Serbuan Film-Film Festival di Bioskop

Pada dua tahun terakhir ini, bioskop kita makin gencar diserbu oleh beberapa film alternatif produksi lokal (independen) yang sebelumnya telah berjaya di berbagai ajang festival film. Momen ini dimotori oleh Siti, kemudian diikuti Sunya, Istirahatlah Kata-Kata, Ziarah, dan baru lalu Turah. Film-film ini dengan gaya dan temanya yang tak lazim jelas tidak disasar untuk penonton awam. Mereka biasanya bermain dengan tema dan isu sosial (masyarakat pinggiran) serta politik, dikemas sederhana dengan bujet yang relatif kecil. Gaya sinematiknya pun memiliki kesamaan, yakni penggunaan shot on location, teknik kamera handheld, long take, penggunaan bahasa lokal/daerah, serta akting pemain yang menonjol. Hasil box-office? Tentu saja tidak. Untuk bisa mendapat angka puluhan ribu penonton mereka harus ngos-ngosan dan sedikit sensasi kadang membantu menaikkan jumlah penonton. Walau begitu, film-film ini tentu bagus bagi penonton film kita sebagai pilihan tontonan alternatif, terlebih diputar di teater yang memiliki standar visual dan audio yang sudah mapan.

Di antara film-film tersebut satu hal yang menarik perhatian saya, adalah film Ziarah. Tidak seperti yang lainnya, film ini menawarkan tema dan kisah yang sama sekali berbeda. Walau masih dibungkus dengan kemasan marginal, namun tema filmnya tidak mengarah ke sini. Dengan kekuatan kisah dan temanya, tidak heran jika film ini mampu meraih beberapa penghargaan lokal dan internasional.

Kupasan Ziarah

Ziarah adalah film garapan B.W. Purwanegara yang telah banyak meraih apresiasi tinggi di level nasional maupun internasional. Film ini sederhananya berkisah tentang seorang nenek tua bernama Mbah Sri yang pergi mencari makam suaminya yang konon gugur di medan pertempuran semasa Agresi Militer II di Yogyakarta. Ziarah dituturkan dengan tempo lambat dengan bahasa visual yang sederhana. Kisahnya berjalan sesaat setelah Mbah Sri pergi dari rumahnya dan sang cucu mulai cemas menanti sang nenek karena tak kunjung pulang. Dua kisahnya disuguhkan secara simultan, yang intinya mereka sama-sama mencari. Sang nenek mencari makam sang suami dan sang cucu mencari sang nenek.

Satu hal yang melemahkan adalah penonton tidak disajikan orientasi tujuan dan arah geografis yang jelas sehingga kesannya adalah mereka mencari tanpa arah dan lokasi yang jelas. Kita tahu mereka bingung, namun kemasan sinematik yang disajikan juga tidak membantu penonton untuk bisa mendapat sebuah petunjuk tentang mengapa, dimana, serta berapa jauh jarak satu lokasi ke lokasi lainnya. Mereka hanya diberi petunjuk ke desa atau dusun anu, ke arah anu, dan sebagainya. Dimensi jarak (lama perjalanan) penting untuk bisa dikemas dengan baik secara visual, melalui durasi shot, teknik editing, montage, atau lainnya. Alhasil, penonton dibuat disorientasi dan lelah. Penggunaan aspek metafisik, berupa keris, meski unik memang, namun tidak mampu memberi greget lebih. Si nenek berjalan mengikuti ke mana arah keris menunjuk, namun kembali dimensi arah dan jarak mementahkan semua, tanpa kita bisa diajak masuk lebih dalam ke cerita filmnya.

Satu-satunya yang membuat saya bisa masuk ke dalam cerita adalah rasa empati melalui ekspresi sang nenek. Entah sang nenek bisa berakting atau tidak, yang jelas ia berperan pas dalam film ini. Ekspresi si nenek begitu natural seperti orang tua kebanyakan, tanpa ada sesuatu yang dilebih-lebihkan. Ekspresi kekecewaan dan kelelahan bisa terpancar dari wajah sang nenek. Namun, lagi-lagi kemasan visual kerap tidak bisa membuat sebuah momen menjadi lebih dramatik. Contohnya, satu adegan dialog nenek dengan perempuan tunanetra, ini mestinya bisa dibuat lebih intim dengan dialog dan ekspresi yang lebih kuat, tanpa hanya (adegan penting tersebut) dibincangkan melalui dialog setelahnya. Satu momen dramatik yang lemah lagi-lagi dilakukan pada klimaks filmnya. Di makam sang suami, sang nenek tergolek lemas, dengan hanya shot mengambil wajah sang nenek. Momen dramatik yang begitu menyentuh ini rasanya bisa dikemas dengan bahasa visual yang lebih kuat, tanpa terasa datar dengan mengandalkan ekspresi sang nenek.

