirnya mengambil-alih kendali dari manusia. Beberapa unsur serta banyolan dalam banyak adegannya juga banyak diambil dari Space Oddysey, seperti sang robot jahat bermata merah, ilustrasi musik klasik The Blue Danube dan Sprach Zarathustra, serta adegan melayang-layang di luar angkasa.

Baca Juga  The Gallows

Seperti film-film produksi Pixar sebelumnya, film ini mampu memadukan unsur aksi, drama, roman, serta komedi dengan sangat sempurna. Semua orang dari segala usia dijamin akan mampu menikmati film yang sangat menghibur ini. Film animasi ini juga lebih dari sekedar film anak-anak. Nilai-nilai seperti rasa persahabatan, team-work, keberanian, serta semangat pantang-menyerah masih dominan, seperti halnya juga tampak dalam Toy Story, Monster Inc., Finding Nemo, The Incredible, hingga Ratatoullie. Namun sedikit berbeda, Wall.E sarat dengan pesan-pesan lingkungan hidup, “save earth for our future (children)”, betapa berharganya memelihara kehidupan walau sekecil apapun. Wall.E dan Eve juga bisa disimbolkan sebagai sosok Adam dan Hawa yang membawa awal kehidupan baru bagi umat manusia di bumi. Tidak perlu diragukan lagi, sejauh ini Wall.E merupakan kandidat terkuat peraih Oscar untuk film animasi terbaik tahun depan.

Sungguh sangat disayangkan satu hal yang merusak segala keindahan dalam film ini justru penggunaan dubbing Bahasa Indonesia. Walau nyaris tanpa dialog pada separuh cerita awal namun tidak demikian halnya pada separuh akhir cerita. Dubbing menyebabkan kita (saya setidaknya) tidak bisa “masuk” dalam dialog filmnya, karena terdapat rasa bahasa, intonasi, aksen yang berbeda dalam bahasa aslinya. Kita tidak bisa mendengar suara para aktor yang mengisi suara aslinya. Banyolan-banyolan barat yang terlontar rasanya menjadi aneh, seperti layaknya menonton kartun anak-anak di televisi. Oklah… boleh jadi film ini memang lebih ditujukan untuk anak-anak, but what about us… para pecinta film. Negara ini tidak memiliki tradisi dubbing layaknya beberapa negara di Eropa serta Asia lalu apa lantas penonton tidak memiliki hak untuk memilih. Agak sulit menilai film ini tanpa menggunakan bahasa aslinya, jujur saja, jika sejak awal tahu, saya tidak bakal menonton filmnya. Film ini begitu istimewa, alangkah baiknya jika Anda, para pecinta film, menonton dalam bahasa aslinya.

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaThe Mummy: Tomb of the Dragon Emperor
Artikel BerikutnyaIsengnya Godard
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.