Wonder Park (2019)
85 min|Animation, Adventure, Comedy, Family, Fantasy|15 Mar 2019
5.8Rating: 5.8 / 10 from 8,715 usersMetascore: 45
Wonder Park tells the story of an amusement park where the imagination of a wildly creative girl named June comes alive.

Wonder Park merupakan film drama fantasi produksi kolaborasi, Paramount Animation dan Nickelodeon Movies. Terakhir, dua studio ini memproduksi film animasi berkualitas yang juga peraih nominasi Oscar, Jimmy Neutron (2001) yang dirilis nyaris dua dekade lalu. Seperti halnya Neutron, Wonder Park kabarnya juga merupakan pilot project untuk seri animasi televisi yang juga akan dirilis tahun ini. Film ini diisi suara oleh beberapa bintang kenamaan, seperti Jennifer Garner, Matthew Broderick, Mila Kunis, dan Ken Jeong. Persaingan berat di arena animasi yang kini didominasi Pixar dan Walt Disney Animation Studios, lalu apakah Wonder Park bakal bisa bersaing. Rasanya tidak.

Alkisah, June adalah seorang bocah perempuan imajinatif dan ceria, yang bersama ibunya suka merancang taman bermain anak-anak (theme park). Suatu ketika, sang ibu jatuh sakit dan harus dirawat secara intensif di luar kota. June yang kehilangan sang ibu, berubah drastis menjadi pendiam dan meninggalkan semua hobinya. Ketika sang ayah memaksa June untuk pergi ke acara “kamping matematika” bersama semua rekan sekolahnya, ia jsutru menyelinap keluar dari rombongan dan berjalan kembali ke rumahnya. June tanpa ia sadari memasuki sebuah hutan yang berisi taman bermain misterius bernama Wonder Park.

Plot bertema sejenis sudah terlalu banyak variannya. Seorang bocah yang memiliki masalah di alam nyata, namun ia memasuki alam fantasi (atau alam bawah sadar) dan belajar tentang hidup di sana hingga ia bisa bersikap dewasa. Plot “The Wizard of Oz” sejenis, tentu sudah tak terhitung banyaknya, sebut saja Alice in Wonderland lalu sekuelnya, seri Narnia, hingga baru lalu, The Nutcracker and the Four Realms dan The Lego Movie. Namun, tercatat dua film, banyak memiliki kemiripan dengan tema film ini, yakni I Kill Giants dan A Monster Called, walau dua film ini temanya jauh lebih gelap.

Baca Juga  The Huntsman: Winter’s War

Bicara plot dan temanya, I Kill Giants dan A Monster Called jelas terlalu superior jika dibandingkan dengan film ini. Dengan plotnya yang kurang greget, Wonder Park memang terasa sebagai film anak-anak yang menghibur walau sebenarnya punya potensi lebih dari ini. Plotnya justru banyak didominasi aksi-aksi “tak penting” tanpa henti untuk mendukung kisahnya yang tanggung dan tak sulit diantisipasi. Dengan ending yang ditawarkan, plot filmnya juga tampak terasa bermain aman. Tentu bisa dimaklumi, mengingat film ini adalah proyek awal seri animasinya.

Wonder Park tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk temanya yang suram, namun bisa jadi bakal menghibur penonton anak-anak melalui tokoh-tokohnya yang unik dan tone penuh warna. Dengan pencapaian gambar animasi 3D-nya yang jauh dari kata buruk, Wonder Park sudah bisa bersaing dengan film-film besar Disney Animation dan Pixar. Sementara untuk penonton dewasa, film ini terasa sangat datar dan membosankan karena kisahnya yang kurang menggigit. Terbukti ketika saya menonton, beberapa penonton dewasa di bangku depan tertidur, lengkap dengan suara back sound yang khas.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBloodshot – English
Artikel BerikutnyaYowis Ben 2
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.