Zom 100: Bucket List of the Dead adalah film komedi bertema zombi produksi Jepang yang diadaptasi dari seri anime bertitel sama. Film ini digarap oleh Yûsuke Ishida dengan dibintangi oleh Eiji Akaso, Mai Shiraishi, dan Shuntarô Yanagi. Film berdurasi 128 menit ini dirilis Netflix baru lalu. Apakah film ini mampu memberikan suntikan baru bagi subgenrenya, seperti film-film zombi Korea Selatan beberapa tahun ini?

Akira Tendo (Akaso) adalah seorang pemuda yang berambisi untuk bekerja kantoran. Setelah bekerja di sebuah perusahaan, Akira mendapat tekanan yang luar biasa di tempat kerjanya yang diperlakukan bak sapi perah. Siapa sangka, bencana zombi melanda Jepang, Akira pun terbebas dari rutinitasnya dan kini bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Ia pun membuat “wish list” berisi 100 hal yang harus ia lakukan sebelum menjadi zombi. Dalam petualangannya, ia bertemu sahabat SMU-nya, Kenichiro serta seorang gadis muda tangguh, Shizuka (Shiraishi).

Tulisan ini tidak mengarah ke seri anime yang menjadi sumber adaptasinya melainkan film-film feature sejenis sebagai pembandingnya. Ratusan film zombi telah diproduksi dan Zom 100 memang memiliki sentuhan berbeda, terutama dari sisi komedinya. Tone film ini nyaris mirip dengan Zombieland. Unsur humor begitu dominan sehingga jangan berharap kita bakal menemui momen-momen dramatik, seperti halnya seri All of Us Is Dead atau aksi-aksi serius macam Dawn of the Dead. Selipan humor nyaris ada dalam semua pengadeganannya yang melemahkan sisi ancaman dan dramatiknya. Intensitas ketegangan pun sungguh sulit kita rasakan. Belum lagi sifat alami sumbernya (anime) yang seringkali menampilkan aksi-aksi absurd di luar kewajaran. Sekuen “hiu mutan” pada aksi klimaksnya menjadi penanda tegas. Untuk visualisasi anime rasanya memang pada porsinya tapi untuk versi live action.. a bit too much. Ini mengingatkan banyak pada seri Sharknado yang super konyol.

Baca Juga  Bohemian Rhapsody

Zom 100: Bucket List of the Dead menyajikan sisi humor yang menghibur dengan gaya absurd khas anime, namun untuk subgenrenya tak banyak eksplorasi baru yang mendalam. Potensi premisnya sesungguhnya sangat menjanjikan. Bagi yang pernah bekerja kantoran seperti Akira, pasti tahu betul rutinitas kerja yang repetitif dan melelahkan. Sistem kapitalisme membuat semua pekerja layaknya zombi. Lepas dari satu sistem, Akira pun terjebak dalam sistem kapitalisme lainnya. Walau konsep ini disinggung dalam plotnya, namun tidak mengeksplorasi tema ini secara mendalam. Hal serupa juga disinggung Zombieland dan secara simbolik dalam Dawn of the Dead. Shaund of the Dead hingga kini masih berstatus film komedi zombi terbaik dengan konsep keluarga dan persahabatan yang kental. Walau tak sekuat film-film pesaingnya dari Korea Selatan, setidaknya Zom 100 menjadi tontonan menghibur fans subgenrenya dan tentu saja penikmat seri anime-nya.

1
2
PENILAIAN KAMI
overall
70 %
Artikel SebelumnyaRiver Wild
Artikel BerikutnyaTeenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses