Wengi: Anak Mayit merupakan film horor besutan sutradara Nayato Fio Nuala. Sang sineas telah malang melintang di dunia industri perfilman kita dengan memproduksi puluhan film dari berbagai genre. Namun, genre horor yang paling banyak ia produksi, diantaranya Bangkit dari Kubur (2012), After School Horror (2014), Horror House (2015), dan Hantu Jeruk Purut Reborn (2017). Wengi dibintangi oleh Sara Wijayanto yang tampil dominan bersama aktris cilik, Atiyah Shahab. Sara telah berakting sebagai seorang paranormal di seri film horor sukses The Doll (2016), dan dua serinya, The Doll 2 (2017), dan Sabrina (2017). Namun, kali ini ia berperan sebagai orang awam yang mengalami hal-hal gaib. Sebagai seorang public figure sendiri, Sara memang dikenal memiliki kemampuan supranatural yang bersinggungan dengan hal mistis. Kemampuannya tersebut menjadi salah satu daya tarik untuk menggaet penonton.

Filmnya bercerita tentang seorang ibu bernama Dewi (Sara Wijayanto) dan putrinya Bella (Atiyah Shahab) yang pindah rumah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dewi mendapatkan rumah warisan dari ibunya. Di rumah besar tersebut hanyalah ada Mbok Ratmi (Jajang C. Noer), namun sejak Dewi dan Bella datang, ia bersikap dingin dan aneh. Ada sebuah pintu terlarang yang tak boleh dibuka, namun secara tak sengaja dibuka oleh Bella karena penasaran. Setelah pintu itu dibuka, banyak kejadian aneh yang menimpa mereka berdua. Kejadian-kejadian aneh terus menimpa Dewi dan membuatnya untuk mencari pertolongan.

Plot film horor teror rumah berhantu macam ini telah banyak diproduksi. Tak ada yang baru dalam cerita filmnya. Terlebih formula plot, “pintu terlarang” yang tak boleh dibuka sudah terlalu sering kita temui. Setelah pintu dibuka, kita sebagai penonton, sudah pasti mengetahui kelanjutan kisahnya, teror pun dimulai. Dalam kisah filmnya ini, aneh rasanya, untuk sebuah pintu terlarang yang tak boleh dibuka, namun pintu itu tak dikunci atau digembok, dan dengan mudah bisa dibuka.

Baca Juga  Insya Allah Sah

Kelemahan cerita juga terlihat dari background kisahnya yang tak memiliki informasi lengkap, serta motif yang lemah. Dewi memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta karena seseorang mengabarinya jika ia mendapat warisan rumah. Siapa orang tersebut, sepanjang kisahnya tak pernah terungkap. Beberapa kejanggalan lain juga terlihat yang menunjukkan kualitas naskah yang lemah. Sesampainya di rumah tersebut, aneh sekali jika Dewi bertanya kepada Mbok Ratmi ada berapa kamar di rumah tersebut, sedangkan setelahnya ternyata Dewi pernah tinggal di rumah tersebut dari satu dialog dari si penjaga rumah. Kisahnya mulai terasa bergerak ketika seorang paranormal datang, namun anehnya ia tak lagi muncul di babak setelahnya, padahal ia mengatakan akan membantu Dewi.

Pengembangan cerita juga terkesan tanggung dan datar. Kita hanya disuguhi adegan teror yang dialami Dewi yang sudah bisa kita antisipasi tanpa unsur suspense. Sang sineas mencoba membangun beberapa kejutan, namun tanpa detail cerita tentu agak susahuntuk penonton bisa masuk. Terlebih karakterisasi sosok hantu yang digambarkan terlalu gamblang dengan trik horor yang berulang. Selain kisahnya yang biasa, secara teknis film ini juga terbilang tak terlalu mapan. Untuk kelas film layar lebar, namun mood-nya masih terlihat seperti film independen. Beberapa shot tampak kurang intensitas pencahayaan dan berbintik (grainy). Ditilik dari kualitas dan momen rilisnya, rasanya film ini agak berat bersaing dengan Suzzanna: Bernafas dalam Kubur yang kini tengah booming. Film horor kita kini semakin bersaing menunjukkan kualitasnya, baik secara teknis maupun cerita. Contohnya saja, Danur Universe yang sukses komersial, walau kisahnya banyak kelemahan, namun memiliki kualitas teknis yang sangat mapan.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel Sebelumnya20 FILM HOROR INDONESIA TERLARIS SEPANJANG MASA
Artikel BerikutnyaMortal Engines
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini