Tolong Saya!
Tolong Saya! memiliki gagasan segar dan keberanian menolak formula horor pada umumnya di Indonesia, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan penggambaran tepat, dialog menyentuh, serta ruang loop hole yang teramat banyak.
The Period of Her | REVIEW
The Period of Her (2026), yang dirangkai melalui benang merah “menstruasi” sebagai pengalaman emosional, batiniah, sekaligus sumber luka dan lara dalam kehidupan perempuan. Dari sisi naskah dan visual, film ini masih menyisakan ruang untuk dikembangkan dan dipertajam. Not Dead Enough (2026) tampil sebagai bagian paling absurd sekaligus menghibur.
Primate | REVIEW
Melalui ancaman dan potensi sosok antagonisnya, Primate membawa genre horor ke bentuk dasarnya, yakni rasa takut absolut, aksi nonstop efektif, gore maksimal, dan to the point tanpa embel-embel sentuhan humanis.
Mercy | REVIEW
Melalui aksi nonstop dan kombinasi genre yang segar, Mercy merupakan tontonan menghibur dengan pesan aktual untuk era kini.
The Rip | REVIEW
Melalui sisi ketegangan dan rasa penasaran nonstop, The Rip menyajikan crime thriller solid dengan kejutan twist dan penampilan memikat sederetan bintangnya.
28 Years Later: The Bone Temple | REVIEW
28 Years Later: The Bone Temple merupakan penyempurna seri sebelumnya dan potensi bagi kisah berikutnya, melalui eksplorasi dan kedalaman ceritanya.





