Movie-Poster
Movie Poster

Tahun Produksi: 2014
Negara: New Zealand
Sutradara: Taika Waititi/Jemaine Clement
Produser: Taika Waititi/Chelsea Winstanley/Emanuel Michael
Penulis Naskah: Taika Waititi/Jemaine Clement
Pemain: Taika Waititi/Jemaine Clement/Jonathan Brugh/Ben Fransham
Sinematografi: Richard Bluck/D.J. Stipsen
Editing: Tom Eagles/Yana Gorskaya/Jonathan Woodford-Robinson
Ilustrasi Musik: Plan 9 Music
Studio: Funny or Die/New Zealand Film Comission
Distributor: Madman Entertainment
Durasi: 85 menit
Bujet: US$ 1.6 juta

Apa saja yang dilakukan vampir dalam menghabiskan waktu kesehariannya di tengah keabadiannya? What We Do in the Shadows dengan penuturan unik bergaya dokumenter menawarkan sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat di film-film ber-genre vampir sebelumnya. Belum lama komedi horor sejenis, Dark Shadows dan Vamps juga menggunakan sudut pandang tokoh vampir namun tidak banyak melakukan terobosan cerita. Drama vampir terbaik, Interview with the Vampir, lebih menyerupai biografi vampir. Puluhan film vampir lainnya kebanyakan lebih menekankan aspek horor atau aksi dengan terkadang menambahkan bumbu roman. Lalu apa yang membuat in the Shadows begitu istimewa?

Film mockumentary sejenis sudah ada sejak lama, contoh terbaik adalah This is Spinal Tap (1984). Film ini dikemas layaknya film dokumenter sungguhan lengkap dengan wawancara narasumber mengikuti serangkaian tur grup rock legendaris, Spinal Tap. Satu hal yang membuat “film dokumenter” ini bukan film dokumenter adalah grup rock ini adalah rekaan alias palsu. Film ini mengikuti keseharian anggota band selama mereka tur lengkap dengan semua aksi konyol mereka. What We Do in the Shadows menawarkan hal yang kurang lebih sama hanya kali ini kita diajak mengikuti keseharian empat orang vampir yang tinggal bersama.

Salah satu keunikan film ini adalah dua pemain utamanya, Taika Waititi dan Jemaine Clement juga merangkap sutradara dan penulis naskah, bahkan Waititi juga bertindak sebagai produser. Dua otak brilyan ini adalah dibalik sukses film horor komedi segar ini. Waititi bermain sebagai Viago, vampir yang sekaligus pemandu kita dalam film “dokumenter” ini. Sementara Clement bermain sebagai Vladislav, vampir tua yang kehilangan tajinya. Keduanya pun bermain tidak kalah brilyan pula.

Alkisah Viago (379 tahun), Vladislav (862 tahun), Deacon (183 tahun), dan Pityr (8000 tahun) tinggal bersama dalam satu flat besar di Wellington, New Zealand. Baik Viago, Vladislav, dan Deacon menjadi vampir hasil gigitan sang senior Pityr yang wujudnya hampir tidak seperti manusia, tinggal di basement paling bawah serta jarang sekali keluar. Film ini mengisahkan suka duka, keempat vampir tersebut selama tinggal bersama dan bagaimana mereka berpetualang di malam hari, berbaur dengan manusia sambil mencari mangsa, bersosialisasi dengan vampir lain bahkan werewolf. Masalah muncul ketika Nick yang seharusnya menjadi mangsa justru malah digigit Pityr hingga menjadi vampir. Nick membawa perubahan besar bagi mereka berempat, ia tinggal bersama mereka, memudahkan mereka berbaur dengan manusia, dan membawa Stu, seorang manusia juga rekan Nick yang mengenalkan mereka pada teknologi modern.

Baca Juga  Bird Box

Genre komedi dengan kemasan dokumenter seperti ini memungkinkan What Do We Do in The Shadows menggunakan sekaligus mempermainkan semua aturan tentang vampir yang pernah ada di film serta membuat hal baru yang sama sekali belum pernah terpikir sebelumnya. Karakter Pityr jelas-jelas merujuk pada karakter Count Orlock dalam film horor ekspresionis legendaris, Nosferatu. Kekonyolan-kekonyolan yang terjadi spontan begitu saja tanpa mereka sengaja melucu. Bagaimana mereka beradu mulut mengatur jadwal mencuci piring, menyewa pembantu manusia untuk bersih-bersih rumah dengan imbalan kelak akan digigit menjadi vampir, menaruh koran di karpet dan sofa sebelum memangsa korban, dan siapa sangka setelah sekian ratus tahun mereka akhirnya bisa menikmati matahari terbit melalui browsing di internet, serta kelucuan-kelucuan lain yang dijamin tidak akan pernah akan kita lihat sebelumnya.

Ide cerita yang segar, permainan akting yang menawan, serta aksi konyol para vampir menjadikan film horor komedi ini adalah yang terbaik dan paling menghibur sejak beberapa dekade terkahir. What We Do in the Shadows adalah mockumentary terbaik sejak This is Spinal Tap. Film ini dengan gayanya yang unik mampu menampilkan ide-ide liar yang tidak pernah kita lihat di film-film vampir sejenis. Taika Waititi dan Jemaine Clement sebagai sutradara, penulis naskah, dan juga bermain apik di film ini terbukti adalah talenta langka yang patut diperhitungkan di belahan selatan ekuator.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
100 %
Artikel SebelumnyaIt Follows
Artikel BerikutnyaNow Playing
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.