Wonder Woman (2017)

141 min|Action, Adventure, Fantasy|02 Jun 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 683,107 usersMetascore: 76
When a pilot crashes and tells of conflict in the outside world, Diana, an Amazonian warrior in training, leaves home to fight a war, discovering her full powers and true destiny.

DC Extended Universe (DCEU) kembali tancap gas melalui Wonder Woman agar tak kehilangan momentum bersaing dengan Marvel Cinematic Universe (MCU), sebelum mereka merilis Justice League pada bulan November nanti. Sejauh ini, persaingan secara komersial jika dihitung per film tidaklah buruk, namun secara kritik, DCEU tertinggal sangat jauh dibawah MCU. Wonder Woman jelas tidak memunculkan ekspektasi besar mengingat selama ini film solo superhero wanita selalu gagal, baik komersial maupun kritik (Super Girl, Elektra, & Catwoman). Namun di luar dugaan, DCEU belajar dari pengalaman masa lalu dan kini memberikan sentuhan berbeda. Digarap oleh sineas perempuan, Patty Jenkins, dengan bintangnya Gal Gadot, Wonder Woman mampu menampilkan sesuatu yang berbeda dari film-film DCEU sebelumnya.

Putri Diana seumur hidupnya tinggal di pulau terisolir bernama Amazon, dimana ia belajar banyak hal termasuk seni bertarung, untuk kelak mempersiapkan mereka dari ancaman Dewa Perang, Ares. Suatu ketika, Steve Trevor, seorang mata-mata sekutu, tanpa sengaja masuk ke area pulau tersebut. Steve memberitakan kondisi di dunia luar yang kini tengah dalam peperangan besar (Perang Dunia I). Diana yang yakin hal tersebut adalah ulah Ares, berniat membantu umat manusia menciptakan kedamaian.

Kita telah tahu siapa karakter Wonder Woman (Diana Prince) dan apa yang mampu ia lakukan, melalui Batman v Superman. Dalam film solonya kini, inti kisah filmnya adalah masa lalu dari sosok perempuan super ini hingga ia bisa menjadi seperti sekarang. Ya, kita tahu sekarang ia berasal darimana, namun apa yang disajikan sayangnya masih terlalu minim untuk bisa memberikan latar belakang tentang tokoh ini, kecuali hanya kemampuannya bertarung. Misalnya saja, darimana ia belajar berbagai bahasa asing, bagaimana kesehariannya, hubungan dengan adik ibunya, dan lain sebagainya. Satu teknik montage saja sebenarnya cukup menampilkan hal ini. Hal ini jelas memberi efek besar bagi alur cerita berikutnya. Kita hanya tahu, ia seorang putri yang istimewa dan mahir bertarung. Hanya itu saja. Semua serba terburu-buru hingga ia akhirnya keluar dari Amazon. Oke ini masih bisa ditolerir (mungkin versi extended version-nya bisa menjawab ini semua).

Baca Juga  Emancipation

Satu hal yang menjadi kekuatan terbesar film ini jelas ada pada sosok sang aktris, Gal Gadot. Sempat diragukan pada awal kastingnya, namun Gadot mampu menjawabnya dengan bermain elegan sebagai Wonder Woman. Tidak hanya kecantikannya semata, namun sosok Diana yang tidak pernah melihat dunia luar menjadikan segala aksi, polah, keluguan, dan celoteh sang gadis menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Ini menjadi selera humor dan sisi manusiawi yang tak tampak dalam film-film DCEU sebelumnya. Unsur latar cerita masa PD I membuatnya segalanya juga menjadi lebih menarik. Namun sayangnya, beberapa kejanggalan cerita juga masih terasa amat mengganjal. Dari semua manusia yang melihat aksi super Diana di medan perang, bagaimana mungkin tidak ada yang terkejut dan berujar, “Who is she?”. Aneh sekali.

Wonder Woman merupakan peningkatan besar dari DCEU dengan penampilan memikat dari Gal Gadot, sekalipun dari sisi cerita banyak memiliki kelemahan. DCEU sepertinya kini mencoba pendekatan yang sama dengan MCU, melalui selera humor serta sisi manusiawi yang lebih kental. Setting latar Perang Dunia I juga memberikan nuansa dan mood yang sama dengan kisah Captain America. Tak ada sesuatu yang baru dari sisi aksi dan pencapaian visualnya walau satu sekuen aksi di medan tempur disajikan sangat mengesankan. Namun, siapa yang tak mau melihat Wonder Woman beraksi? Sudah terlalu lama kita tidak pernah melihat sosok superhero perempuan beraksi solo di layar lebar. Wonder Woman mampu menyajikannya dengan mengesankan.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe Lost City of Z
Artikel BerikutnyaWonder Woman Pecahkan Rekor!
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.