War for the Planet of the Apes (2017)

140 min|Action, Adventure, Drama|14 Jul 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 278,180 usersMetascore: 82
After the apes suffer unimaginable losses, Caesar wrestles with his darker instincts and begins his own mythic quest to avenge his kind.

War for the Planet of the Apes adalah film penutup dari dua seri sebelumnya, Rise of Planet of the Apes  (2011) dan Dawn of the Planet of the Apes (2014). Film ini masih disutradarai oleh Matt Reeves yang juga menggarap seri keduanya. Seri ketiga kali ini dibintangi oleh Andy Serkis, Woody Harrelson, dan Steve Zahn. Film kedua diapresiasi sangat tinggi baik secara kritik maupun komersial, serta dianggap sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa, lalu bagaimana seri ketiganya ini?

Opening filmnya dibuka dengan manis melalui teks yang menjelaskan latar belakang film ini melalui plot dua film sebelumnya. Perang antara pihak kera dan manusia berlangsung bertahun-tahun sejak peristiwa film sebelumnya. Caesar, sang pemimpin kaum kera, memilih bertahan di hutan dengan berharap suatu hari mereka bisa berdamai dengan manusia. Sementara rumor beredar, seorang kolonel bertangan besi bernama McCullough, memimpin sepasukan militer dengan cara radikal membasmi semua kera serta manusia yang dianggap terkena gejala Flu Samian. Caesar yang memilih jalan kompromi dipaksa untuk mengambil jalan berbeda ketika sang kolonel mulai membunuh kera-kera yang dikasihinya.

Film dibuka dengan brilian melalui gaya dan tone yang sama dengan pembuka film keduanya. Disajikan melalui shot-shot yang sangat mengesankan menggambarkan pertempuran antara pihak kera dan manusia. Musik dan efek suara bekerja efektif dengan amat kuat mengiringi segmen ini, serta tentunya didukung pencapaian efek visual (CGI) yang luar biasa. Ekspektasi lebih mulai membayang, namun ketika kisah filmnya berpindah ke babak kedua, mendadak tone filmnya berubah drastis. Kita tahu sejak film kedua, Caesar adalah sosok kera yang bijak, namun kali ini ia diuji lebih jauh, dan kita tahu film ini mau mengarah kemana setelahnya. Sosok gadis kecil yang menyertai mereka semakin mempertegas nuansa simbolik filmnya. Saya tidak berbicara sisi eksplorasi tema atau simbolik di sini, namun adalah kemasan kisahnya yang membedakan War dengan dua film sebelumnya.

Baca Juga  Inception, Memaknai Mimpi dan Realita

Tribute terhadap film-film klasik menjadi unsur pembeda. Uniknya tidak hanya satu film, namun beberapa film klasik besar sekaligus. Setidaknya saya melihat elemen cerita serta pengadeganan dari film-film klasik macam Apocalypse Now, The Searchers, Benhur, The Great Escape, hingga The Ten Commandments. Bahkan tokoh si kera tua banyak mengingatkan pada sosok Yoda yang kekanakan (Empire Strikes Back). Sang kolonel yang dingin jelas-jelas mengingatkan pada sosok Kolonel Kurtz pada Apocalypse Now, serta sejumlah tribute lainnya. Hal ini yang membuat War menjadi sangat menarik dan berbeda dengan sebelumnya. Hebatnya, tribute film-film ini tidak terkesan tempelan, namun bisa menyatu utuh dengan kisah perjalanan Caesar. Banyak hal bisa dibincangkan di sini, namun tentu bakal mengurangi kenikmatan bagi yang belum menontonnya. Hanya saja, entah mengapa saya tidak merasakan emosi seperti pada film kedua yang begitu menyentuh.

Berbeda gaya dengan sebelumnya, War for the planet of the Apes penuh dengan tribute dalam kisahnya, namun tanpa kedalaman emosional cerita seperti seri sebelumnya. Ketiga film ini adalah yang terbaik dari franchise Planet of the Apes pada era 1970-an, bahkan boleh dibilang adalah salah satu trilogi fiksi ilmiah terbaik yang pernah diproduksi. Matt Reeves harus diakui adalah seorang sineas yang memiliki talenta sangat tinggi dan kuat, baik di sisi cerita serta semua aspek sinematik. Menarik untuk ditunggu film-film karya berikutnya, termasuk The Batman, bagaimana ia mengeksplorasi sosok ikonik yang telah sekian banyak dibuat sineas lain.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel Sebelumnya“After Taste” Dunkirk
Artikel BerikutnyaThe Doll 2
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.