Ziarah memiliki konsep ide yang sangat istimewa dengan penampilan penuh empati dari Ponco Sutiyem, namun film ini tidak memiliki konsistensi gaya sinematik yang mendukung kekuatan tema filmnya. Sudut dan arah pengambilan kamera, tata cahaya, screen directing, sangat terasa sekali tidak konsisten. Ending menggantung dari subplot sang cucu bermakna sangat baik yang menandakan “lost generation” antara generasi tua dan sekarang. Kisah sang nenek sendiri memberikan pesan mendalam tentang kesetiaan, ketulusan, serta sikap legowo dalam menerima sebuah kenyataan pahit (suaminya menikah lagi). Walaupun sayangnya, pada sebuah adegan sang cucu tengah menjelaskan via telpon kepada istrinya (tentang perempuan yang tewas gantung diri) sehingga ini memberi petunjuk gamblang pada penonton tentang akhir kisah filmnya. Jika film ini dikemas melalui bahasa sinematik serta penuturan cerita yang lebih memadai tentu hasilnya akan jauh lebih istimewa. Namun, bagaimana pun juga pencapaian Ziarah memang patut kita apresiasi. Namun, apakah film ini sudah diapresiasi secara maksimal hingga memiliki dampak yang luas bagi industri film alternatif atau industri film kita secara umum? Rasanya belum.

Baca Juga  Wonder Woman: Kekuatan yang menginspirasi

Bioskop Alternatif

Sekitar lebih dari satu dekade lalu, saya bertemu dengan seorang bule asal Eropa (saya lupa dia dari mana) yang rupanya juga penikmat film. Dia berbincang lama dengan saya tentang banyak hal tentang film. Dia menanyakan kepada saya, “Di mana saya bisa menonton film-film produksi lokal?”. Tentu saja di bioskop, jawab saya. Ternyata bukan itu yang ia maksud. Ia rupanya sudah menonton beberapa film kita di bioskop yang menurutnya tidak bermutu. Saya juga tidak menanyakan film apa yang ia tonton, namun ia menjelaskan bahwa satu film yang ia lihat adalah komedi yang menurutnya sama sekali tidak lucu. Aneh ujarnya lagi, penonton sering kali tertawa dengan aksi polah pemain bukan karena kisahnya. Hal yang sama pun juga berlaku untuk film barat, lanjutnya. Saya meng-iyakan saja dan memang faktanya penonton kita memang seperti itu. Rupanya, yang dimaksud teman saya adalah film indie lokal. Wah, sulit jawab saya, film-film tersebut biasanya hanya diputar di festival film dan itu pun tidak setiap waktu ada. Saya hanya menggeleng ketika ia bertanya tentang keberadaan bioskop alternatif (art house). Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi setelahnya.

Bioskop alternatif rasanya sudah sejak beberapa dekade lalu diwacanakan, namun tidak pernah ada tindak lanjut hingga kini. Film alternatif selama ini, biasanya hanya bisa diakses melalui ajang festival serta screening reguler yang diadakan komunitas, institusi, atau kampus. Jika tidak menumpang di bioskop, film ini hanya diputar di aula, auditorium, pendopo, atau bahkan ruang terbuka yang tentunya tidak memiliki standar audio visual yang memadai layaknya bioskop. Belum lagi publikasi terbatas yang biasanya hanya mengandalkan sosmed. Penonton pun juga terbatas hanya kalangan yang sama berbasis pada komunitas, baik umum maupun kampus yang orangnya itu-itu saja. That’s how it is.

Bioskop umum bukan solusi yang tepat untuk film alternatif. Ya, tentu saja pembuat film bisa mendapatkan sedikit keuntungan jika filmnya laku, dan juga gengsi. Namun, untuk target penontonnya, film alternatif tidak akan bisa diapresiasi secara maksimal. Saya masih ingat, ketika menonton Opera Jawa dan Under the Tree karya Garin Nugroho di XXI, separuh penonton meninggalkan ruangan sebelum film selesai, dan hanya menyisakan beberapa gelintir orang saja, dan itu pun dengan mengguman, “Ini film apa sih?”. Walau kasus ini jelas tidak bisa disamakan dengan film alternatif lain, namun ini menandakan bahwa bioskop umum adalah bukan ruang yang ideal untuk film alternatif.

Bioskop alternatif adalah wadah yang sempurna bagi film alternatif karena disinilah para penonton sudah tersaring. Bioskop alternatif yang saya maksud di sini adalah tempat menonton yang layak, secara audio dan visual dengan lokasi yang permanen layaknya bioskop umum. Penonton akan sadar betul apa yang mereka tonton dimana mbak penjual tiket tidak perlu memberi info kepada calon pembeli bahwa filmnya adalah hitam putih atau film dokumenter, dan sebagainya. Bioskop alternatif adalah wadah dimana film alternatif berkualitas, seperti Siti, Ziarah, dan Turah bisa dibincangkan lebih intensif oleh orang-orang yang berada di kolam yang sama. Komunikasi antara pembuat film dengan penonton bisa lebih bergairah. Penikmat film umum, termasuk seperti rekan bule saya di atas, bisa sewaktu-waktu nyebur ke dalam kolam ini kapan pun mereka mau. Bioskop alternatif jelas bisa pula mengurangi persaingan tidak sehat antara penonton mainstream dan non-mainstream yang memang jelas-jelas berbeda karakter. Saya tidak mau berbicara panjang masalah pendanaan, pihak yang mengurus, atau ketidakberpihakan pihak otoritas, dan sebagainya. Namun, satu hal, tanpa adanya bioskop alternatif rasanya bakal sulit bagi film alternatif untuk bisa berkembang lebih subur di negeri ini.

Artikel SebelumnyaFairy Tail : Dragon Cry
Artikel BerikutnyaSpiderman Rilis Poster Baru di Cina
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.