Walt Disney Animation kembali merilis film animasi. Film animasi teranyar yang juga memperingati 100 tahun Disney ini berjudul Wish. Kali ini si puteri Disney diceritakan berasal dari sebuah pulau di Mediterania. Gadis remaja tersebut bernama Asha. Ia melamar menjadi murid Raja Magnifico, pemimpin Kerajaan Rosas yang seorang penyihir. Sang raja memiliki kemampuan mengabulkan harapan para warganya.

Sesuai tradisi Rosas, ketika seseorang berusia 18 tahun, maka ia akan menyebutkan harapan terbesarnya. Harapan tersebut kemudian disimpan sang raja, hingga ia mengabulkannya. Asha kecewa ketika sang raja menolak keinginannya mengabulkan harapan kakeknya yang berusia 100 tahun. Ia makin kecewa ketika mengetahui harapan-harapan warga Rosas hanya sedikit sekali yang dikabulkan sang raja. Harapan yang tertolak juga tak dikembalikan ke pemiliknya. Hingga suatu ketika Asha menyebutkan permohonannya ke bintang-bintang di langit.

Film Wish memiliki tempo yang cepat. Tanpa banyak basa-basi, konflik segera ditampilkan dalam animasi ini, sehingga penonton langsung tahu masalahnya, juga siapa lawan dan kawan dalam cerita ini. Dibandingkan cerita animasi Disney belakangan ini, seperti Frozen dan Raya and the Last Dragon, Wish yang naskah skenarionya dibidani Jennifer Lee dan Allison Moore dengan ide cerita keroyokan dari Jennifer Lee, Allison Moore, Chris Buck, dan Fawn Veerasunthorn ini tergolong ringan dan klise. Temanya umum dan alur ceritanya mudah diprediksi, meski Disney menyiapkan kejutan di beberapa bagian.

Tak banyak hal baru yang ditawarkan di animasi yang disutradarai oleh Chris Buck dan Fawn Veerasunthorn ini. Ceritanya sebagian seperti cuplikan-cuplikan dan tribute untuk film animasi Disney sebelumnya, seperti Puteri Salju dan Tujuh Kurcaci, Bambi, The Jungle Book, Pinocchio, Peter Pan, dan sebagainya. Di film ini juga ada cameo dan referensi seperti Peter Pan, Bambi, dan Marry Poppins.

Baca Juga  Justice League

Disney sendiri tetap konsisten mengusung keberagaman ras dalam film animasi ini. Latar kepulauan Mediterania yang merupakan pertemuan dari berbagai bangsa, pas menggambarkan warga Rosas yang berasal dari berbagai ras. Para pengisi suaranya juga dari berbagai ras. Ariana DeBose mengisi suara Asha. Chris Pine sebagai Magnifico. Pengisi suara lainnya di antaranya Alan Tudyk, Ramy Youssef, dan Evan Peters.

Tak lengkap Disney jika tak ada sidekick hewan peliharaan yang lucu. Di sini ditampilkan si kambing lucu bernama Valentino. Juga, ada berbagai hewan lainnya dari hutan dan dalam istana. Hanya sayangnya suara para hewan tersebut kurang imut menggemaskan.

Poin besar dari Wish adalah musiknya. Lagu-lagu dalam film ini menyelamatkan ceritanya sehingga tidak begitu membosankan. Lagu ini liriknya dikerjakan oleh Julia Michaels dan Benjamin Rice, sedangkan komposisi musiknya digarap oleh Dave Metzger. Lagu-lagu dalam film dibawakan dengan apik oleh para pemeran, terutama Ariana DeBose dan Chris Pine. Lagu-lagu yang indah di antaranya This Wish, At All Costs, dan Welcome to Rosas. Juga ada tembang When You Wish Upon a Star yang merupakan lagu ikonik dari Pinnocchio.

Secara keseluruhan film Wish masih menghibur dengan pesona negeri fantasi, hewan-hewan lucu,  dan lagu-lagu yang indah. Hanya tak ada sesuatu yang baru di animasi ini dan seperti tribute film-film animasi ikonik Disney sebagai bagian peringatan 100 tahun Disney.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThanksgiving
Artikel BerikutnyaSrimulat: Hidup Memang Komedi
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.