Marvel Studios kembali merilis film terbarunya yang terbilang paling unik. Film berdurasi 53 menit yang ditujukan untuk platform Disney + ini bertajuk special presentation, walau kisahnya masih kontinuiti dengan Marvel Cinematic Universe (MCU). Werewolf by Night diarahkan oleh Michael Giacchino. Giacchino?? Bukankan dia adalah seorang komposer? Betul, nama ini adalah orang yang sama. Film ini dibintangi aktor kondang asal Mexico, Gael Garcia Bernal, didampingi Laura Donnely, dan Harriet Sansom Harris. Lalu, sejauh apa keunikan filmnya?

“Good luck, I’ll be rotting for you”

Pada satu masa dan tempat, seorang pemburu monster legendaris, Ullyses Bloodstone akhirnya tutup usia di mansion-nya. Ullyses meninggalkan satu artefak maha ampuh bernama bloodstone yang konon bisa membunuh monster sekuat apapun. Sang janda, Verussa (Harris) mengundang seluruh pemburu monster kelas satu untuk mengukuhkan siapa yang berhak atas artefak tersebut. Jack Russel (Bernal) adalah salah satu yang diundang, termasuk pula putri Ullyses, Elsa (Donnely). Untuk mendapatkan artefak tersebut, para pemburu harus mengalahkan seekor monster tangguh yang disekap dalam labirin. Protagonis kita, Jack, ternyata memilik agenda lain dan ia rupanya bukan seperti yang kita pikir.

Wow. Sungguh menyenangkan melihat Marvel Studios yang kini telah menjadi studio raksasa, bermain-main dengan medium film dan semesta sinematiknya. Tercatat, Werewolf by Night adalah satu karya MCU yang memiliki tribute klasik paling kental, dan jika boleh saya bilang, paling passionate terhadap medium film. Peran sang produser jenius, Kevin Feige masih ada di balik semua pencapaian ini. Tidak hanya secara cerita, namun secara estetik pun menggunakan pendekatan klasik.

Bagi fans penikmat horor klasik Hollywood era 1930-an atau film klasik secara umum, ini adalah waktu kalian untuk bersenang-senang. Hanya sayangnya, durasi film ini hanya 50 menit. Sejak opening logo Marvel Studios, nuansa genre horor klasik telah terasa. Dengan balutan warna hitam putih, akur kisahnya bertutur sederhana dan lugas dengan dukungan set khas ala horor klasik dengan sentuhan ekspresionisnya. Bahkan hingga dialog dan akting pun terasa sekali membawa nuansa eranya. Aksinya disajikan begitu menegangkan dan intens dengan beberapa twist di pertengahan jalan. Bicara ilustrasi musik yang juga diaransemen sang sineas, jelas tak perlu komentar lagi, sensasinya sama persis ketika kita menonton film horor masanya. Ending-nya pun masih memberikan kejutan estetik yang tak disangka-sangka, diiringi lagu ikonik Somewhere Over the Rainbow (The Wizard of Oz).

Baca Juga  Murder on the Orient Express

Melalui tribute dan pendekatan estetik klasiknya, Werewolf by Night adalah salah satu produk MCU terbaik. Film macam ini yang rasanya ditunggu penikmat film sejati sekaligus fans MCU. Melalui sukses film dan serinya, MCU kini telah berada di wilayah teritori baru yang belum tersentuh pembuat film mana pun. Dengan bermodal bujet dan semesta sinematiknya, MCU semudah menjetikkan jari untuk memproduksi film-film dengan gaya dan teknik apapun. Harapan saya adalah para pembuat filmnya lebih berani lagi melakukan terobosan serta eksplorasi tema dan estetik untuk menyumbang sesuatu baru dan segar bagi medium film. Werewolf by Night, termasuk seri WandaVision dan LOKI adalah satu contoh terbaiknya.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaAnimal (Festival Sinema Prancis)
Artikel BerikutnyaTokyo Shaking (Festival Sinema Prancis)
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.