X-Men: Apocalypse (2016)

144 min|Action, Adventure, Sci-Fi|27 May 2016
6.9Rating: 6.9 / 10 from 373,401 usersMetascore: 52
In the 1980s the X-Men must defeat an ancient all-powerful mutant, En Sabah Nur, who intends to thrive through bringing destruction to the world.

Setelah dua film superhero besar rilis, Batman v Superman serta Captain America: Civil War, kali ini seri X-Men kembali mencoba unjuk gigi untuk bersaing. Usaha untuk me-reboot franchise X-Men telah dilakukan dengan baik melalui seri sebelumnya X-Men: Days of Future Past. Segala kemungkinan cerita menjadi terbuka dan memungkinkan sama sekali lepas dari alur kisah dan logika seri X-Men awal. Usaha untuk meremajakan seri ini juga kembali tampak di film ini dengan memunculkan karakter-karakter lama di usia remaja mereka.

Alkisah ribuan tahun silam, En Sabah Nur (Apocalypse), mutan tertua telah menguasai dunia layaknya dewa. Dan sebuah peristiwa di masa lalu menggagalkan rencana tersebut dan sang dewa terkubur sekian lama hingga akhirnya bangkit. Pasca kejadian seri terdahulu dikisahkan para tokohnya kini hidup lebih tentram, Charles (Prof. X) bersama Hank (Beast) sukses menjalankan sekolah untuk para mutan, Eric (Magneto) hidup bahagia bersama keluarganya, sementara Raven (Mistique) sibuk membantu rekan-rekan mutannya yang dimanfaatkan manusia. Apocalypse yang secara tak sengaja dibangkitkan kembali membangun kekuatannya untuk menghancurkan dunia dan menggantinya dengan dunia baru.

Dari ringkasan cerita sudah terlihat sekali kisahnya yang amat klise untuk genrenya. Karakter Apocalypse terlalu lemah latar kisahnya sehingga kita tidak mampu bersimpati ke tokoh ini. Siapakah dia dulu sebenarnya? Ini penting karena menjadi motif mengapa ia ingin menghancurkan semuanya. Semua plot yang terkait tokoh ini menjadi lemah motifnya. Dengan segala kekuatan tak terbatas serta abadi, ia sepertinya juga tidak butuh bantuan orang lain dan bisa menjadi dewa tanpa harus menghancurkan dunia. Ternyata abadi tidak membuatnya bijak.

Baca Juga  Night at The Museum: Battle of the Smithsonian

Karakter Apocalypse sepertinya hanya menjadi pemicu untuk menggerakan tokoh-tokoh X-Men untuk menuju ke sebuah titik untuk bisa memulai kembali dengan seri sekuelnya kelak dengan tim lengkap. Kisah filmnya kali ini terlalu mudah diprediksi tanpa ada kejutan sedikit pun. Sekitar 70% filmnya didominasi dialog yang sangat membosankan sebelum aksi klimaks habis-habisan yang itu pun sudah tidak lagi mengejutkan. Dengan belasan karakter super yang membludak justru membuat kisahnya terlihat tidak fokus namun masih tertolong oleh latar cerita dari seri-seri sebelumnya. Bagi penonton yang baru ini menonton seri X-Men ini jelas bakal dibuat kebingungan.

Selain pencapaian visual, X-Men Apocalypse tidak mampu menawarkan apapun yang baru bagi franchise serta genrenya. Para pemain sudah bermain baik, catatan khusus pada Michael Fassbender (Eric) namun talenta mereka terbuang percuma oleh naskahnya yang klise. Beberapa karakter seperti Jean Grey dan Scott muda punya potensi sangat baik di sekuelnya kelak. X-Men Apocalypse dengan tokoh-tokoh ikonik super dan genrenya, jelas mustahil tidak sukses komersil namun kali ini adalah kemunduran jauh untuk franchise X-Men Universe, terutama jika ingin bersaing dengan kompetitor tangguhnya, Marvel Cinematic Universe.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaCivil War Raih USD 940 Juta dalam 3 Minggu!
Artikel BerikutnyaKomedi Gokil 2
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.